Sunday, November 27, 2022

Reptil: Diburu sampai Negeri Seberang

Rekomendasi

Tekad Erick sudah bulat saat memutuskan untuk mengarungi jarak sekitar 11.000 mil yang memisahkan Madagaskar dan Surabaya. Madagascar tree boa dan madagascar ground boa yang diinden memang tak kunjung hadir. Padahal, bos sasana tinju Pirih Boxing Camp itu sudah membuka jejaring. Pet shop-pet shop di luar negeri disurati lewat internet. Erick juga mengontak hobiis dan kolektor yang kemungkinan memiliki boa madagaskar. ‘Nihil, sampai ditunggu sebulan tidak ada hasilnya,’ katanya.

Semua itu berawal dari sebuah buku reptil terbitan dari Amerika Serikat. Di salah satu bab buku diceritakan mengenai keistimewaan boa madagascar lengkap dengan foto yang prima. ‘Benar-benar cantik. Coraknya unik, kepalanya itu mirip sekali viper (ular beracun, red),’tutur pemilik perusahaan swasta suplier bahan bakar ke Pertamina itu. Jenis ular koleksi Erick sebenarnya sudah banyak dan itu dari jenis-jenis langka seperti morulus, burmese python hijau, dan silangan morulus lokal dan albino.

Dari pet shop di pinggir kota Madagaskar, Erick membeli masing-masing seekor boa tree madagascar dan boa ground madagaskar. ‘Saya beli seharga US$500/ekor untuk ukuran 50 cm,’ tambahnya. Di tanahair jenis dan ukuran serupa menyentuh harga Rp30-juta/ekor. Erick kian sumringah saat boa tree madagascar didaulat menjadi grand champion kontes reptil di Surabaya pada Mei 2007. ‘Warnanya kontras kombinasi hijau, cokelat, dan ungu. Karakternya juga tenang,’ ujar Syamsul Bahri, juri kontes.

Masih dari kota Pahlawan gara-gara tokek, Budi Wonosasmito datang ke Bangkok, Thailand, sekitar 6 bulan lalu. ‘Saya lagi keranjingan mengoleksi tokek-tokek bisu dan Thailand banyak menjual jenis tokek,’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Teknologi Mesin (STTM) di Surabaya itu. Selama 5 hari penuh kolektor ular itu memasuki setiap pet shop di kawasan Chatucak. ‘Saat itu kebetulan tidak musim sehingga cuma dapat 5 african fat tailed gecko,’ kata Budi yang sudah mengoleksi 10 jenis tokek.

Lewat internet

Berbelanja reptil di luar negeri bagi sebagian hobiis dan kolektor memang menyenangkan. Selain mengetahui tren reptil dunia, ‘Jenis baru yang sulit diperoleh di tanahair pasti bisa didapat,’ kata Erick. Keuntungan lainnya, ‘Beberapa jenis harganya lebih murah ketimbang di tanahair,’ kata Budi. Contoh cornsnake. Di mancanegara ular asal Amerika Tengah ukuran baby, 20-25 cm, itu dijajakan dengan harga Rp400.000-Rp500.000/ekor; di tanahair Rp1,5-juta-Rp2-juta/ekor.

Namun, bukan berarti tidak pergi ke luar negeri tidak selalu up to date. ‘Banyak cara untuk mendatangkan jenis baru, melalui internet atau teman,’ kata Ezra Jingga, kolektor di Sunter Jakarta Utara. Saat mendatangkan painted agamas-sejenis bearded dragon berukuran mini-yang sudah diincar lama dari Malaysia, Ezra minta bantuan seorang kawan. ‘Memang tidak bisa banyak, namanya juga nitip,’ ujarnya.

Itu juga dilakukan Leonardus di Yogyakarta. Untuk mendatangkan kura-kura dari Thailand, Amerika Serikat, China, dan Afrika, ‘Saya titip lewat teman importir di Jakarta,’ ujar direktur CV Nugrah Pratama Labelindo itu.

