Musang king adaptif di dataran tinggi dan rasanya lebih enak.

Dr Lutfi Bansir bersama rombongan harus berganti kendaraan saat hendak mengunjungi sebuah kebun durian musang king di Pahang, Malaysia. Harap mafhum, lokasi kebun di perbukitan. Jalan menuju kebun yang akan ditempuh juga terjal dan menanjak. “Kalau mobil biasa tidak akan sanggup mencapai kebun,” ujar ahli durian asal Bulungan, Kalimantan Utara, itu. Ia bersama pemilik kebun menaiki mobil berpenggerak empat roda.
Lokasi dari rumah pemilik ke lokasi kebun sebetulnya relatif dekat, yakni kurang dari 10 km. Namun, karena kondisi jalan yang terjal, Lutfi harus menempuh perjalanan hingga lebih dari satu jam. Lutfi yang duduk di bak terbuka di bagian belakang mobil juga mesti berpegangan erat sepanjang perjalanan karena mobil terus-menerus berguncang akibat kondisi jalan tanah yang bergelombang.
Paling enak

Rasa lelah setelah menempuh perjalanan berat seakan sirna saat Lutfi tiba di kebun. Di sana menghampar deretan ribuan pohon durian musang king yang tumbuh di lereng bukit. Jarak tanamnya sangat teratur. Lutfi menduga umur pohon rata-rata lebih dari 20 tahun. Hamparan kebun itu sebetulnya milik beberapa pekebun. Pekebun-pekebun itu menanam komoditas yang sama di dalam satu kawasan sehingga menjadi sebuah sentra produksi.
“Ini sebetulnya kebun produksi dan tertutup bagi umum,” tutur Lutfi. Saat Lutfi berkunjung ke kebun itu beberapa pohon tengah berbuah lebat. Sang pemilik lalu menyodorkan buah si raja musang yang sudah jatuh di kebun. Saat dibuka tampak daging buah berwarna kuning terang yang menjadi ciri khas si raja musang. Adi Gunadi yang turut dalam perjalanan mencoba salah satu pongge.
Pehobi durian asal Jakarta Selatan itu bertutur, “Daging buahnya terasa lengket dan creamy. Rasa pahitnya kuat, tetapi tetap seimbang dengan rasa manis dan legit. Ini musang king paling enak yang pernah saya cicipi.” Adi maniak durian yang pernah mencicip durian musang king di 6 negara bagian di Malaysia. Padahal, lokasi kebun durian musang king itu berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (dpl).
Lokasi kebun itu tergolong tinggi bila dibandingkan dengan kebun musang king lain yang tumbuh di Malaysia. Contohnya kebun musang king Eddie Yong di Raub, Pahang, yang berketinggian 144 m dpl. Bahkan, daerah asal musang king, yaitu kawasan Pulau Raya, Kelantan, Malaysia, hanya berketinggian 20—30 m dpl. Menurut Lutfi mengebunkan durian di dataran tinggi biasanya memiliki banyak kendala.
Salah satu aral berkebun durian di dataran tinggi adalah pertumbuhan yang lambat. “Pertumbuhan durian di dataran tinggi biasanya 2—3 kali lebih lambat daripada di dataran rendah. Umur pohon 15 tahun, ukuran pohon bisa jadi seperti durian umur 5 tahun atau 10 tahun di dataran rendah,” ujar Lutfi, doktor alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, itu.
Warna pucat
Lutfi mengatakan, kulit durian yang tumbuh di dataran tinggi juga cenderung tebal. Kondisi itu menguntungkan karena buah menjadi tidak mudah pecah sehingga lebih tahan simpan. Namun, di sisi lain porsi buah yang bisa dikonsumsi menjadi berkurang. Warna daging buah durian asal dataran tinggi juga biasanya lebih pucat. Itu terbukti pada buah musang king yang tumbuh di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, yang berketinggian 982 m dpl.

Namun, menurut Lutfi rasa musang king dari dataran tinggi justru lebih istimewa. “Daging buahnya lengket, gurih, kombinasi manis dan pahitnya seimbang, dan sebagian besar biji kempis,” ujar Lutfi. Adi juga berpendapat sama. Selain musang king asal dataran tinggi yang ia kunjungi, musang king terenak yang pernah Adi cicipi adalah dari kebun di Johor yang berketinggian 600 m di atas permukaan laut dan dikelola secara organik.
Menurut peneliti durian dan mantan dosen di Universitas Putra Malaysia, Dr Aziz Zakaria, ketinggian tempat bukan faktor utama penyebab rasa durian enak. Menurut Zakaria faktor utama penyebab musang king berkualitas prima karena berasal dari pohon berumur matang, pertumbuhannya subur, dan perawatannya bagus. “Perawatan dipengaruhi oleh pemupukan, penyiraman, sumber polen dari klon yang teruji, dan cuaca yang baik,” tutur Aziz.
Intensif
Meski berlokasi di kawasan yang sulit dijangkau, kebun musang king yang Lutfi kunjungi tetap mendapat perlakuan intensif. Contohnya dalam pemupukan. Menurut Lutfi pemilik kebun rutin menaburkan 300 g pupuk NPK 16:16:16 per pohon per bulan setiap kali usai panen. Pupuk ditaburkan di sekitar pohon. “Tujuannya untuk memulihkan energi pohon setelah terkuras habis karena berbuah,” ujar Lutfi. Pemulihan berlangsung selama 3 bulan.
Memasuki bulan ke-4 pekebun mulai mempersiapkan cadangan nutrisi untuk pembungaan dan perkembangan buah dengan memberikan pupuk yang mengandung kalium tinggi, yaitu NPK 12:12:24 dengan dosis dan interval pemupukkan sama. Untuk mengatasi serangan hama dan penyakit, pemilik kebun rutin menyemprotkan pestisida hingga dua pekan sekali.

“Di kebun monokultur penyemprotan pestisida harus rutin karena rentan serangan hama dan penyakit,” ujarnya. Di kebun itu musang king siap panen pada Desember—Maret. Perawatan intensif seperti itu membuat Lutfi terkagum-kagum. “Dengan kondisi jalan dan akses ke kebun seperti itu, rasanya mustahil kebun bisa mendapatkan perawatan intensif karena pasti biaya perawatannya tinggi,” ujarnya.
Lutfi mengatakan pemilik kebun musang king itu mengakui memang perlu biaya tinggi untuk berkebun di sana. Namun, secara bisnis tetap menguntungkan karena jenis durian yang ditanam adalah durian musang king yang berharga premium di pasaran. Lutfi menuturkan sebelum ditanami musang king, kebun itu ditanami durian D-24.
Namun, karena harga D-24 terjun bebas, pemilik kebun akhirnya melakukan top working alias sambung pucuk D-24 dengan musang king. “Dulu untuk sekali angkut hasil panen durian D-24 hanya senilai RM200. Sekarang sekali angkut nilainya mencapai RM600,” ujar pemilik kebun seperti ditirukan Lutfi. (Imam Wiguna/Pelliput: Syah Angkasa)
