Tuesday, January 27, 2026

Raja Pahit Rival Kanker

Rekomendasi
- Advertisement -

Daun sambiloto berpotensi mengendalikan sel punca kanker payudara.

Sambiloto tanaman asli Indonesia yang
kaya khasiat untuk kesehatan.

Trubus — Di Kitab Ayurveda tanaman ini bernama kalamega bermakna awan gelap. Masyarakat di bagian timur laut India menyebutnya maha tikta alias si raja pahit. Julukan itu mengacu pada rasa daun sambiloto yang memang pahit akibat kandungan senyawa aktif andrografolida. Di balik rasa pahit itu Andrographis paniculata berkhasiat bagi kesehatan sebagaimana hasil riset Dr. rer. physiol. dr. Septelia Inawati Wanandi.

Periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menemukan cara kerja yang spesifik andrografolida mengendalikan sel induk atau sel punca kanker. Septelia telah membuka batu loncatan dalam perkembangan dunia medis, khususnya pengobatan kanker payudara. “Pada sel punca terdapat protein dalam jumlah besar dan ketahanan hidup yang tinggi. Pada sel normal, seharusnya protein ini tidak ditemukan,” kata dokter alumnus Philipps University of Marburg, Jerman, itu.

Menghambat protein

Penelitian Septelia menunjukkan andrografolida dapat mengait protein dalam sel punca agar pertumbuhannya terhambat. Perempuan kelahiran 9 September 1962 itu menggunakan ekstrak sambiloto yang telah dijual bebas dengan tingkat kemurnian 98%. Dalam riset ilmiah itu Septelia menggunakan sel kanker payudara. Bila dalam sel punca pertumbuhan protein terhambat, kematian sel akan meningkat. Akibatnya sel punca dan sel kanker lain yang telah berkembang berangsur-angsur melemah hingga mati.

Potensi kanker tumbuh kembali pun akan berkurang bahkan tidak ada sama sekali. Berbeda dengan terapi kanker pada umumnya yang hanya bertujuan untuk mengendalikan sel kanker biasa. Terapi kanker saat ini menggunakan radikal bebas yang efek sampingnya bisa berbahaya terhadap pasien. Jadi, harapannya herbal dapat dimanfaatkan sebagai pendamping terapi bahkan selanjutnya menggantikan pengobatan dengan radikal bebas.

Konsumsi makanan cepat saji tingkatkan potensi serangan kanker.

“Ide awalnya karena penasaran dengan pemanfaatan herbal. Warisan nenek moyang itu harus dikembangkan,” kata Septelia. Banyak kalangan memanfaatkan tanaman famili Achantaceae itu sebagai antioksidan untuk membangun kekebalan tubuh. Periset lain yang membuktikan sambiloto sebagai antikanker adalah Prof. Dr. Sukardiman, Apt. dan rekan dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.

Sukardiman membuktikan ekstrak daun sambiloto membuktikan mengakibatkan kematian sel kanker. Periset itu menggunakan metode pewarnaan. Hasil riset menunjukkan, sel kanker HeLa (sel kanker serviks) yang diberikan ekstrak daun sambiloto menjadi berpendar. Indikator itu menunjukkan bukti terjadinya penyisipan zat kimia pada Deoxyribo Nucleic Acid  (DNA) sel kanker.

Ia mengambil sel itu dari perempuan yang meninggal pada 1951 akibat kanker leher rahim. Menurut Sukardiman andrografolida dalam daun sambiloto menghambat aktivitas enzim yang berperan dalam proses pembelahan sel kanker. Akibat DNA sel kanker rusak terjadilah kematian sel kanker, sehingga penderita akan membaik.

Gaya hidup

Herbalis di Kota Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati kerap meresepkan daun sambiloto kepada para pasien kanker. Menurut herbalis sekaligus guru yoga itu sambiloto mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, antivirus, dan dapat mengatasi infeksi akbibat kanker. “Kandungan andrografolida pada sambiloto kunci mekanisme daun sambiloto sebagai antikanker,” kata Valentina.

Dr.rer.physiol. dr. Septelia Inawati Wanandi periset di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perempuan kelahiran 19 Februari 1965 itu meresepkan 15 gram serbuk daun sambiloto beserta campuran bahan lain—tergantung kondisi tubuh pasien. Penderita kanker tinggal merebus serbuk dengan dua gelas air hingga mendidih, menyaring ketika hangat, dan memiunumya. Frekuensi konsumsi cukup tiga kali sehari. Artinya hanya air rebusan yang dikonsumsi.

Menurut Septelia hal yang paling mendasar dalam mencegah kanker adalah gaya hidup yang sehat. Baik dari pola makan maupun kebiasaan perawatan kecantikan. “Selama penambahan zat kimia atau bahan lain belum benar-benar dibutuhkan oleh tubuh, ada baiknya jangan dilakukan,” kata Septelia. Menghindari makanan cepat saji dan mengupayakan untuk mengurangi paparan radikal bebas sudah menjadi kunci awal menghalau kanker. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img