Potensi Ramuan Herba Meningkatkan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis

Rekomendasi

Trubus.id—Tuberkulosis (TB) menjadi masalah dunia, termasuk di Indonesia.  Penyakit akibat mikrob Mycobacterium tuberculosis itu tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga bisa menggerogoti tulang dan persendian.

Berdasarkan Global TB Report 2023, Indonesia nergara kedua tertinggi kasus TB setelah India.  Estimasi kasus sebanyak 1.060.000 kasus dengan angka kematian 134.000 per tahun.  

Melansir pada laman Kemenkes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Pambudi mengatakan, peningkatan penemuan TB pada 2023 meningkat hingga 77%, yaitu 820.789 kasus. Penemuan TB pada anak 134.528 kasus.

Menurut peneliti di Klinik Saintifkasi Jamu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Karanganyar, Jawa Tengah, dr. Sunu Pamadyo Tanjung Ismoyo, kunci pengobatan TB teratur dan konsisten selama 6 bulan.

Namun, banyak penderita putus berobat lantaran obat TB menimbulkan efek samping seperti mual, kehilangan nafsu makan, nyeri sendi, atau sensasi panas di kaki.

Selain itu, cara terbaik menanggulangi TB adalah melalui pencegahan. Salah satunya dengan asupan makanan bergizi. Mikrob menyerang subjek dengan imunitas lemah.

Maka penguatan kekebalan tubuh bakal memberangus sepak terjang makhluk liliput itu. Artinya, konsumsi rutin imunostimulan— asupan pendongkrak imun—mengurangi risiko orang sehat terjangkit TB dan mempercepat penyembuhan penderita.

Masalahnya bahan imunostimulan yang kerap diresepkan kalangan medis berasal dari mancanegara sehingga mahal. Kondisi itu mendasari riset Sunu dan rekannya sesama peneliti B2P2TOOT, Rohmat Mujahid, Apt, M.Far.

Mereka meresepkan rimpang dan tumbuhan obat yang dipercaya turun-temurun sebagai penguat imunitas terhadap penderita TB yang berobat di Klinik Saintifikasi Jamu, Puskesmas Tawangmangu, dan Puskesmas Karangpandan—ketiganya di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Ramuan itu terdiri atas meniran, temulawak, dan temumangga. Sunu dan Rohmat menguji 32 subjek selama sebulan. Dalam jangka waktu itu, subjek tetap mengonsumsi obat TB standar. Subjek mereka bagi menjadi 2 kelompok.

Kelompok pertama hanya mengonsumsi obat TB sementara kelompok kedua mengonsumsi obat TB dan jamu. Setelah sebulan, subjek di kelompok kedua tidak ada yang mengeluhkan efek samping pengobatan.

Mereka juga tidak mengeluhkan rasa jamu. Lazimnya orang enggan konsumsi jamu lantaran rasanya pahit. Kedua periset itu juga mengamati parameter hati dan ginjal subjek uji. Mereka menyimpulkan konsumsi jamu aman bagi hati dan ginjal.

Hal itu terbukti dari parameter hati (SGOT dan SGPT) dan ginjal (kreatinin) yang tidak menunjukkan perubahan mencolok. Menurut Sunu temulawak mengandung bahan kurkuminoid dan ukanon A, B, C, dan D—semuanya merangsang sistem imun.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Jawa Tengah itu menyatakan, kemampuan kandungan temulawak mendongkrak imunitas membuat beberapa negara memanfaatkan kerabat jahe itu untuk pengobatan HIV-AIDS.

Meniran juga terbukti berkhasiat imunomodulator dan efektif membantu meredam penyakit berkat kandungan filantin dan nirurin. Para periset menambahkan temumangga dalam ramuan jamu imunomdulator.

Lantaran rimpang beraroma seperti mangga itu menunjukkan kemampuan fagositosis paling kuat di antara semua rimpang. Itu sebabnya temumangga terbukti efektif meredam berbagai jenis tumor atau kista.

Dalam ramuan itu, temumangga menghambat perbanyakan dan penyebaran mikrob sehingga tidak berkembang atau menjalar ke organ maupun jaringan tubuh lainnya.

Musuh Bakteri Tuberkulosis

Bahan

  • Rimpang temulawak Curcuma xanthorriza 15 gram
  • Rimpang temumangga Curcuma mangga 15 gram
  • Daun dan batang meniran Phyllantus niruri 5 gram

Cara Olah

  • Cuci bersih semua bahan. Iris tipis rimpang temulawak dan temumangga, rebus dalam 3 gelas air dengan api kecil hingga mendidih.
  • Saring hasil rebusan dan konsumsi rutin.

Artikel Terbaru

UGM Kembangkan Ekosistem Kedelai Lokal Terintegrasi, Dorong Kemandirian Pangan Nasional

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat upaya pengembangan kedelai lokal melalui pendekatan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas...

More Articles Like This