Kombinasi jamur maitake dan kemoterapi mengatasi kanker ovarium.
Trubus — Dini Hendarsih merasa mual dan tidak nafsu makan pada Maret 2016. Penasaran dengan kondisi itu Dini pun memeriksakan diri ke dokter praktik di dekat rumah. Dokter pemeriksa mendiagnosis warga Kota Surabaya, Jawa Timur, itu, mengidap mag. Meski disiplin mengonsumsi obat, gejala itu tetap ada. Ia lalu berkonsultasi dengan dokter ahli penyakit dalam di sebuah rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat kista berukuran 14 cm.
Dokter menganjurkan Dini melakukan operasi dengan bantuan dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Ia tidak menyangka masih ada kista karena itu kali pertama terdiagnosis pada 2007. Saat itu ukuran kista 6 cm dan dokter sudah meresepkan obat. Selesai operasi kista pada April 2016, Dini menjalani tes patologi anatomi. Hasilnya ia terserang kanker ovarium stadium 3C. Dokter menyarankan dilakukan operasi pengangkatan kanker dan Dini setuju.
Kanker ovarium
Medical Marketing sebuah perusahaan distributor produk kesehatan di Jakarta, dr. Rony Wijaya, mengatakan kanker (tumor ganas) ovarium tumbuh pada ovarium (indung telur). Diagnosis pasti kanker ovarium dengan biopsi jaringan ovarium. Dokter spesialis patologi anatomi akan mengamati jaringan itu menggunakan mikroskop. Bila hasilnya sesuai dengan kriteria kanker ovarium, maka pasien dapat didiagnosis kanker ovarium.

perusahaan distributor produk kesehatan di Jakarta.
Pemeriksaan pendukung lainnya yaitu ultrasonografi (USG) dan tumor marker CA 125. Kadar tumor marker CA 125 normal di bawah 35 U/mL darah, sedangkan penderita kanker ovarium berkadar CA 125 lebih dari 35 U/mL. “Pemeriksaan CA 125 ditujukan untuk menilai respons terapi dan kekambuhan kanker ovarium,” kata Rony. Kanker ovarium menduduki peringkat ketujuh kanker terbanyak pada perempuan. Setiap tahun ¼-juta perempuan terkena kanker ovarium.
Kanker itu menyebabkan 140.000 kematian saban tahun. Lazimnya kanker ovarium terjadi pada perempuan menopause. Namun, perempuan semua kelompok usia juga bisa mengidap kanker itu. Gejala jarang muncul pada penderita kanker ovarium stadium awal. Menurut Rony gejala kanker ovarium antara lain perubahan kebiasaan buang air besar (sulit buang air besar), perut selalu terasa kembung, pembengkakan perut, penurunan bobot tubuh, cepat kenyang, mual, dan sakit saat berhubungan seksual.
“Meski begitu tidak ada gejala yang spesifik untuk kanker ovarium,” kata Rony. Hingga kini penyebab kanker ovarium belum diketahui pasti. Namun, ada beberapa faktor risiko yang memudahkan seseorang terkena kanker ovarium seperti genetik. Risiko terkena kanker ovarium meningkat jika memiliki anggota keluarga pengidap kanker ovarium atau kanker payudara.

Itu pun terjadi pada perempuan pemilik gen BRCA1 dan BRCA2, yaitu mutasi genetik yang dapat diturunkan. Faktor risiko lainnya yakni usia, tidak pernah hamil, dan obesitas. Agar terhindar dari kanker ovarium, Rony menganjurkan untuk menjaga bobot badan ideal, menghindari merokok dan paparan asap rokok, menjalani kehamilan dan menyusui, memperbanyak konsumsi sayuran dan buah, serta olahraga teratur.
Mendukung kemoterapi
Tiga pekan setelah operasi pengangkatan rahim, dokter menyarankan Dini melakukan kemoterapi. Semula ia ingin melakukan terapi herbal, tapi sang anak yang menempuh kuliah kedokteran meyakinkan Dini menjalani kemoterapi. Kondisi perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu setelah kemoterapi tetap segar dan sehat. Hanya dua hari ia merasakan efek kemoterapi seperti tubuh lemas dan nafsu makan hilang.

“Selang dua hari kondisi saya berangsur pulih. Bahkan dokter dan teman mengatakan keadaan saya seperti orang yang tidak kemoterapi,” kata Dini. Rahasianya ia mengonsumsi jamur maitake sejak dokter mendiagnosis kista. Menurut Rony maitake bisa seukuran bola basket dengan bobot sekitar 25 kg. Oleh karena itu masyarakat Jepang mengenal Grifola frondosa ini sebagai raja jamur.
Maitake bercitarasa lezat, berkhasiat kesehatan, langka, dan hanya bisa didapat di pegunungan di Negeri Sakura. Yang paling menakjubkan konsumsi maitake membuat kadar CA 125 Dini menurun drastis dari 376,3 U/ml menjadi 34 U/ml dalam waktu kurang dari 2 bulan. Kini kadar CA 125 perempuan berusia 51 tahun itu 7,72 U/ml. Saat itu ia menjalani 5 kali kemoterapi dan dinyatakan bebas dari kanker.

Supaya kesehatan tetap terjaga Dini tetap memeriksakan kadar CA 125 setiap bulan dan mengonsumsi produk maitake. Rony mengatakan ilmuwan Jepang menemukan adanya molekul polisakarida D-fraction yang tinggi dalam maitake yang berfaedah mencegah kanker. Kemampuan maitake melawan sel kanker juga karena mengandung zat antioksidan. “Di Jepang maitake sangat terkenal sebagai terapi pendamping pasien kanker,” kata pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, itu.
Efek maitake melawan kanker terbukti pada penelitian ilmiah Prof Hiroaki Nanba dari Jepang. Hasil riset menunjukkan mengonsumsi maitake saat menjalani kemoterapi dapat mengurangi efek samping kemoterapi seperti kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rambut rontok, dan leukopenia pada 90% pasien. Sementara 83% pasien merasakan berkurangnya rasa nyeri. Penelitian Prof Hiroaki Nanba juga mengungkapkan kombinasi maitake dan kemoterapi dapat bersinergi dan meningkatkan efektivitas pengobatan 12—28%. (Riefza Vebriansyah)
