Monday, August 15, 2022

Potret Bisnis Jarak Terkini

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Berselang sejam, biji Jatropha curcas asal kebun miliknya di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, itu dimasukkan dalam 20 -50 karung goni. Setiap karung memuat 25 kg. Malam itu juga pesanan untuk Surabaya segera dikirim. Di sana beberapa pengepul sudah menanti. Pengepul dari Jember memesan 250 kg, Boyolali 200 kg, Kediri 100 kg, dan sisanya untuk pekebun di Surabaya.

Dikebunkan

Begitulah kesibukan Willy bila pengusaha-pengusaha minyak dan perkebunan meminta biji jarak. Setiap bulan ia mengirim minimal 1 -2 ton. Maklum, permintaan dari luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi pun terus mengalir dengan jumlah sama. Itu belum termasuk permintaan perusahaan minyak swasta di Jakarta yang rata-rata meminta 2 -3 ton/bulan. ?Jika dihitung-hitung total permintaan jarak mencapai 15 -18 ton selama 2005,? kata pakar pertanian lahan kering itu. Bila harga biji jarak Rp10.000/kg, maka pendapatan Willy mencapai Rp150-juta -Rp180-juta/tahun.

Biji jarak diperoleh dari 6.000 -7.000 pohon berumur 3 -4 tahun. Produksi setiap pohon mencapai 3 -5 kg per tahun. Artinya Willy bisa memanen 18 -35 biji kering per musim dari luasan 3 ha. ?Kebun itu dibangun ketika harga minyak melambung pada 1999 -2000. Ke depan kebutuhan minyak jarak untuk pengganti solar akan jauh lebih tinggi,? ujar kelahiran Mataram 25 Desember 1936 itu.

Kini jejak Willy ditiru banyak petani setempat di Lombok Barat dan Lombok Utara. Mereka menanam jarak di sekeliling kebun atau halaman rumah. Contohnya Mira, pekebun jarak di Desa Gangga, Kecamatan Gangga. Ia bisa memanen 2 ton biji jarak dari 2. 000 pohon yang ditanam di halaman rumah dan kebun. Mira menjual biji jarak kepada pengepul lokal yang kemudian menyalurkannya ke pengusaha atau calon pekebun.

?Seminggu mereka (pengepul, red )bisa ambil 5 -10 kg/orang. Padahal setiap minggu kadang 3 -5 orang yang datang, ? katanya. Meski harga hanya Rp1.000 -2.000/kg, ia bisa meraup untung bersih hingga Rp2-juta -Rp4-juta setahun. Maklum, biji jarak boleh dibilang diproduksi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

Untuk bibit

Permintaan biji Jatropha curcas itu memang kian meroket. Bila dibandingkan setahun silam, lonjakannya luar biasa. Ir Muchsin Alexandra MSi, misalnya, mengatakan permintaan biji jarak naik hingga 50 -100%. Setiap bulannya staf Balai Pendidikan Pertanian NTB itu mampu memasarkan 15 -20 ton biji jarak. Biji jarak yang dikumpulkan dari 600 pekebun di seluruh NTB dan NTT itu dijual dengan harga Rp7.000 -Rp10.000/kg.

?Saya kelimpungan memenuhi permintaan,? ungkap Muchsin. Musababnya, permintaan tak hanya datang dari calon pekebun di wilayah NTB dan NTT yang masing-masing meminta 5 -10 ton per bulan. Dinas Perkebunan NTT sendiri minta pasokan 21 ton dan sebanyak 10 pondok pesantren di NTB 5 ton per bulan. Provinsi Gorontalo juga membutuhkan pasokan biji jarak 60 -70 ton/bulan; HKTI di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50 ton. Belum lagi perusahaan swasta di Jakarta yang menginginkan secara kontinu pasokan biji jarak 3 ton per bulan.

Senada dengan ucapan H Sofyan, pengepul jarak di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sejak 6 bulan silam, sekretaris DPRD Kabupaten Dompu itu kewalahan memenuhi pesanan 1 -2 ton/bulan. ?Permintaan melonjak. Dulu hanya 10 -30 kg per bulan, ? katanya. . Wajar jika harga pun mulai merangkak naik. Sofyan menjual setiap kilogram biji jarak kering Rp4.000 -Rp5.000. Alhasil omzet yang diperolehnya berkisar Rp4-juta -Rp5-juta per bulan.

Harga biji jarak sekarang ini memang tergolong tinggi. Bayangkan sebelum pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mencanangkan program pengembangan jarak, harga di tingkat pekebun tidak bergeser dari Rp1.500 -Rp2.000/kg. Itu pun jumlah pembelinya terbatas. Hanya pekebun-pekebun tertentu yang mempunyai akses ke pabrik pengolahan yang bisa mendapatkan harga baik.

Penelusuran Trubus ke sentra-sentra penanaman, tingginya harga biji jarak semata karena untuk dijadikan bibit oleh calon pekebun. Sementara industri-industri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel hanya mematok harga pembelian Rp500 -Rp1. 000/kg. Oleh karena itu pula Theresia Prawitasari, pembina pekebun jarak di NTB dan NTT, tidak menyarankan penanaman secara monokultur.

Menurut hitung-hitungan almnus S3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor itu produksi perdana saat pohon berumur 1 tahun hanya 1 ton/ha. Dengan harga jual maksimal Rp1.000/kg, pekebun hanya memperoleh pendapatan Rp1-juta/tahun. ?Sebaiknya tumpang sari dengan jagung, kacang kedelai atau kacang tanah agar bisa menutupi kebutuhan petani,? katanya.

