Thursday, May 14, 2026

Bisnis Bibit Kurma

Rekomendasi
- Advertisement -

Menggairahkan masyarakat untuk berkebun kurma. Alwi Rahmatullah menyediakan bibitnya.

Trubus — Saat teman-teman kuliahnya lulus dan bekerja, Alwi Rahmatullah masih tercatat sebagai mahasiswa. Ia terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau, pada 2012. Namun, ia baru wisuda pada 2019. Itu berarti masa kuliah Alwi mencapai 7 tahun.

Alwi Rahmatullah, S.P., aktif mengembangkan kurma di Provinsi Riau.

Pria 25 tahun itu terpaksa menunda lulus karena sibuk mengelola bisnis kurma. Alwi membuka pembibitan kurma bernama Kurmaholic pada 2017. Nurseri itu menjual biji dan bibit berbagai varietas kurma yang berpotensi dikembangkan di Indonesia, seperti barhee, um ed dahan, braim, dan khenaizi.

Impor buah muda

Alwi memperoleh bibit hasil perbanyakan kultur jaringan dari Date Palm Development (DPD) di Inggris. Tinggi bibit 50—70 cm. Dalam sebulan Alwi menjual rata-rata 100 bibit kurma dengan harga mulai Rp100.000 hingga jutaan rupiah per bibit. Harga jual bervariasi tergantung jenis dan ukuran tanaman. Sekadar contoh harga sebuah bibit jenis barhee setinggi 50 cm hanya Rp150.000. Namun, bibit yang sama setinggi 150 cm mencapai jutaan rupiah.

Peminat bibit kurma dari berbagai kota di Indonesia. Adapun permintaan biji kurma tidak menentu. Kesibukan lain, Alwi juga mengimpor kurma muda fase khalal, terutama jenis barhee, dari berbagai negara, seperti Sudan, Yordania, Namibia, dan Mesir. Ia sengaja mengimpor kurma muda segar sebagai edukasi agar konsumen di tanah air terbiasa mengonsumsinya. Harap mafhum, selama ini konsumen kurma di Indonesia biasanya mengonsumsi kurma kering.

Di negara asalnya buah kurma dibiarkan matang dan mengering di pohon. Menurut Alwi di Indonesia sulit memperoleh kurma kering di pohon. Iklim Indoensia tropis, berbeda dengan iklim asal daerah kurma yang kemaraunya bisa sampai 11 bulan. Tingkat kelembapan udara Indonesia juga tinggi sehingga buah sulit matang dan mengering di pohon.
“Sebelum matang, buah akan rontok. Oleh karena itu, sebaiknya panen saat buah masih mengkal, tapi sudah manis jika dikonsumsi,” kata pria kelahiran Sentajo, Kabupaten Kuantan Sengingi, Provinsi Riau itu. Dalam sekali impor Alwi bisa mendatangkan 2—3 ton kurma muda per pekan. “Biasanya setiap kali kurma impor itu tiba di Jakarta, semua langsung habis,” ujar pria 25 tahun itu.

Pasalnya, sebelum mengimpor ia membuka pesanan kepada konsumen langsung atau para distributor. Jadi, jumlah buah yang diimpor berdasarkan pesanan. Alwi menuturkan saat ini permintaan kurma muda sangat tinggi. “Biasanya konsumen mengonsumsi kurma muda untuk kesehatan, seperti program agar cepat hamil,” kata pria kelahiran 11 Januari 1994 itu. Itulah sebabnya kurma muda laku keras meski harga jualnya tergolong premium.

“Harga jual di tingkat konsumen biasanya sekitar Rp250.000—Rp300.000 per kg,” kata Alwi. Kesibukan itulah yang membuat Alwi “terlambat” lulus. Harap mafhum, terkadang ia lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta untuk mengurus usaha. “Kadang-kadang saya 3 pekan di Jakarta, 1 pekan di Pekanbaru. Pada 2019 saya lebih fokus menyelesaikan kuliah dan sekarang sudah lulus,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.

Kebunkan kurma

Sebelum mengimpor, Alwi lebih banyak kesibukan di kebun. Pada Oktober 2016 ia bersama Indonesian Date Palm Association (IDPA) Riau menanam 4 pohon kurma jenis KL-1 di kebun penelitian dan pengembangan (litbang) Indonesian Date Palm Association (IDPA) Riau di Pekanbaru, Riau. KL-1 adalah salah satu varietas kurma yang adaptif di negara tropis. Beberapa pekebun kurma di Thailand mengembangkan varietas itu secara komersial untuk menghasilkan buah kurma segar.

Bibit kurma produksi nurseri Kurmaholic milik Alwi Rahmatullah.

Dari keempat pohon itu salah satu di antaranya berbunga betina dan berbuah pada 2018. Adapun 3 pohon lainnya pohon jantan. Dalam satu pohon muncul lima tandan buah kurma. Kurma KL-1 yang berbuah di kebun litbang IDPA Riau itu lebih genjah dibandingkan dengan KL-1 di negara asalnya di Thailand. Umur pohon yang berbuah baru berumur 20 bulan setelah tanam. Pohon itu dari bibit asal biji berumur sekitar 1 tahun.

“Jadi, total umurnya kurang dari 3 tahun kalau dihitung sejak semai biji,” tutur Alwi yang juga menjadi Ketua IDPA Pusat. Menurut Alwi buah KL-1 betina yang muncul pada 2018 sebetulnya buah dari bunga kedua. Pada 2017 tanaman anggota famili Arecaceae itu berbunga perdana. “Namun, ketika itu kami belum mengetahui jika itu bunga betina sehingga luput dari penyerbukan,” ujarnya.

Akibatnya buah yang muncul saat itu hanya sedikit, berukuran kecil, dan hampir semuanya gugur. Alwi menuturkan di negara asalnya, KL-1 biasanya berbuah perdana pada umur setelah 3—4 tahun. Kurma yang berbuah di kebun litbang IDPA Riau itu menjadi bukti bila tanaman yang banyak tumbuh di kawasan Timur Tengah itu adaptif di daerahnya. Sejak itulah Alwi makin getol mengampanyekan peluang berkebun kurma di tanah air.

Ia juga menanam 15 pohon kurma jenis barhee di kebun pribadi yang berlokasi di belakang kampus Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bibit yang digunakan hasil kultur jaringan produksi Date Palm Development (DPD) di Inggris. Saat ini umur pohon baru 1—2 tahun. “Mungkin 1—2 tahun lagi siap dibuahkan,” tuturnya. Pada April 2018 ia bersama tim IDPA Riau menyelenggarakan festival dan seminar internasional kurma. (Imam Wiguna)


Artikel Terbaru

PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Penggerak Solusi Nasional dalam Rapat Umum Anggota 2026

Trubus.id – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan peran strategis filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional dalam Rapat...

More Articles Like This