Trubus — Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) Badan Pusat Statistik 2018 menyebutkan jumlah petani berusia lebih dari 45 tahun mencapai 64,2%. Usia itu tergolong usia tidak produktif untuk sektor pertanian. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan dengan 2013 yang hanya 60,79%. Itu berarti jumlah petani berusia lebih dari 45 tahun meningkat 3,41% dalam kurun waktu 5 tahun.

Bagaimana ketahanan pangan jika mayoritas petani makin tua? Siapa yang mesti bertanggung jawab? Pada ambang petang wartawan Trubus Imam Wiguna menemui Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. yang menjabat kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian. Kondisi itu mengundang keprihatinannya. Yang lebih memprihatinkan lagi, petani yang berusia lebih dari 45 tahun itu juga berpendidikan rendah.
“Tidak mungkin pembangunan pertanian Indonesia diserahkan kepada 62% orang tua dan berpendidikan rendah. Kondisi itu harus diantisipasi dan dicari solusinya,” tutur Dedi. Berikut hasil wawancara dengan Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian di sela-sela kesibukannya menjalankan tugas.
Apakah kondisi itu dapat mengancam ketahanan pangan Indonesia?

Sumber daya manusia (SDM) pertanian yang produktif, andal, dan berkualitas, salah satu komponen keberhasilan ketahanan pangan di Indonesia. Namun, ketahanan pangan itu tidak hanya tergantung pada petani. Ada juga faktor lain, seperti pembangunan infrastruktur dan inovasi teknologi pertanian Indonesia. Kedua faktor itu juga berpengaruh terhadap produksi, swasembada, dan ketahanan pangan kita. Namun, peran SDM juga tak kalah penting. Oleh karena itu, jika ketersediaan SDM pertanian yang produktif semakin sedikit, tentunya akan berpengaruh pada ketahanan pangan.
Apa yang membuat generasi muda enggan terjun di sektor pertanian?
Anak muda kita lebih suka terjun di sektor lain, seperti sektor jasa dan industri, misalnya, karena lebih menjanjikan, penghasilannya lebih besar, dan dari status sosial lebih keren sehingga lebih membanggakan. Adapun sektor pertanian dianggap berpenghasilan kecil, tidak bergengsi, dan kotor. Itulah yang harus kita atasi, bagaimana caranya agar sektor pertanian itu menarik bagi para kawula muda. Oleh karena itu, bisnis pertanian harus menguntungkan dan pendapatannya besar. Pertanian juga jangan lagi berasosiasi dengan dekil, kotor, becek, dan sebagainya. Pertanian itu harus modern, keren, salah satunya dengan penggunaan alat dan mesin pertanian, seperti menggunakan pesawat tanpa awak, pengendalian traktor jarak jauh.
Pihak mana saja yang seharusnya bertanggung jawab dalam mencetak generasi muda pertanian Indonesia?
Semua aspek tentunya punya tanggung jawab dalam menyiapkan generasi muda pertanian Indonesia. Salah satunya BPPSDMP. Oleh sebab itu, kami membuat program-program yang dapat memotivasi dan menyemangati generasi milenial agar menyukai dan mencintai dunia pertanian. Salah satunya dengan membangun inovasi-inovasi untuk mengembangkan teknologi pertanian. Inovasi teknologi pertanian itu diharapkan dapat menarik pemuda zaman sekarang untuk terjun ke dunia pertanian.
Program apa saja yang dilakukan BPPSDMP untuk menumbuhkan minat generasi muda terjun di bidang pertanian?
Ada beberapa program BPPSDMP untuk membangkitkan kesadaran generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Salah satunya program beasiswa pendidikan di enam Politeknik Pembangungan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI). Program itu mendidik generasi muda menjadi job creator dan job seeker di bidang pertanian. Menjelang lulus mereka akan diuji kompetensinya melalui sertifikasi kompetensi. Dengan begitu setelah lulus mereka menjadi lulusan yang berkompeten di bidangnya. Bantuan yang diberikan yaitu beasiswa selama mengikuti pendidikan, asrama selama 1 tahun, dan bantuan pendidikan lain saat mengikuti proses pembelajaran, praktik, praktik kerja lapangan (PKL), dan tugas akhir.
Adakah program lain untuk merangsang generasi muda agar menggeluti pertanian?
Program lainnya adalah Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Tujuan program itu untuk menumbuhkan minat dan semangat wirausaha pada generasi muda pertanian. Program itu terbuka bagi peserta yang berminat menjadi wirausaha pertanian yang dapat melakukan usaha bersama dengan masyarakat atau agrososiopreneur. Alumni perguruan tinggi pertanian, siswa Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP), Pemuda Tani, dan Santri Tani yang lolos seleksi panitia.
Apa kegiatan utama peserta program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian?
Dalam program itu peserta mengusulkan usaha dengan menyusun rencana bisnis (business plan) dan melakukan usaha sesuai rencana bisnis secara berkelanjutan. Bantuan yang diberikan dalam program itu adalah bantuan usaha beasiswa bagi siswa dan bantuan operasional usaha bagi alumnis perguruan tinggi, Santri Tani, dan Pemuda Tani. Program PWMP berlangsung sejak 2016. Hingga kini sudah ada 1.015 kelompok yang tersebar di perguruan tinggi mitra, Polbangtan, SMKPP, dan pondok pesantren. Hasil akhir kegiatan itu adalah menjadikan wirausahawan sukses di bidang pertanian.***
