Monday, November 28, 2022

Pohon Kafir dan Sirna Banjir

Rekomendasi

Banjir melanda Geger hingga 7 kali setahun. Kini wilayah itu bebas banjir berkat penanaman beragam pohon.

Awan hitam menggelayut di langit sebelah timur selama 2—3 jam berturut-turut cukup untuk membuat Noer Yanto was-was. Itu pertanda banjir besar segera menerjang kawasan rumahnya di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Air bah itu menyambangi Arosbaya lewat Sungai Tambengan dan Sungai Bliga yang berhulu di Kecamatan Geger. Arosbaya di ketinggian 5 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi muara aliran air sungai.

Musabab Noer Yanto waswas lantaran perbukitan Geger yang berada di ketinggian 45—97 meter di atas permukaan laut dalam kondisi gundul. Sepanjang mata memandang yang tampak adalah hamparan lahan kritis berbatu. Sebagian lahan dibiarkan telantar oleh sang pemilik. Vegetasi yang ada adalah bambu, nyamplung, salam, serta duwet. Itu pun terserak-serak di sepanjang sempadan sungai. “Setiap hujan dengan intensitas lebih dari 120 mm/hari rentan menyebabkan banjir,” kata Noer Yanto mengenang peristiwa 30 tahun lampau itu.

Air langka

Limpasan air hujan menyebabkan banjir setinggi 1,5 m. Bahkan banjir di areal persawahan mencapai 2 m. Terjangan banjir pun menyebabkan akses dari Arosbaya menuju Kota Bangkalan kerap terputus. Menurut pria kelahiran Ngawi itu frekuensi banjir bisa 7 kali dalam satu tahun. Sejatinya bukan hanya warga Arosbaya yang mengalami derita akibat banjir itu, warga Kecamatan Geger, mengalami kondisi yang lebih parah.

Kondisi lingkungan yang buruk membuat kedua kecamatan itu seolah menjadi “daerah terkutuk”. “Tanaman bernilai ekonomis seperti buah-buahan sukar tumbuh,” tutur H Ahmad Ghozali, ketua Forest Management Unit (FMU) Gerbang Lestari, Bangkalan. Bahkan ada pameo, jika pohon buah seperti durian, mangga atau rambutan berhasil berbuah adalah suatu mukjizat. Celakanya saat kemarau menjelang air pun langka.

“Untuk memperoleh air harus mengebor hingga kedalaman 60—70 m,” kata KH Irham Rofii, pemimpin Pondok Pesantren Darul Ittihad, Geger, Kabupaten Bangkalan. Tidak heran terkadang penduduk harus berjalan sejauh 5—6 km untuk mencari air. Jika musim hujan datang, daerah dengan kemiringan 200—500 itu rentan erosi dan longsor. Noer Yanto pernah menghitung tingkat erosi 1 ha lahan mencapai 6 ton per tahun. Selain itu panas menyergap Geger lantaran absennya pepohonan.

Kondisi itu menarik perhatian Muhammad Soleh. Ia mengambil cabutan bibit akasia Acacia auriculiformis dari hutan milik Perhutani di Kecamatan Sepulu berjarak … km dari Geger. Menurut Ir Daru Asycarya MM, pegiat lingkungan, akasia memang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perintis pada lingkungan kritis. “Akasia relatif toleran terhadap kondisi lahan yang miskin hara,” tutur pemimpin proyek kebun energi dan industri wood pellet di Bangkalan itu.

Pohon kafir

Soleh lantas menanam bibit-bibit itu di seputar kediaman dan lahan miliknya. Jejak Soleh itu hanya diikuti oleh 12 orang kerabatnya yang kemudian membentuk kelompok tani Gunung Mere. Program penanaman akasia itu terus berjalan setiap tahun. Tanaman berumur 4 tahun itu menunjukkan pertumbuhan yang bagus dengan lingkar batang di atas 15 cm. Namun, hal itu belum cukup menggugah minat masyarakat untuk menanam.

Noer Yanto, yang saat itu pada 1977, menjadi penyuluh lapangan, mulai membimbing masyarakat tentang teknik penanaman berjarak 5 m x 5 m. Selain itu masyarakat juga membuat teras guludan dengan memanfaatkan petaicina sebagai tanaman penguat guludan. Mereka juga menanam beragam bibit bantuan dari pemerintah. Namun, yang terjadi adalah penolakan sebagian besar masyarakat terhadap program penanaman bibit itu.

