Monday, August 8, 2022

Pohon Bangsawan di Taman Raja

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Taman Narmada yang dibangun selama 27 tahun (1852-1879) itu adalah tempat istimewa. Di sana setiap purnamaning kalima tahun saka, sekitar Oktober-November penanggalan kalender Masehi, raja menggelar Upacara Pakelem untuk memohon kesuburan tanah dan turunnya air dari langit sehingga rakyat dapat bercocok tanam. Itu setelah di sana dibangun Telaga Segara Anak miniatur dari Danau Segara Anak di Gunung Rinjani tempat Upacara Pakelem dilakukan sebelumnya.

Empat arsitek taman saat itu: Gusti Ketut Wana, I Wayan Pande, pedanda Nyoman Wonosari, dan Gusti Nyoman Mumbul membagi Taman Narmada ke dalam 4 kelompok taman. Dua taman di antaranya yakni Taman Bidodari dan Taman Peresa berisi tanaman buah. Konon kedua tempat itu menjadi persinggahan favorit raja dan keluarganya. Taman Bidodari banyak ditanami pohon manggis. Puluhan Garcinia mangostana itu menghiasi setiap sisi panjang kolam. Di sebelah selatan Bidodari melewati Kokog Rumeneng, sebuah sungai, puluhan Durio zibethinus menyesaki Taman Peresa.

Sebagian kecil dari pohon-pohon berumur ratusan tahun itu masih bertahan hidup sampai detik ini. Manggis mendominasi. Tinggi batang si ratu buah itu rata-rata melebihi bangunan ruko berlantai 2. Diameter batangnya minimal selebar telapak tangan orang dewasa. Tajuk pohon dipertahankan berbentuk piramida dengan jarak tanam antarpohon sekitar 7 m. Deretan pepohonan itu jika ditengok dari kejauhan mirip barisan gunung. Sejauh ini tanaman yang diduga berasal dari belantara hutan di Asia Tenggara itu kondisinya baik. Batang pohon yang berwarna cokelat gelap dan kasar itu tampak kokoh.

Manggis lingsar-dari nama daerah tempat pertamakali ditanam-itu punya keunikan. Rasanya manis dan segar, tidak asam seperti manggis dari daerah lain. Daging buahnya putih dan kenyal. Ukuran buahnya relatif besar dan seragam, 125-140 g/buah. Bobot itu lebih berat ketimbang varietas unggul nasional, manggis kaligesing, 100-125 g/buah.

Di Taman Peresa nasib si raja buah durian tidak sebagus manggis di Bidodari. Taman yang sebagian wilayahnya kini sudah beralih fungsi menjadi ladang itu tinggal menyisakan sedikit anggota Bombaceae. ‘Dahulu ada sampai 56 pohon,’ ujar Sukimin SP dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Nusa Tenggara Barat. Pada 1992 Peresa menyisakan 36 pohon. ‘Saat ini yang hidup hanya 11 pohon,’ tambah Sukimin. Pada saat berkunjung awal Desember 2008 lalu Trubus menjumpai 1-2 pohon yang batangnya mulai digerogoti rayap pertanda pohon itu bakal menjadi lapuk. Sisa pohon lainnya banyak ditumpangi lumut dan anggrek merpati.

Sejatinya raja-raja buah yang rata-rata setinggi 30 m dengan garis tengah lebih lebar dari bentangan tangan orang dewasa itu bukan durian kacangan. Taman Peresa adalah gudangnya durian unggul di Lombok. Dari mana asalnya? Penelusuran ke berbagai instansi seperti BPSB-TPH, perpustakaan dan museum daerah, serta Fakultas Pertanian setempat hingga Fakultas Ilmu Budaya di salah satu universitas negeri di Jakarta tidak mendapati jejak sejarah asal-usul durian itu. ‘Bibitnya mungkin berasal dari Lombok dan sekitarnya,’ kata Wayan Rukah, pengelola pohon-pohon itu dari Yayasan Pura Krama di Desa Peresak Kecamatan Narmada, Lombok Barat.

Durian-durian itu memang dapat membuat mania durian ingin mencicipi. Tengok si gadung yang mempunyai ciri khas kulit hijau dan wangi. Daging buahnya kuning dan lengket. Si gula dagingnya kuning pucat dengan rasa manis pas seperti julukannya. Yang lain ada si hijau serta si payuk. Yang terakhir disebut memiliki daging buah kuning terang, biji kempis-hepe, dan sedikit beralkohol. Semua buah-buah itu tidak besar ukurannya hanya sekepalan tangan orang dewasa.

Bintangnya raja-raja buah di Peresa itu adalah tong medaye. Durian yang dalam bahasa Sasak berarti tidak diragukan lagi kelezatannya itu mempunyai daging kuning agak berserat, harum, lengket, dan manis legit sedikit pahit. Karena keunggulan itu, zibethinus yang produksinya mencapai 800-900 buah/pohon/tahun itu dirilis pada 23 Juni 2003 sebagai varietas unggul nasional berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian No 338/Kpts/TP.240/6/2003.

