Saturday, January 24, 2026

Prospek Besar Ayam Petelur Bebas Sangkar

Rekomendasi
- Advertisement -

Abdi Firmansyah Sutomo rutin memanen sekitar 1.006 butir telur ayam setiap hari dari 1.600 ekor ayam petelur yang dipeliharanya. Menariknya, ayam-ayam di kandang Abdi mampu bertelur lebih awal dibandingkan standar perusahaan pembibitan ayam.

Ayam petelur milik Abdi mulai menghasilkan telur pada usia 17 pekan. Padahal, dalam panduan pemeliharaan, fase layer untuk strain Lohmann umumnya dimulai pada usia 18–19 pekan, bahkan bisa lebih lambat tergantung kondisi pemeliharaan.Tak hanya itu, puncak produksi juga terjadi lebih cepat.

Ayam-ayam tersebut mencapai puncak produksi pada pekan ke-24, sementara umumnya puncak produksi baru dicapai pada pekan ke-26 hingga pekan ke-30, bergantung pada jenis ayam. Produksi telur bahkan sempat mencapai 110% selama empat hari berturut-turut.

“Artinya, ada beberapa ayam yang bertelur dua kali dalam satu hari,” ujar peternak ayam asal Desa Lolanan, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara.Keunggulan produksi tersebut tak lepas dari sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar yang diterapkan Abdi.

Ia memilih memelihara ayam strain Lohmann Platinum yang dikenal unggul serta relatif tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan penyakit.Telur ayam hasil sistem bebas sangkar itu dikemas sebanyak 30 butir per tray dan dijual seharga Rp62.000. Harga tersebut lebih tinggi sekitar Rp10.000 dibandingkan telur ayam dari sistem pemeliharaan konvensional yang umumnya dijual Rp52.000 per tray.

Meski demikian, telur tetap laku di pasaran.Sebagian besar produksi telur Abdi—sekitar 80%—dipasarkan ke hotel-hotel di Kota Manado, Sulawesi Utara. Sisanya dijual langsung kepada masyarakat di sekitar peternakan.

Tren budi daya ayam petelur bebas sangkar kini terus berkembang di Indonesia. Kombinasi sistem pemeliharaan yang lebih alami dan pemberian pakan alami dinilai mampu menghasilkan telur yang lebih sehat serta ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang pasar dengan nilai jual lebih tinggi.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img