Velociraptor meraih dua juara, Oshin pun demikian. Perawatan intensif kunci menjadi juara.
Trubus — Velociraptor yang hidup 70 juta tahun silam bermakna pencuri yang gesit. Chris Prat dalam film Jurassic World mampu menjinakkan predator purba itu. Velociraptor milik Ririn Suryo meraih best highscoring kitten dan best highscoring kitten Indonesian Breed dalam kontes kucing internasional Champ of the Champ 5. Kontes berlangsung di Indonesia Convention Exhebition (ICE), Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada 30 Juli 2017.
Juri asal Cat Fancier Association (CFA) asal Amerika Serikat, Rusell Webb, menuturkan Hurayra Velociraptor—begitu nama lengkap persia koleksi Ririn—berkepala membulat dan mata indah. “Bagian atas kepalanya sangat bagus. Tubuhnya indah dan proposional,” kata pria asal negara bagian New Jersey itu. Menurut Rusell kucing persia dwiwarna putih dan kuning itu layak menjadi yang terbaik.
Intensif
Menurut suami Ririn, Ray Mananggar, kucing jantan berumur 7 bulan itu meraih penilaian terbaik di 6 ring dari total 8 ring penilaian. Ray mengatakan, Velociraptor meraih gelar ke-4 pada ajang serupa. “Gelar serupa diraih saat kontes di Malang, Malaysia, dan Thailand,” katanya. Ia tidak menyangka bakal merebut hasil terbaik. Pasalnya, pesaing dari luar negeri juga tak kalah bagus. Menurut Ray, Velociraptor memang keturunan kucing jawara.
Fisik kucing jantan yang berkarakter aktif itu turun dari induk jantan yang kerap meraih juara kontes internasional. “Ayahnya pun beberapa kali juara kontes CFA dan Indonesian Cat Association (ICA),” kata Ray. Dengan modal itu, ia mengoptimalkan perawatan sehari-hari. Selain genetik, perawatan intensif pun diperlukan. Apalagi Ray fokus mengejar poin agar klangenannya menjadi divisional winner (DW).

samoyed berbulu putih. (Dok. Trubus)
DW berarti kucing top show quality yang berada di 5 besar klasemen akhir musim CFA. Itulah sebabnya, Ray menjaga bobot tubuh klangenannya pada kondisi optimal. Bobot berlebih atau kurang mempengaruhi penampilan dan penilaian juri. Ia memberikan nutrisi seimbang dan multivitamin agar kucing tetap sehat. Untuk merawat bulu, Ray menggunakan sampo premium asal Inggris dan Perancis.
Menurut manajer pertunjukan, Arman Hermawan, Champ of the Camp itu yang ke-5 tahun ini. Penyelenggaraannya bertepatan acara Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2017. “Acara itu menjadi ajang kumpul pencinta hewan peliharaan, salah satunya komunitas kucing,” kata Arman. Total 8 juri internasional CFA dari Amerika, dan Rusia meramaikan acara. Jumlah peserta 157 kucing dari berbagai negara seperti Malaysia, dan Thailand, Tiongkok.
Ketangkasan
Gelaran kontes lainnya yang tidak kalah menarik ialah kejuaran ketangkasan anjing. Pada gelaran itu tidak ada anjing yang mendapat gelar best of best (BOB). Menurut juri asal Bali, Ir. Gde Armen Widyasthana, M.M., syarat BOB anjing sudah mencapai level agility 2 dan jumping 2. “Syarat lain BOB adalah saat kejuaraan berlangsung pada kelas agiliti dan jumping mendapat nilai excellent,” kata pria yang juga ketua Klub Agililiti Indonesia (KAI) itu.
Peserta yang mencuri perhatian dalam gelaran pada 30 Juli 2017 lalu itu adalah anjing samoyed putih bernama Oshin. “Oshin dan sang handler tampil cemerlang sehingga beberapa kali mendapat nilai excellent,” kata Armen. Pria yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, itu mengatakan, Oshin dan pemilik sekaligus handler, Yanie Kamadjaja, betul-betul telaten. Mereka bisa berjalan selaras dalam melewati berbagai rintangan.
“Inti dari kejuaraan adalah cepat, tepat, dan tangkas,” kata Armen. Menurut Yanie Kamadjaja yang harus diperhatikan ketika hendak mengikuti kejuaraan adalah istirahat cukup. “Handler dan klangenan harus cukup tidur sebelum berlaga,” katanya. Harap mafhum, tidak hanya mengandalkan fisik, handler pun dituntut cerdas karena harus menggiring anjing melewati rintangan dengan nomor yang ditentukan.
Yanie mengatakan, “Jika rintangan yang dilalui tak sesuai nomor urutan maka poin akan berkurang dan jika lebih dari 3 kali diskualifikasi. Menurut panitia acara, Andreas Boediman, kejuaraan terlaksana berkat kerja sama antara panitia IIPE dan KAI. Sesuai agenda tahunan KAI, rencananya kontes berlangsung 2 kali dalam setahun untuk Jakarta. Ia mengatakan total 13 peserta dari Semarang, Bandung, dan Bogor ambil bagian.
Menurut Andreas animo para pehobi untuk mengikuti kontes ketangkasan anjing memang meningkat. Namun, untuk mengikuti kejuaraan itu tidak mudah karena memerlukan kerja keras pawang dan satwa klangenannya. Andreas berharap kejuaraan itu menjadi acara favorit sekaligus mengedukasi pencinta anjing. (Muhamad Fajar Ramadhan)
