Tuesday, May 5, 2026

Potensi Bisnis Lobster Air Tawar

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Lobster air tawar (LAT) komoditas alternatif untuk memenuhi kebutuhan lobster air asin atau lobster laut. Lantas apakah untung membudidayakan LAT?

Menurut pembudidaya LAT di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Gema Paku Bumi, S.Si., M.Si., lobster salah satu komoditas air tawar paling potensial. Laba dari budidaya LAT bisa 50% dari harga jual.

Lobster berbobot 50 gram sepanjang 4 inci dengan masa budidaya 3 bulan sudah laku sebagai bahan baku olahan di rumah makan.

“Luasan 1 meter persegi pun sudah bisa membudayakan LAT pada bak terpal. Sangat cocok dikembangkan di perkotaan dengan populasi sekitar 10 ekor per m2 ,” kata Gema.

Ahli agribisnis dari Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., mengatakan tren budidaya LAT dirangsang oleh meningkatnya permintaan dan tingginya harga lobster air asin (LAA). Namun, pasokan LAA yang bersifat musiman makin menurun imbas dari eksploitasi yang tidak terkendali.

Menurut Iwan, dari sudut pandang agribisnis ekologis adanya tren budidaya LAT potensial menjaga kelestrarian LAA dan menjamin kontinuitas pasokan lobster.

Persoalannya, membudidayakan LAT tidak semudah ikan kerapu yang produktif dengan keramba dan jaring terapung. Budidaya LAT butuh ekosistem yang menyerupai habitat alaminya, baik ruang, air maupun pakannya.

Iwan menambahkan, meskipun terkategori udang, LAT memilik perbedaan perilaku hidup dengan udang. Satwa anggota famili Parastacidae itu ada masa usia rentannya, sehingga kepadatannya harus diatur berdasarkan umur atau ukuran.

Ada tiga jenis budidaya LAT yang dapat dilakukan yaitu penyediaan bibit lobster, penyediaan bakalan, dan pembesaran untuk konsumsi.

Hal yang mesti diperhatikan berikutnya adalah permintaan pasar. Karena budidaya lobster air tawar berbasis komunitas, maka harus berkolaborasi dengan komunitas, baik penyediaan benih, budidaya, pascapanen, maupun pemasaran.

Komunitas dan pemasaran ada yang fisikal (offline) dan ada yang virtual (online) atau daring. Komunitas pun menjadi ruang berbagi informasi dan inovasi.

Iwan mengatakan, “Meski adanya substitusi pasokan dari budidaya LAT dinamika harga lobster tetap tinggi, tetapi tidak ekstrem,” kata Iwan.

Harga tetap tinggi karena permintaan ekspor dan domestik terus meningkat. LAA terserap oleh permintaan ekspor dan wisatawan pantai yang angkanya terus meroket.

Adapun LAT terserap oleh konsumen perkotaan menengah atas yang jauh dari pantai. Terutama untuk memenuhi permintaan rumah makan dan kafe yang tumbuh subur di perkotaan.

Seperti LAA, harga LAT tetap tinggi, karena terkategori specialty commodity yang pasarnya berbasis komunitas. Sekalipun diproduksi secara massal harga tetap tinggi, karena perbanyakan dan produksinya tidak umum. Bahkan butuh metode khusus.

Sebagai pembanding, harga ikan kerapu tetap tinggi, meskipun pasokannya lebih banyak daripada hasil budidaya jaring terapung. Sifat unik atau specialty commodity tidak mengurangi nilainya, meski diproduksi secara massal.

Tentu butuh penyiapan agroindustri berbasis komunitas agar olahan LAT dalam berbagai bentuk dan kemasan dapat dipasarkan dan dijangkau konsumen secara luas (daring dan ekspor). Itulah ciri komoditas yang memiliki daya saing berkelanjutan.

Menurut Iwan, secara demografis, permintaan daging putih (ikan) dari rumah tangga dan generasi milenial makin meningkat. Itu karena kesadaran terkait kebutuhan omega maupun budaya hidup sehat. Tren ini terus meningkat pada generasi era bonus demografi.


Artikel Terbaru

Cara Menanam Pepaya California agar Cepat Berbuah dan Seragam

Sebagai pekebun yang ingin pepaya california cepat berbuah dan menghasilkan buah seragam, tahap awal yang penting adalah perkecambahan benih....

More Articles Like This