Lain lagi dengan Hendy Hernando di Surabaya yang mencari lewat jalur dunia maya. Itu dilakukan saat mendatangkan masing-masing sepasang python super tiger dan morulus albino, serta seekor morulus labirin dari Texas, Amerika Serikat. ‘Python super tiger baru datang setelah setahun dipesan karena stok barang di sana kosong,’ ujar alumnus marketing Universitas Petra di Surabaya yang merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah itu.

70% di Indonesia

Menurut El Sahal Pulubuhu, ketua perkumpulan reptil Smiley di Surabaya, reptil-reptil impor disukai karena menghadirkan corak warna cerah. ‘Jadi mereka terlihat eksotis,’ ujarnya. Hal senada diungkapkan Tony Chandra di Sawangan, Depok. ‘Impor reptil dilakukan untuk jenis yang tidak ada di tanahair,’ ujar mantan importir reptil itu. Jenis-jenis itu seperti milksnake, kingsnake, dan baby boa.

Data perdagangan tumbuhan dan satwa liar menunjukkan hingga 2005 terdapat sekitar 1.800 reptil dari sekitar 26 spesies diimpor masuk lewat jalur bandara di Indonesia. Jenis-jenisnya antara lain; Geochelone pardalis, G. sulcata, Tupinabis merianae, dan Varanus albigularis. Sebetulnya dibandingkan ekspor reptil, volume itu terbilang kecil. Di tahun sama tercatat 59.755 reptil dari 40 spesies ke luar tanahair.

Menurut drh Slamet Raharjo MS, kekayaan jenis reptil di tanahair termasuk salah satu yang terbesar di dunia. ‘Hampir 70% jenis reptil di dunia ada di sini,’ ujar pendiri klub reptil Ophio di Yogyakarta itu. Bahkan beberapa jenis ular menjadi incaran kolektor dunia. Sebut saja Morelia viridis yang endemik Papua. Di pasar internasional, green tree python-nama dagang-dijual U$$7.800/ekor untuk ukuran remaja dengan panjang tubuh sekitar 1 m.

Selain ular, Indonesia juga dikenal surganya kura-kura darat dan air. Tidak kurang dari 273 jenis ada di tanahair. ‘Beberapa yang diperdagangkan sudah dilindungi karena langka,’ ujar Slamet. Mengutip data The Center for Applied Biodiversity Science (CABS), kura-kura leher panjang Chelodina mccordi asal Pulau Roti misalnya sudah dikategorikan sebagai Critical Endangered (CR). Artinya spesies itu menghadapi risiko kepunahan sangat tinggi di alam liar dalam waktu cepat.

Hiburan

Mengoleksi reptil memang tengah tren. Tak hanya di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, para kolektor reptil kini tersebar hingga Bali dan Makassar di Sulawesi Selatan. ‘Ada rasa bangga memiliki reptil yang sebelumnya ditakuti,’ ujar El Sahal. Namun, bagi kolektor yang telah lama berkecimpung, nilai kebanggaan bergeser bila mampu mengimpor reptil baru, unik, dan langka. ‘Ada gengsi yang berbicara di situ,’ tambah El Sahal.

Menurut dr Saraswati MPsi, psikolog di Malang Jawa Timur, kegemaran orang mengoleksi reptil merupakan wujud kesenangan untuk mengisi kekosongan jiwa. ‘Jiwa yang kosong perlu dihibur, salah satunya dengan memelihara hewan atau tanaman. Itu sekaligus bentuk penyaluran rasa kasih sayang,’ ujar alumnus FKU Universitas Brawijaya itu.

Lebih jauh peraih master di Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus di Surabaya itu menuturkan umumnya hobiis masuk kategori ‘senang biasa’. Itu karena ada pembatas menjalani hobi seperti faktor keuangan, waktu, dan fasilitas. Namun, di luar itu, ‘senang plus’, tanpa pembatas dan sering dianggap berlaku ekstrim, semisal berburu ular hingga tempat jauh dan berbahaya. ‘Tidak ada efek negatif apa pun selain rasa bangga yang besar,’ ujar Saraswati. Itu pula yang mungkin menuntun Erick terbang jauh ke Madagaskar demi boa madagascar. (Dian AS/Peliput: Lani M, Lastioro AT, Andretha H)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img