Bahkan, saat itu sampai muncul istilah pohon kafir. “Itu untuk menunjukkan haramnya menggunakan bibit hasil bantuan pemerintah,” ujar Noer Yanto. Musababnya saat itu sedang berlangsung pemilihan umum yang diikuti oleh tiga partai politik. Sebagian pemuka agama fanatik pada partai politik tertentu sehingga mengharamkan bantuan pemerintah. Tokoh agama menganggap pemerintah sebagai kepanjangan tangan organisasi kemasyarakatan tertentu.

Soleh dan Noer tidak putus asa. Mereka tetap menanam pohon-pohon bantuan pemerintah. Bukan hanya itu, mereka pun mendapat tenaga baru dengan bergabungnya H Hosek Jasuri. Merekalah yang kemudian aktif mengampanyekan penanaman pohon. Kiprah masyarakat Geger itu menarik minat Menteri Kehutanan yang saat itu dijabat Soedjarwo. Dua tahun berselang, kelompok tani Gunung Mere pun diganjar penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan.

Pada 1989, apreasiasi lain datang dari Menteri Kehutanan Ir Hasjrul Harahap berupa bantuan bibit rambutan dan mangga. Masyarakat juga menanam beragam jenis pohon seperti jati, mahoni, kecapi, dan durian. Saat itu kondisi kesuburan tanah yang mulai membaik, tanaman buah pun tumbuh subur. Seiring tumbuhnya vegetasi yang makin rapat pada dasawarsa 1990-an, kondisi lingkungan di Geger pun membaik. Ketika curah hujan lebih dari 120 mm per hari tidak menyebabkan banjir. Bahkan, pada 2010 saat curah hujan mencapai 150 mm per hari, banjir pun enggan bertandang.

Tanpa erosi

Perubahan lain adalah struktur tanah membaik sehingga tidak terjadi erosi. Jika terjadi erosi pun volume relatif kecil, tidak lebih dari 125 kg per ha per tahun. Penghijauan tanpa kenal lelah itu mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan Lingkungan dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhyono pada 6 Juni 2005. Saat ini menyusuri kawasan Geger amateduh. Teriknya matahari pulau garam terlindungi rimbunnya pepohonan.

Manfaat lain mudahnya masyarakat mendapatkan sumber air dan munculnya sumber-sumber mata air baru. “Sekarang cukup mengebor 15 m, air sudah mengucur,” kata Irham. Sumber mata air di Dusun Treta, Desa Geger, misalnya, tidak berhenti mengucurkan air meski musim kemarau panjang. “Banyak mobil pengangkut air dari luar daerah antre untuk mengambil air dari sumber ini,” kata Ghozali.

Hal lain yang menarik adalah timbulnya kesadaran masyarakat akan lingkungan. Masyarakat kini tidak lagi menanam pohon sekadar karena iming-iming imbalan ekonomi. “Banyak warga yang membiarkan pohon lapuk dan mati secara alami tanpa ditebang,” ujar Irham. Masyarakat menganggap bahwa dalam daur hidup pohon turut pula bergantung kehidupan makhluk lain seperti burung, ulat, cacing, atau rayap. Irham menyebut kesadaran itu sebagai tasawwuf pohon.

Kelompok tani dari Desa Geger, Kombangan, dan Togubang menghimpun diri menjadi FMU Gerbang Lestari untuk memperoleh sertifikasi hutan rakyat lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) pada 2008. Penghargaan itu berhasil disabet pada 2010 lewat sertifikasi yang dikeluarkan oleh PT Mutuagung Lestari. Menurut Dr Ir Yetti Rusli MSc, staf ahli Menteri Kehutanan Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim pengelolaan hutan rakyat lestari FMU Gerbang Lestari bisa menjadi model bagi daerah lain.

“Pelibatan masyarakat menjadi penting untuk menumbuhkan rasa memiliki,” tutur ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan itu. Kini Noer Yanto, H Ahmad Gozali, dan KH Irfam Rofii menjadi tiga serangkai yang giat menginisiasi dan mempromosikan kegiatan penanaman pohon di Kecamatan Geger. Foto kusam banjir besar yang menerjang Arosbaya kini menjadi kenangan di album tua Noer Yanto untuk generasi mendatang tentang cerita raibnya banjir di bumi Bangkalan. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img