
Mangga jenis baru asal Taiwan. Cita rasa manis, daging buah lembut.
Trubus — Ukuran buah mangga itu jumbo. Teddy Soelistyo memetik sebuah dan menimbangnya. Ternyata bobot buah 1,753 kg. Tak hanya jumbo, warna kulit buah tanaman anggota famili Anacardiaceae itu juga seronok, yakni berwarna merah muda. Itulah mangga jing xin asal Taiwan. Teddy mendatangkan dari Thailand pada 2015. Ia menanamnya di Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,

pembungkus buah karbon. (Dok. Teddy Soelistyo)
Menurut Teddy kulit buah jing xin saat matang berwarna ungu pekat. Namun, Teddy membungkus buah jing xin menggunakan kantong buah dari Thailand. Pembungkus buah itu berbahan seperti kertas kemasan semen, tapi bagian dalamnya berilapis karbon berwarna hitam. Rupanya pembungkusan buah itu menyebabkan warna kulit mangga jing xin menjadi lebih pucat, yakni merah jambu.
Buah kedua
Pada musim tahun 2019 jing xin berbuah yang kedua kalinya di kebun Teddy. “Pada panen perdana kualitas buah kurang optimal karena banyak terserang lalat buah,” ujar pemilik Nurseri Pohon Buah itu. Kondisi kulit buah yang tidak terserang lalat buah pun kurang mulus. “Karyawan saya keliru menyemprot pestisida. Dosisnya terlalu pekat sehingga membuat kulit buah menjadi burik,” tuturnya.

Pada musim berbuah kali ini kualitas buah lebih baik. Sebagian besar buah tampak mulus. Teddy membagikan beberapa buah hasil panen kepada para kolega untuk menguji cita rasa. “Menurut rekan-rekan yang mencicipi jing xin rasanya di atas yuwen, dominan manis tapi masih ada cita rasa segar tipis,” tutur pria yang juga mengoleksi aneka jenis tanaman hias itu. Keunggulan lain daging buah lembut dan nyaris tanpa serat. Bijinya juga tipis sehingga daging buahnya tebal.
Teddy menuturkan di kebunnya jing xin mampu berbuah lebat. Sayangnya, ia tidak menghitung jumlah panen per pohon. Padahal, ia tidak memberikan perlakuan khusus untuk memacu tanaman berbuah lebat. Sebagai sumber nutrisi ia hanya mengandalkan pupuk standar berupa 2 kg NPK berimbang setiap 5 bulan. Ia juga memberikan pupuk tambahan berupa pupuk kandang 10 kg per pohon.
Teddy sengaja tidak merawat pohon terlalu intensif untuk melihat respons tanaman bila hanya memperoleh perawatan minimal. “Jika hasilnya bagus berarti varietas itu daya adaptasinya bagus meski hanya dengan perawatan standar,” tuturnya. Di kebun Teddy jing xin bukan satu-satunya mangga baru. Mangga introduksi asal Taiwan lain yang berbuah di kebun Teddy adalah mangga ching ie.
Sambung pucuk

dominan manis dengan tekstur lembut seperti
jeli. (Dok. Teddy Soelistyo)
Teddy juga mendatangkan Mangifera indica itu dari Thailand. Ketika itu ia membawa bibit siap tanam. Namun, untuk mempercepat pertumbuhan, bibit itu tidak ia tanam langsung di tanah, tapi dijadikan sumber batang atas atau entres. Ia lalu menyambung pucuk atau top working entres pada pohon mangga yang sudah besar. Menurut Teddy cara itu lazim dilakukan penangkar bibit untuk memacu pertumbuhan bibit dengan harapan dapat lebih cepat berbuah.
“Dengan begitu dapat segera dilihat kualitas dan produktivitas buahnya sehingga layak atau tidak bibitnya diperbanyak,” ujarnya. Ukuran buah ching ie lebih mungil, yakni berbobot rata-rata 500 g per buah. Bentuk buah cenderung membulat dengan warna kulit buah marun muda. Saat matang aroma harum pekat tercium. Begitu dibelah daging buah tampak kuning menyala. Bijinya tipis sehingga daging buah terlihat tebal.
Rasa daging buah dominan manis saja. Tekstur buah sangat lembut seperti jeli. Soal produktivitas Teddy belum bisa mengatakan produktif karena baru sekali berbuah. Kehadiran jing xin dan ching ie menambah panjang jumlah varietas mangga asal Taiwan di tanah air. Menurut peneliti Hualien District Agricultural Research and Extension Station di Kota Hualien, Taiwan, Lily Lin, jing xin salah satu varietas mangga yang tumbuh di sentra Tainan, Taiwan.
Negeri Formosa itu juga mengembangkan varietas red lan, jin hwung, dan irwin. Namun, di antara aneka jenis varietas mangga yang berkembang di Taiwan, irwin yang paling banyak dibudidayakan. Di Tainan setidaknya 45% dari total produksi mangga adalah jenis irwin. Padahal, masyarakat Indonesia kurang menggemari cita rasa irwin lantaran rasanya yang cenderung masam.
Rupanya produksi irwin di sana untuk memenuhi pasar negara-negara di Benua Eropa. Mereka menyukai cita rasa mangga manis kombinasi masam karena menyegarkan. Kehadiran dua mangga jenis anyar asal Taiwan itu dapat menjadi pilihan bagi para kolektor mangga di berbagai daerah sambil menguji stabilitas kualitas buahnya di tempat berbeda. (Imam Wiguna)
