Permintaan ikan wader pari (Rasbora argyrotaenia) kian tinggi. Dari satu usaha menengah kecil mikro (UMKM) di Kota Bekasi tercatat kebutuhan mencapai 100 kilogram per bulan, dan angka itu belum terpenuhi. Jika ditarik ke skala lebih luas, kebutuhan untuk memasok pasar Yogyakarta dan Jakarta diperkirakan jauh lebih besar. Di Yogyakarta konsumsi wader pari sudah menjadi kebiasaan lokal. Ketersediaan produk olahan seperti sambal dan camilan mendorong permintaan rutin. Seorang pengolah mampu menghabiskan sekitar 50 kg wader pari setiap bulan.
Sayangnya, tingginya permintaan selama ini masih banyak bergantung pada tangkapan alam. Pengamatan lapangan menunjukkan penurunan populasi wader pari di sungai-sungai Yogyakarta pada periode 2005–2013. Kondisi ini mendorong peneliti dan praktisi untuk mengalihfokuskan upaya pada budidaya sebagai solusi pelestarian sekaligus pemenuhan pasar. Sejak 2014 perhatian diarahkan pada penataan indukan dan studi perkembangbiakan. Kolaborasi dengan peternak baru intensif dijalankan sejak 2019 untuk memperbanyak benih dan meningkatkan produksi.
Budidaya wader pari relatif sederhana dan tidak memerlukan adaptasi khusus. Praktik di lapangan memperlihatkan model kolam kecil yang efektif. Dua kolam ukuran 3 m x 3 m dengan kedalaman 25—30 cm sudah cukup untuk usaha skala petani mitra. Satu pemijahan di kolam dapat melibatkan 125 ekor ikan. Susunan idealnya 50 betina dan 75 jantan karena jantan cenderung lebih kecil dibanding betina. Ikan siap memijah minimal saat berumur empat bulan. Namun pemijahan optimal terjadi pada umur tujuh bulan.
Potensi telur per pemijahan cukup besar hingga 200.000 telur. Meski keberhasilan menetas dan bertahan umumnya berada di kisaran 10%, berarti menghasilkan sekitar 20.000 bibit per sekali pemijahan. Di alam liar wader pari rata-rata memijah dua kali setahun. Sementara dalam kondisi budidaya pemijahan dapat terjadi sekali sebulan sehingga produksi bisa distabilkan untuk kebutuhan komersial.
Panen perdana bisa dilakukan pada umur tiga bulan untuk bahan keripik camilan. Sementara pada umur 6—7 bulan ukuran ikan sudah sesuai untuk diolah menjadi sambal. Rasio konversi jumlah menyebutkan satu kilogram berisi 200—300 ekor.
Keberhasilan budidaya menuntut ketelatenan. Terutama karena benih sangat kecil pada fase awal, seringkali seukuran rambut sehingga mudah lolos dari jaring. Namun tantangan ini tidak mengurangi nilai konservasi kegiatan budidaya. Banyak pembudidaya juga rutin melakukan pelepasliaran untuk menjaga populasi alam.
Model pemeliharaan yang ideal merekomendasikan kolam berarus atau sistem air mengalir. Debit air sekitar 0,05 liter per detik cocok untuk pemeliharaan indukan. Sementara pengaturan debit ke 0,017 liter per detik dapat merangsang pemijahan. Sarana pendukung sederhana seperti papan ijuk sebagai substrat tempat meletakkan telur banyak dipakai.
Untuk meningkatkan efisiensi pemijahan, sedang dikembangkan juga sistem akuarium bertingkat. Tingkat pertama untuk pemeliharaan indukan, tingkat kedua khusus pemijahan, dan tingkat ketiga untuk memelihara larva. Larva umumnya dapat dipindahkan ke kolam pascapijah setelah berumur dua pekan. Padat tebar di media awal dilaporkan ideal mencapai 60 ekor per liter. Kemudian setelah sebulan dipindahkan ke kolam pembesaran dengan padat tebar optimal 5—10 ekor per liter.
Budidaya wader pari membawa dua misi sekaligus yaitu menjaga keberlanjutan spesies di habitat alaminya dan membuka sumber pendapatan bagi pembudidaya. Nilai ekonominya cukup menarik. Pada 2021, harga jual bisa mencapai sekitar Rp50.000 per kilogram—sekitar dua kali lipat harga ikan lele—menjadikannya sumber pemasukan yang menggiurkan bagi pembudidaya yang berhasil menata rantai produksi dari benih hingga produk olahan.
Wader pari berpeluang menjadi komoditas perikanan lokal yang berkelanjutan. Alasannya karena memenuhi selera pasar sekaligus menjaga ekosistem sungai dari tekanan penangkapan berlebih.
