Friday, January 16, 2026

Rahasia Sukses Menanam Tulip di Iklim Tropis

Rekomendasi
- Advertisement -

Pesona bunga tulip yang memukau menjadi primadona di kalangan pencinta tanaman hias. Mereka berlomba membungakan tanaman yang berasal dari Turki dan berkembang pesat di Belanda.

Terdapat lebih dari 3.000 varietas tulip di Belanda. Tak heran banyak pencinta tanaman hias dari berbagai belahan dunia tertarik menghadirkan kecantikan tulip di rumah mereka.

Saung Depok—komunitas pencinta tanaman di Depok, Provinsi Jawa Barat—Adi Wirawan, sejak lama menekuni hobi menanam tulip. Meskipun bunga yang pertama kali masuk ke Belanda pada abad ke-16 itu biasanya tumbuh di iklim subtropis, tantangan membuatnya mekar justru menjadi motivasi tersendiri bagi Wawan—panggilan akrab Adi Wirawan.

Ia terus bereksperimen dengan berbagai cara penanaman tulip. Rekan Wawan, Avian Arya, juga terpikat dengan tulip.

Karyawan swasta yang tinggal di bilangan Kota Depok itu mendapatkan ide bertanam tulip setelah kembali dari Belanda. Ia membawa beberapa bulb atau umbi lapis tulip.

Percobaan pertamanya gagal total karena semua umbi yang ditanam tidak tumbuh dengan baik dan akhirnya mati. Tak patah arang, ia mencoba lagi setahun kemudian.

Pada percobaan kedua, tunas mulai muncul dan tumbuh sekitar 15 cm. Namun, harapannya untuk melihat keindahan tulip harus pupus karena tunas berhenti berkembang.

Pada tahun 2017, Avian akhirnya berhasil. Ia kini sangat teliti memeriksa kondisi bulb sebelum menanamnya.

Menurut Avian, kerusakan kecil yang terjadi selama perjalanan bisa melemahkan umbi lapis dan menyebabkan pembusukan. Namun, bagian yang melunak dan rusak masih bisa selamat dengan cara mengelupasnya sedikit.

Selain itu, ia juga harus waspada terhadap serangan penyakit yang bisa menyerang bulb. Nun di Pekanbaru, Provinsi Riau, Dian Widiasih juga membudidayakan tulip.

Ia langsung mendatangkan bulb siap tanam dari negara asal. Sejatinya, Tulipa sp. membutuhkan suhu ekstrem dingin untuk memecah dormansi umbi lapis.

Jika telah berkecambah atau bertunas, bulb dinyatakan siap tanam. Keruan saja, Dian memulai tahapan budi daya dengan menyimpan umbi lapis dalam showcase cooler atau lemari pendingin.

Sebelum itu, umbi ditanam menggunakan media tanam berupa batu kecil yang disesuaikan dengan ukuran wadah, air mineral, dan satu tetes vitamin B1. Batu itu berfungsi menjaga agar bulb tidak terendam air.

Showcase dengan kaca bening diatur pada suhu yang sesuai dan diposisikan terkena sinar matahari pagi. Setelah tunas dan akar mulai tumbuh, Dian memindahkan bibit tulip ke media tanam baru.

Ia menggunakan campuran media dari kokopit, kompos, dan pasir malang dengan perbandingan 3:1:2. Bibit tulip kemudian diletakkan kembali ke dalam lemari pendingin.

Setiap pagi, tanaman dikeluarkan dari showcase dan dijemur mulai pukul 06.00 WIB untuk memastikan bibit mendapatkan sinar matahari. Sekitar lima bulan kemudian, tulip varietas Darwin Hybrid dan Angelique pun mulai berbunga.

Menurut Avian, kondisi bulb menentukan 60% keberhasilan bertanam tulip. Untuk hasil yang optimal, Wawan merendam bulb dalam larutan obat perangsang akar dengan takaran sesuai petunjuk pada kemasan selama 1—3 menit.

Setelah itu, umbi lapis ditiriskan dan dikeringanginkan. Media tanam juga memiliki peran yang sangat penting.

Syarat utamanya, media harus memiliki porositas yang baik dan menghindari bahan yang mudah tergenang air. Selain itu, media juga harus dapat menyediakan unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman.

“Tanah yang terlalu merah mengandung besi (Fe) tinggi, dapat menghalangi penyerapan unsur hara sehingga tanaman tidak mendapatkan nutrisi secara optimal,” jelas Wawan. Sebaiknya, pilih media tanam yang terbuat dari bahan organik yang sudah matang karena penggunaan bahan yang masih mentah dapat merusak bulb.

Mengenai media tanam, Wawan menyarankan campuran tanah, sekam, kompos, kotoran hewan, dan nematisida. Ia juga menambahkan sedikit mikroorganisme pengurai agar komponen media terfermentasi kurang lebih 3—4 hari hingga akhirnya dapat digunakan.

Tentunya, komponen tersebut dipilih yang benar-benar matang. Kemudian, bulb ditanam dengan cara 2/3 bagian di dalam media, sementara sisanya tetap muncul di atas tanah.

Wawan meletakkan pot di tempat teduh dan memberi jaring penaung untuk menghalangi cahaya matahari berlebihan. Untuk perawatan, ia melakukan penyiraman secara perlahan 2—3 hari sekali.

“Agar umbi lapis tidak membusuk dan berjamur, pastikan tidak ada genangan air di bagian dasar pot,” kata Wawan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img