Monday, August 8, 2022

Raksasa Baru Benua Biru

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah tin fiorone di ruvo koleksi Sulistyo Wahono di Surabaya, Jawa Timur, yang menakjubkan. Menurut Sulistyo, tin dari Italia itu memang tergolong  jumbo. “Bobot buah bisa mencapai 300 gram per buah bila ditanam di lahan,” ujar Sulistyo. Itu 4 kali lebih berat ketimbang tin yang selama ini lebih dahulu beredar di tanahair yang rata-rata berbobot 50-60 gram per buah. Rasanya juga sangat manis.

Keistimewaan itulah yang membuat Sulistyo kepincut untuk mengoleksi tin jumbo. Ia lantas memesan bibit fiorone di ruvo ke seorang rekan yang melancong ke Italia. Negeri Pizza salah satu sentra produksi tin Ficus carica. Beberapa varietas unggul tin lahir dari sana. Tanaman yang sekerabat dengan nangka itu juga kerap menjadi pilihan hobiis sebagai tanaman buah pekarangan.

Adaptif

Setelah menunggu tiga pekan, Sulistyo akhirnya mendapatkan dua bibit fiorone di ruvo dari sang rekan. Ia lantas menanam bibit hasil cangkokan setinggi 70 cm di dalam pot berdiamater 70 cm. Hobiis tin itu memanfaatkan media tanam berupa campuran tanah, serbuk sabut kelapa, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Tin-tin yang tergolong bandel itu tumbuh subur. Dua pekan setelah tanam, muncul tunas-tunas baru di batang tin.

Pada umur 2 bulan fiorone di ruvo mulai berbuah. Meski baru berbuah perdana, tapi bobot buah mencapai lebih dari 100 gram. Pada musim buah berikutnya, ukuran buah lebih besar lagi. Belum matang sempurna saja ukuran buah 150 gram. Fiorone setinggi 80 cm di rumah Sulistyo rata-rata mampu menghasilkan 10 buah per cabang. Semakin banyak daun, semakin banyak buah karena buah muncul di ketiak daun.

Menurut Sulistyo, fiorone di ruvo cocok menjadi pilihan hobiis karena adaptif  di dataran rendah. “Karakter asli yang berbuah jumbo tidak berubah,” ujar ayah dua anak itu. Perawatannya pun relatif gampang. Sebagai sumber nutrisi Sulistyo hanya memberikan pupuk kandang sebanyak 1 kg setiap 3-4 bulan.

Selain tin bongsor fiorone di ruvo, tin baru lain adalah madeleine. Menurut kolektor tin di Jakarta Selatan, Fauzi Effendi, tin itu tergolong jumbo karena berbobot 60-150 gram per buah. Warna buahnya tak kalah cantik: merah marun muda kehijauan dengan alur marun dari pangkal ke ujung buah. Begitu dibelah, terdapat kumpulan bakal biji yang berwarna merah menyala. “Rasanya juga sangat manis,” ujar Fauzi. Itulah sebabnya alumnus jurusan Farmasi Universitas Indonesia itu rela memboyong kerabat beringin itu dari Perancis ke tanahair.

Tinggi produksi

Tin jumbo lain asal Perancis adalah dauphine. Di kediaman Fauzi, tin asal negeri anggur itu bisa berbuah hingga seukuran telur ayam atau sekitar 60-150 gram per buah. Warna  buahnya mirip madeleine, hanya saja berbentuk lebih lonjong. Negeri yang menjadi pusat mode dunia itu salah satu sentra tin, terutama di Perancis bagian selatan.

Oleh karena itu para pemulia tanaman di sana terus berinovasi menghasilkan varietas tin unggul. Salah satunya noire caromb. Bobotnya tidak terlalu besar, 40-70 gram per buah. Warna buahnya merah  kehitaman. Tinggi tanaman bisa mencapai 5-7 meter. Soal rasa juga tidak mengecewakan, sangat manis.

Jika menginginkan tin dengan produktivitas tinggi, khurtmani yang juga dari Perancis itu pilihan tepat. Ukuran buah tin khurtmani rata-rata 80 gram dan rasanya manis. “Untuk pohon berumur lebih dari dua tahun produksinya bisa lebih dari 150-200 buah,” ujar Fauzi. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

 

  1. Noire coromb bobot 40-70 g bercitarasa manis
  2. Dauphine, bobot buah 60-150 dan rasanya manis
  3. Madeleine, tin jumbo dari Perancis
  4. Fiorone di ruvo, tin jumbo asal Italia
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img