Setek laris

Antusias masyakat untuk mengembangkan jarak memang tak terbendung lagi. Buktinya bukan hanya biji jarak yang diminta untuk dijadikan benih, tapi juga bibit jarak berupa setek. Setek batang setinggi 50 -60 cm jadi buruan para calon pekebun. Minarah, misalnya, sejak 2 -5 bulan terakhir sudah menjual 2-juta -2,5-juta setek ke beberapa koperasi di Mataram dan pengusaha lain di Jakarta. ?Permintaan bisa mencapai ratusan ribu hingga puluhan juta setek,? katanya. Dengan harga jual Rp3.500 per 30 setek ibu berpenampilan sederhana itu meraup omzet minimal Rp200-juta.

Ketika Trubus bertandang ke Provinsi Sejuta Mesjid itu pada akhir Maret 2006, di sepanjang jalan-jalan protokol yang menghubungkan kota Mataram dengan Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur dijajakan setek-setek bibit jarak dalam jumlah besar. ?Permintaan setek sangat besar. Dari Pulau Lombok saja sudah keluar puluhan juta batang, belum lagi dari NTT, ? kata Ir Wirham MSi, kepala Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bibit jarak dikirim ke beberapa daerah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan.

?Pembeli banyak yang langsung datang ke Mataram untuk mendapatkan bibit sekaligus mengetahui cara budidaya jarak, ? kata Ir Bahruddin, kepala Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan Provinsi NTB. Menurut Bahruddin Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Jember, dan Surabaya membutuhkan dalam jumlah banyak.

Makanya Eddy Entum telah siap siaga menyiapkan bibit hasil kultur jaringan untuk memenuhi permintaan. ?Ini untuk menopang keperluan bibit skala tanam ribuan hektar, ? katanya. . Menurut alumnus Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung, itu dengan teknik in vitro bibit bisa diproduksi massal dalam waktu singkat. Yang lebih penting harganya pun relatif murah Rp750 -Rp1.000/tanaman, sehingga tidak memberatkan calon pekebun.

Biodiesel Pengembangan jarak di berbagai provinsi tidak lepas dari potensinya sebagai minyak biodisel. Itu dipicu kenaikan harga bahan bakar dunia yang mencapai $70/barrel pada 2006. Sebab, biodiesel asal CPO pun harganya kian melambung mencapai US$389/ton atau sekitar Rp3, 5-juta/ton. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) kenaikan harga CPO akan terus berlanjut selama 2006 lantaran produksi terus menurun. Sementara kebutuhannya di Belanda dan Jerman semakin meningkat.

Dampaknya, banyak pabrik dan industri pemakai solar melirik minyak jarak sebagai bahan bakar alternatif. Sebut saja Perusahaan Listrik Negara (PLN) membutuhkan minyak jarak untuk mengurangi kebutuhan bahan bakar solar yang mencapai 12-juta kiloliter per tahun.

PT Rajawali Nusantara Indonesia membutuhkan 16-juta ton minyak jarak per tahun. Semua untuk memasok kebutuhan bahan bakar 10 industri gula yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk kebutuhan pasar ekspor yang mencapai jutaan ton setahun. ?Kita belum bisa memenuhinya. Bahan baku masih terbatas, ? kata Bachtiar Parmus, staf tim jarak PT RNI, Jakarta.

Di luar negeri, perusahaan biodiesel Eropa juga mulai melirik minyak jarak sebagai bahan baku. Kebutuhan biodiesel di sana mencapai 5.950 kiloton pada 2006 dan diprediksi akan meningkat hingga 13. 450 kilo ton pada 2010. Perancis malah menargetkan penggunaan biodiesel mencapai 700-ributon pada 2006. ?Minyak jarak tidak bakal kelebihan pasokan. Kebutuhan akan terus meningkat,? kata Adri Soebiyakto, staf D1, perusahaan pengolah minyak jarak. Permintaan ekspor yang masuk ke D1 sejak 1 tahun ke belakang meningkat 10%.

Itu pula yang menyebabkan investor dari Inggris, Jerman, dan Perancis tertarik menanam modal di tanahair. Mereka berencana membuka pabrik pengolahan minyak jarak di NTB dan NTT, serta mengembangkan penanaman jarak di seluruh wilayah nusantara. Kesempatan itu terbuka lebar lantaran luasan lahan kering di Indonesia yang potensial untuk penanaman jarak mencapai 21.944.595,7 ha.

Menurut data Mitra Emisi Bersih (MEB) lahan kritis yang bisa ditanami di Riau dan Bengkulu saja masing-masing mencapai 4,56-juta ha dan 1,045-juta ha. Di Kalimantan Barat 1,81-juta ha, Kalimantan Tengah 1,7-juta ha, dan Papua 1,72-juta ha. Di Padang 35.000 ha dari 200.000 ha lahan kritis telah dipersiapkan untuk ditanami anggota famili Euphorbiaceae itu. Belum termasuk di Nusa Tenggara Barat yang menjadi pelopor penanaman, ada seluas 400. 000 ha lahan kritis.

Jika Inpres No 1/2006 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati yang dikeluarkan pada 25 Januari 2006 berjalan lancar, tidak mustahil kesejahteraan petani-petani jarak di kantong kemiskinan akan meningkat. Mereka yang menanam jarak dengan sistem tumpang sari minimal bisa memperoleh pendapatan Rp4-juta -Rp5-juta/tahun. Bagi negara, jarak mampu menghemat devisa sebesar US$17,2 miliar/tahun dengan penggantian 40-juta kiloliter solar, diesel, minyak tanah setiap tahun. (Rahmansyah Dermawan/Peliput:Imam Wiguna dan Hermansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img