Menurut Wayan Rukah pohon-pohon durian itu dilelang saat musim berbuah. Peserta lelang mayoritas berasal dari Desa Peresak, wilayah tempat Taman Peresa itu kini berada. Hanya sedikit yang datang dari desa lain. ‘Tahun ini pemenangnya membayar Rp13-juta,’ kata Wayan. Dengan harga itu sang pemenang berhak memanen semua raja buah selama 4 bulan. Berikutnya jika masih terdapat pohon berbuah, pelelangan akan dilakukan lagi. ‘Umumnya saat musim bisa sampai 2 kali lelang,’ ungkap Wayan.

Begitu pula dengan manggis. Itu terjadi di Taman Lingsar (dalam bahasa Sasak artinya kata, red), salah satu pura tertua (1759) Kerajaan Karangasem Sasak yang berjarak 2 km dari Taman Narmada. Hasil panen dari ratusan pohon garcinia berumur di atas 100 tahun yang tersebar sebelah timur areal taman seluas 26.663 m2 itu juga dilelang. ‘Tahun ini hasil lelangnya mencapai Rp30-juta,’ kata Suparman Taufik, juru kunci taman itu.

Tiga dari 4 taman pura tertua di Lombok yang dikunjungi Trubus, yakni Taman Narmada, Taman Lingsar, dan Taman Mayura, didominasi manggis. Kecuali Narmada dan Lingsar yang masing-masing masih menyelipkan pohon durian dan rambutan, Taman Mayura seluas 33.877 m2 yang berada di Istana Puri Ukir Kawi, Cakranegara, melulu ditanami manggis lingsar.

Ahli filsafat timur Drs Wayan Suwira Satria menjelaskan manggis dominan ditanam karena buahnya merupakan salah satu bahan persembahan dan sesajen pada upacara-upacara agama Hindu. ‘Manggis salah satu jenis buah yang banyak dipakai di luar duku dan delima,’ ujar dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu. Durian? Sebetulnya masih bagian dari rangkaian buah persembahan-gebogan–pada upacara. Namun karena produksi buahnya tak sedahsyat manggis, 5.000-6.000 buah/pohon/tahun, makanya ia jarang dipakai.

Sesungguhnya kehadiran tanaman-tanaman buah di taman milik raja sudah ada sejak zaman kuno. Prasasti Talang Tuwo (abad ke-17) mengisahkan pembuatan Taman Sri Ksetra oleh raja Sri Jayanga di Sumatera Selatan. Taman yang diduga dibangun di utara Sungai Musi itu disisipi pohon buah unggul setempat atau tanaman buah kesukaan raja. Yang lain? Di dalam kitab Negarakertagama pupuh 32 bait ke 3-5 diungkapkan pujangga Empu Prapanca suka sekali berkunjung ke taman bertingkat di Kerajaan Majapahit untuk menghabiskan waktu senggangnya. Di sana Prapanca menikmati moleknya deretan tanaman kelapa gading kuning.

Di luar tanaman buah ada pula pohon-pohon keras yang menjadi elemen penting dari taman raja. Itu terlihat di kompleks Sitihinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Wartawan Trubus Tri Susanti menjumpai pohon gayam Inocarpus edulis, soka Ixora indica, sawo kecik Manilkara kauki, dan kemuning Murraya paniculata. Selain 6 pohon gayam yang berumur ratusan tahun, puluhan pohon jenis lainnya baru menginjak puluhan tahun.

Mereka semua ditanam bukan tanpa makna. Gayam berarti gayuh ayem, menggapai ketentraman. ‘Kemuning yang bunganya wangi dipakai untuk menghadirkan keheningan total,’ kata Raden Penemu Yudo Sentono, staf humas keraton. Nah agar manusia senantiasa berbuat kebajikan di dunia, ditanamlah sawo kecik.

Yang menarik di pelataran Sitihinggil terdapat 64 pohon beringin Ficus benjamina yang ditanam oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada 1758. Pohon yang jumlahnya melambangkan umur Nabi Muhammad SAW ketika meninggal dunia (berdasarkan perhitungan tahun Hijriah) itu tersebar mengelilingi Alun-Alun Utara keraton. Dua di antara beringin itu ditanam tepat di tengah Alun-Alun, membujur dari arah barat ke timur. Mereka berdua diberi nama Dewadaru dan Wijayadaru.

Beringin lain berumur ratusan tahun juga terlihat di tengah Alun-Alun Selatan keraton. Namun ada aturan ketat di sana. Sultan yang masih hidup dilarang keras melewati jalan di antara 2 beringin (supit urang) itu. Baru setelah Sultan meninggal jenazahnya perlu melewati supit urang itu untuk menuju gerbang nirbaya. Beruntung larangan itu tidak berlaku bagi masyarakat umum. Mereka beradu nyali di sana, berusaha berjalan melewati supit urang dengan mata tertutup. Maknanya? Siapa berhasil hatinya bersih. (Dian Adijaya S)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img