Trubus.id—Santer terdengar antara pupuk organik, hayati dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Lalu apa perbedaan keduaanya? Pupuk organik berasal dari jasad hidup, yang bahan bakunya mengandung unsur karbon (C), misalnya limbah pertanian, tanaman pupuk hijau, dan pupuk kandang.
Pupuk organik mampu memperbaiki sifat fisik tanah antara lain tekstur tanah. Keremahan tanah meningkat sehingga menunjang perkembangan akar, mempermudah drainase, dan memperbaiki aerasi tanah.
Pupuk hayati dihasilkan oleh mikroorganisme misalnya rhizobium di dalam bintil akar tumbuhan legiminosa seperti kedelai. Rhizobium mengikat nitrogen dari udara dan menghasilkan nitrat. Nitrat itu yang dipertukarkan dengan tanaman inang untuk mendapatkan karbohidrat sebagai sumber energinya. Proses berlaku secara simbiosis mutualisme (saling menguntungkan).
Pupuk hayati terkadang hanya mengandung sedikit nutrisi. Oleh karena itu sebaiknya tambahkan pupuk anorganik untuk mencapai produksi panen tinggi dan kualitas yang baik. Berikan pupuk dalam jumlah cukup sehingga tanaman tidak menguras hara makro dan mikro dari dalam tanah.
ZPT dihasilkan oleh tanaman sendiri tapi bila dianggap kurang maka dapat ditambah dari luar. Tugasnya adalah untuk memicu dan memacu suatu proses di dalam tanaman. Tiap ZPT memiliki cara aplikasi tersendiri.
Misalnya untuk ZPT yang mempengaruhi meristem atau titik tumbuh di ujung ranting sebaiknya disemprotkan langsung ke sasaran. ZPT untuk memperbaiki fisika atau kimia tanah sebaiknya disemprotkan ke tanah.
.
