Wednesday, August 10, 2022

Agar Bisnis Domba Berlanjut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Maraknya bisnis penggemukan domba
menyebabkan terjadinya erosi genetik karena sektor pembibitan tidak berjalan. (Dok. Trubus)

Bisnis penggemukan domba menghadapi masalah kelangkaan bibit. Solusinya pembibitan, pembiakan, dan penggemukan harus berjalan beriringan agar bisnis domba berkelanjutan.

Trubus — Didik Eko Santoso hanya mendapatkan 60 bibit domba dalam 10 hari. Saat ini sulit mencari bibit domba untuk penggemukan. Bandingkan dengan 2017, peternak di Desa Tanjungsari, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu memperoleh 90 bakalan domba dalam 3 hari. Bahkan, sebelumnya ketika mulai beternak domba pada 2009 tidak ada kelangkaan bibit. Bibit langka dan berharga mahal sejak 2018.

Peternak memerlukan bibit berbobot 15—18 kg. Penggemukan selama 3 bulan menghasilkan domba berbobot 25 kg. “Bisnis penggemukan yang masif berpengaruh pada populasi domba. Apalagi bibit berasal dari pasar, bukan pembibitan sendiri,” kata pemilik Santosindo Multi Farm itu. Tren penggemukan domba menunjukkan peningkatan, karena besarnya permintaan daging satwa ruminansia itu di dalam dan luar negeri.

Kurban

Kepala Laboratorium Ruminansia Kecil Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi
Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, IPB, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si. (Dok. Trubus)

Kepala Laboratorium Ruminansia Kecil Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si, mengatakan, maraknya bisnis penggemukan domba menyebabkan terjadinya erosi genetik pada populasi domba. Jutaan domba berbobot lebih dari 40 kg untuk kurban setiap tahun. Semua domba jantan itu pasti yang terbaik karena untuk ritual keagamaan.

Konsumen pun berdamai dengan harga domba kurban yang mahal. Jadilah peternak menjual domba bermutu bagus. Sementara domba sortiran yang berbobot lebih kecil tetap di kandang. Nantinya domba itulah yang menjadi induk. Tentu saja kualitas generasi berikutnya menurun karena domba terbaik berbobot besar menjadi kurban. Sektor pembibitan yang tidak berjalan menguras sumber bakalan.

Selama ini pasokan bibit berasal dari peternakan rakyat bersistem tradisional. Mereka tidak menghitung biaya tenaga kerja dan pakan sehingga tidak merasa merugi. Harga bibit di pasaran lebih rendah daripada ongkos produksi jika kedua biaya itu dihitung. “Praktik itu sudah lama berlangsung. Pemerintah harus terlibat jika ingin ada perubahan,” kata Sri. Pemerintah harus bisa menghasilkan kebijakan, sehingga masyarakat mengetahui harga bibit lebih baik ketimbang domba potong. Harga keduanya harus dibedakan.

Pasar dalam negeri lazim menggunakan domba betina menjadi olahan seperti satai sehingga mempengaruhi sektor pembibitan. (Dok. Trubus)

Dengan begitu sektor pembibitan menguntungkan peternak. Tentu saja mesti ada standardisasi antara domba bibit dan potong. Oleh karena itulah, Sri menyarankan agar pembibitan, pembiakan, dan penggemukan domba berjalan beriringan. Tujuannya permintaan dan pasokan seimbang. “Kita bakal kehabisan sumber bibit atau bakalan jika hanya mengandalkan peternak tradisional,” kata Sri.

Jadi, asosiasi, akademisi, dan pemerintah mesti bersinergi. Selain kurban, pasar besar domba lainnya yakni akikah. Kesadaran masyarakat melaksanakan akikah luar biasa. Permintaan rumah makan penyedia menu satai pun bertumbuh. Lazimnya penyedia akikah dan warung makan menggunakan daging domba betina karena harganya lebih murah daripada jantan. Didik mengatakan hampir 80% pasar dalam negeri menggunakan domba betina. Didik mendukung ekspor karena menghendaki domba jantan yang selama ini hanya terserap pada hari raya kurban.

Modal peternak

Ketua Umum Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU., mengatakan tren perkembangan penggemukan domba belum diantisipasi dengan baik seperti ketidaksiapan integrasi pembangunan hulu dan hilir. Tema dan bahasan domba pun belum mengarah pada dukungan kebijakan dan program yang spesifik di tingkat nasional dan daerah.

Ketua Umum Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU. (Dok. Yudi Guntara Noor)

Selain itu tumbuhnya antusiasme peternak domba terkonsentrasi di hilir dan tengah (penggemukan) yang membentuk korporasi. Sementara di tingkat pembiakan komersial masih minim. HPDKI membentuk klasterisasi penggemukan sebagai program jangka pendek untuk mengatasi masalah itu. Selain itu HPDKI juga membentuk klaster hulu untuk pembibitan.

“HPDKI berusaha melakukan sinergisitas para pemangku kepentingan (stakeholders) terkait untuk memberikan dukungan dalam bentuk pembiayaan, asuransi domba, dan introduksi bibit untuk perbaikan genetik ternak lokal di tingkat peternak,” kataYudi. Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Diarmita, M.P., penyediaan modal bagi peternak dapat melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun pemanfaatan Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Menurut Ketut menuturkan peluang perluasan pasar domba dan kambing di tingkat global masih sangat terbuka luas. Ekspor domba membuat peternak lebih bersemangat sehingga kuantitas dan kualitas ternak potong meningkat. Permintaan dalam negeri yang bertambah banyak pun menjanjikan keuntungan. Syaratnya pembibitan dan penggemukan sejalan. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img