
Mesin gelembung oksigen berukuran nano meningkatkan padat tebar dan sintasan udang vannamei meningkat.

Payau Situbondo, Jawa Timur, menggunakan mesin gelembung nano. (Dok. Dedi Cahyadi)
Trubus — Wendy Tri Prabowo menebarkan 34.000 benur udang vannamei di sebuah kolam 50 m². Padahal, peternak lazimnya hanya menebarkan 20.000 benur. Meski padat tebar meningkat 70% sintasan atau survival rate lebih tinggi, yakni mencapai 95%. Masa budidaya selama 88 hari sejak tebar benih dan Wendy memanen setidaknya 618,9 kg udang. Wendy mendapatkan udang berukuran 20—21 gram per ekor.
Sukses budidaya udang dengan padat tebar tinggi karena Wendy menambahkan mesin gelembung nano atau nano bubble yang menciptakan gelembung oksigen berukuran nano. Dampaknya oksigen terlarut dalam air pun meningkat. Wendy yang menjadi pengawas perikanan muda di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur, itu juga membandingkan dengan kolam tanpa mesin gelembung nano. Hasilnya sintasan hanya 70—80%.
Tetap untung

operasional Nano Bubble beberapa kali selang 2 pekan pemasangan mesin gelembung udara sebagai bentuk jasa pascapemasangan. (Dok. Dedi Cahyadi)
Di kolam kedua, tanpa mesin gelembung nano, Wendy hanya menuai udang berbobot 16—17 gram. Keduanya, bobot 21 gram dan 17 gram, termasuk dalam ukuran 50. Harga di pasaran Rp62.000 per kg. Master molekuler dan genetika alumnus Auburn University, Amerika Serikat, itu 4 kali meriset penggunaan mesin gelembung nano untuk budidaya udang. “Hitung-hitungan kami daya dukung lingkungan tanpa nano bubble cuma 1,5—2,5 kg per m³.
Selain itu setiap meter kubik kolam bergelembung oksigen nano menghasillkan 8—8,7 kg, sedangkan nirgelembung oksigen 4—4,5 kg. Belum lagi feed conversion ratio (FCR) udang vannamei menjadi lebih rendah. Semula 1,3—1,5 setelah menggunakan mesin gelembung nano turun menjadi 1,1—1,2. Itu berarti untuk menghasilkan 1 kg udang, peternak hanya memerlukan 1,1 kg pakan. Selain komoditas udang vannamei, Wendy menggunakan teknologi itu untuk nurseri ikan kerapu hibrida dari ukuran 3 cm hingga 10—12 cm.
Cegah penyakit

Periset nanoteknologi di Pusat Penelitian Fisika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Nurul Taufiqu Rochman, menemukan mesin pembuat gelembung berukuran nano untuk budidaya komoditas perairan. Alat itu berupa ruangan berpori-pori berukuran mikrometer.
Saat air dan gas oksigen dialirkan melalui alat itu menghasilkan gelembung oksigen berukuran nanometer. Para periset menyebut mesin pembuat gelembung itu Bubble Mill Generator.
Mereka menggunakan Bubble Mill Generator sebagai bagian dari mesin nano bubble untuk meningkatkan oksigen terlarut pada perairan tambak budidaya udang, kerapu, dan koi. Peningkatan oksigen terlarut itu hingga dua kali lipat, mencapai 8 ppm. Padat tebar udang vannamei turut meningkat dua kali lipat. Semula peternak hanya menebar 150 ekor per m² menjadi 250—300 ekor per m².

Tingginya kadar oksigen menekan serangan penyakit Hepatopancreatic Microsporidiosis (HPM) akibat parasit Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) dan bakteri Vibrio sp. Penyakit itu menyerang udang vannamei setelah berumur 30 hari. Ada 4 tipe mesin gelembung nano sesuai volume air, dari 5—7 liter per menit hingga 60 liter per menit dengan rentang harga Rp15 juta—Rp100 juta.
Harga itu lebih murah daripada teknologi yang sama dari luar negeri yang mencapai Rp100 juta—Rp500 juta. Sejak memulai penjualan perdana pada Mei 2019, mesin nano bubble terjual 15 unit dengan rata-rata produksi 8 mesin per bulan secara in-house dan 20 mesin per bulan bila menggunakan penjaja. (Tamara Yunike)
