Saturday, January 24, 2026

Permintaan Alpukat Melonjak, Pekebun Belum Mampu Penuhi Pasokan

Rekomendasi
- Advertisement -

Permintaan alpukat asal Indonesia terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun luar negeri. Namun, para pekebun masih menghadapi kendala pasokan yang membuat sebagian peluang penjualan harus dilewatkan.

Menurut pekebun alpukat di Desa Palis, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Lukman Satriawan, ia pernah mendapat permintaan dari salah satu distributor di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, sebanyak 2 ton per pekan. Sayangnya, permintaan tersebut belum bisa ia penuhi.

“Saya terpaksa menolak karena tidak mampu saya penuhi,” ujar Lukman. Kapasitas produksi kebunnya saat ini baru mencapai 1 ton per pekan. Pasokan itu berasal dari sekitar 200 pohon alpukat varietas miki dan AK47 yang ia tanam di lahan miliknya.

Meski begitu, hasil panen Lukman memiliki kualitas unggul. Ia bahkan pernah bekerja sama dengan perusahaan distributor lain yang memasarkan produknya ke Ranch Market dengan kemasan eksklusif. “Semua sold out sangat cepat,” tambah pemilik Kebun Akhir Zaman (KEBAZ) itu.

Untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat, Lukman kini mulai menerapkan program pengaturan pembungaan dan panen secara berjadwal mingguan. Dengan cara itu, ia dapat menjaga kontinuitas pasokan ke berbagai toko buah dan juga melayani anggota komunitas Alpukat Nusantara (Alnusa).

Sementara itu, pekebun alpukat di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Agus Riyadi, rutin memasok sedikitnya 5 ton alpukat per minggu ke Jakarta. Ia menanam dan memasarkan beberapa jenis alpukat unggulan seperti pangeran, wina, sicantik, dan kalibening.

Menurut Agus, permintaan pasar tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di sekitar Jawa Tengah. “Kebutuhan pasar alpukat selalu ada. Namun, kadang terkendala pasokan,” ujarnya.

Keterbatasan pasokan, terutama pada musim hujan, menjadi tantangan utama bagi petani. Dalam kondisi tertentu, Agus hanya mampu menyediakan sekitar 200 kilogram alpukat per hari. Situasi itu membuatnya sempat menolak permintaan ekspor ke Dubai pada 2023.

“Sebenarnya peluang itu sayang untuk dilewatkan, tapi pasokan yang dibutuhkan cukup besar—dua ton per dua pekan, dan harus dikirim secara kontinu,” ungkapnya.

Tingginya permintaan dan keterbatasan pasokan menunjukkan potensi besar bagi pengembangan agribisnis alpukat di Indonesia. Dengan manajemen budidaya yang lebih baik, dukungan teknologi, serta kerja sama antarpetani, peluang ekspor alpukat Nusantara di masa depan terbuka semakin lebar.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img