Thursday, August 18, 2022

Pintar Merawat Rimpang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Temulawak yang bertunas sudah berkurang senyawa aktifnya.Tanaman temulawak dapat dipanen pada umur 9 —10 bulan setelah tanamRimpang bertunas menghabiskan energi untuk pertumbuhan sekaligus mengurai senyawa aktif kurkumin dan xanthorrizol. Akibatnya jika kita tetap ”nekad” mengonsumsi rimpang itu, khasiat pun berkurang. Tunas yang muncul sebulan setelah panen itu upaya tanaman anggota famili Zingiberaceae beregenerasi. Herbalis di Jakarta, Drs Med Ir D’Hiru MM, mengatakan, “Hindari memberikan rimpang temulawak bertunas untuk pengobatan karena pasien sedikit merasakan manfaatnya.”

Bila tetap memanfaatkan, maka untuk mencapai efek serupa bila kondisi tidak bertunas, pasien akan membutuhkan jumlah rimpang lebih banyak. Untungnya mesti konsumsi berlebih, rimpang temulawak tidak menimbulkan efek samping. Selain menghindari rimpang bertunas, waspadai pula bahaya dari penyimpanan yang salah. Sumali menuturkan bahwa menyimpan rimpang segar lebih dari sebulan pada udara lembap justru mengundang cendawan, berbau apak, berkerut, dan kempis.

Indikasi cendawan datang, bila permukaan kulit rimpang berubah putih. Oleh karena itu hindari mengonsumsi temulawak bercendawan karena toksik. Menyimpang rimpang segar di dalam lemari es bukan solusi pas. Sebab, suhu dingin lemari es membuat kadar air rimpang menyusut sehingga mengerut. Penyimpanan terbaik adalah dalam bentuk kering alias simplisia atau bubuk yang awet hingga 6 bulan. Soal khasiat? Kering atau segar sama saja asalkan pengolahan benar. (Susirani Kusumaputri)

 

Dari Ladang Hingga Simpan

  1. Pekebun panen temulawak pada umur 9-10 bulan, daun menguning, layu, dan akhirnya kering. Ukuran rimpang maksimal dan bertekstur keras. Sebaiknya panen pada musim kemarau karena lebih banyak mengandung senyawa aktif.
  2. Bongkar seluruh tanaman bersama dengan rimpangnya dengan hati-hati. Hindari rimpang terpotong karena menurunkan kualitas. Produktivitas 20 ton rimpang segar per ha.
  3. Pisahkan rimpang dari batang dan pelepah daun kering, lalu cuci sampai bersih hingga rimpang bebas dari tanah dan serabut akar.
  4. Iris rimpang setebal 2-3 mm dengan pisau tajam, tanpa mengupas kulit rimpang. Kulit mengandung senyawa aktif yang berguna. Kita dapat merebus irisan rimpang segar itu untuk konsumsi.
  5. Bila hendak menyimpan, keringkan irisan rimpang selama 2-3 hari atau oven pada suhu 60°C selama 6-7 jam sampai kadar air di bawah 10% sehingga kita mudah mematahkan dengan tangan.
  6. Pastikan rimpang yang telah kering bebas dari cendawan dan kotoran, lalu simpan dalam stoples kaca berwarna sehingga tidak terkena sinar matahari langsung. Kita dapat memanfaatkan rimpang kering dengan merebus atau membuat serbuk.
  7. Perebusan terbaik menggunakan wadah keramik, tembikar, kaca tahan panas, atau baja antikarat, hingga mendidih. Perbandingan temulawak dengan air 1 : 10.
  8. Saring air hasil rebusan ke dalam gelas dan minum segera.
  9. Rimpang temulawak kering dapat dibuat dalam bentuk serbuk dengan dihaluskan menggunakan blender kering sampai benar-benar halus.
  10. Konsumsi serbuk temulawak dengan cara melarutkan satu sendok makan serbuk dalam satu gelas (250 ml) air hangat.
  11. Frekuensi konsumsi 1-3 kali sehari sesuai kebutuhan. ***
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img