Monday, April 15, 2024

Reptil Unik di Pulau Terluar

Rekomendasi
- Advertisement -
Mock viper ditemukan kembali di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu
Mock viper ditemukan kembali di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu

Matahari belum tinggi ketika tim peneliti Ekspedisi Bioresources Enggano 2015 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berjalan memasuki naungan pepohonan. Sepatu lapangan dengan tinggi hampir selutut memudahkan mereka menapak tanpa takut terperosok atau tergelincir. Di bawah kelebatan tajuk hutan tropis dataran rendah, sesosok hewan bertubuh panjang melingkar tenang. Bentuk kepala segitiga (copperhead)—salah satu ciri ular berbisa jenis malayan pit viper—membuat mereka berhati-hati ketika mendekat.

Bentuk kepala segitiga itu ternyata hanya gertakan. Ular itu tidak mampu menyuntikkan bisa untuk melumpuhkan calon mangsanya. Dengan hati-hati tim LIPI menangkap reptil melata itu lalu memasukkan ke dalam kantong. Identifikasi menunjukkan itu adalah ular viper palsu Psammodynastes pulverulentus. “Letak taring bisa terlalu ke belakang dan kelenjar venom tidak berkembang sehingga pasti tidak mampu memproduksi bisa,” kata Dr Amir Hamidy MSc, periset Pusat Penelitian Zoologi LIPI yang menjadi koordinator ekspedisi itu.

Tidak hanya unik, viper palsu itu juga terbilang langka lantaran setelah diberi nama pada 1892, ular itu dijumpai terakhir dalam kondisi hidup pada 1936. Jumlah individu yang ditemukan pun tidak pernah banyak. Penemuan 1892 hanya 2 ular betina, sementara pada 1936 malah hanya 1 betina yang lantas dibuat awetan. Di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, Amir Hamidy dan tim hanya menjumpai 1 individu berkelamin jantan.

“Meski tersebar luas dari Myanmar, Thailand, Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Bali, tetapi ular viper palsu sangat jarang dijumpai di alam,” kata Amir. Kemiripan morfologi dengan viper sejati tidak berarti keduanya berkerabat dekat. Viper palsu alias mock viper itu termasuk dalam famili Colubridae. Sementara viper sejati tergolong famili Viperidae. Mock viper sefamili dengan ular susu alias milksnake Lampropeltis triangulum atau kingsnake Lampropeltis getulas.

Ular tikus enggano jenis endemik yang hanya ada di Enggano, Provinsi Bengkulu.
Ular tikus enggano jenis endemik yang hanya ada di Enggano, Provinsi Bengkulu.

Kedua jenis yang disebut belakangan lazim menjadi peliharaan lantaran memiliki corak indah dan nirbisa. Sudah begitu, ular anggota famili Colubridae kebanyakan berukuran kecil dengan panjang maksimal 2 m. Itu berbeda dengan piton Python reticulatus atau condro Morelia viridis yang panjangnya bisa lebih dari 3 m. Meski langka di alam, penelusuran di dunia maya menunjukkan bahwa viper palsu itu marak diperjualbelikan dengan nama thailand mock viper lantaran penjualnya berada di negeri Siam itu.

Ular unik yang langka itu bukan satu-satunya penemuan istimewa Ekspedisi Enggano. Pulau seluas 402,6 km2 itu juga menyimpan ular tikus enggano Coelognathus enganensis, yang merupakan jenis endemik. Ular itu berkerabat dekat dengan Coelognathus radiatus yang hidup di region Sunda Kecil, meliputi Bali, Nusa Tenggara, Maluku barat daya, dan pulau Timor. “Kekerabatan itu membuktikan isolasi geografis yang sangat lama dari spesies yang awalnya sama,” kata Amir Hamidy.

Maklum, Enggano sejatinya tergolong rantai patahan yang membentuk kepulauan Mentawai sekarang, bukan berasal dari daratan utama Sumatera. Itu sebabnya satwa di pulau itu banyak kemiripan dengan di Siberut, pulau utama di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Tim LIPI juga menemukan reptil endemik lain, yakni cecak ramping Hemiphyllodactylus engganoensis. Sepintas cecak itu sama dengan cecak pohon di halaman rumah, hanya corak bertotol di kulitnya yang membedakan dengan cecak biasa.

Cecak ramping endemik Enggano.
Cecak ramping endemik Enggano.

Cecak ramping juga hidup di pepohonan dan memangsa serangga kecil, sementara ia juga menjadi mangsa bagi predator. Reptil endemik yang tidak kalah menarik adalah cecak terbang Draco modigliani. Cecak terbang itu masih kerabat dekat cecak terbang Draco volans, yang di Jawa dijuluki klarap atau cleret gombel. Baik D. volans maupun D. modigliani tidak ada yang benar-benar bisa terbang seperti burung.

Mereka sama-sama mengandalkan selaput kulit yang tumbuh di antara perpanjangan tulang rusuk untuk melayang. Cecak terbang melayang dari satu pohon ke pohon berdekatan untuk menghindari pemangsa, memburu mangsa, atau memikat pasangan. “Itu juga dilakukan oleh cecak terbang di Enggano,” kata Amir. Cecak jantan nyaris tidak pernah menyentuh tanah, sementara cecak betina harus turun lantaran ia meletakkan telur di dalam tanah.

Kelak begitu menetas, bayi cecak terbang langsung memanjat pohon dan hidup di sana sampai dewasa. Selain reptil-reptil endemik, di Enggano pun ada satwa dari daratan Sumatera, antara lain biawak air dan buaya muara. Itu lantaran, “Seiring waktu terjadi invasi satwa dari daratan, biasanya ketika terjadi badai atau tsunami,” kata Amir. Untungnya menurut Amir invasi itu tidak mengakibatkan kepunahan spesies endemik.

Cecak terbang, jenis endemik yang berkerabat dengan reptil sejenis di Jawa.
Cecak terbang, jenis endemik yang berkerabat dengan reptil sejenis di Jawa.

Hal itu karena tersedia cukup mangsa bagi spesies endemik maupun pendatang. “Lagi pula yang mampu menyeberang hanya satwa besar yang kuat berenang seperti buaya atau biawak,” kata alumnus Kyoto University, Jepang, itu. Perbedaan habitat antara reptil endemik dengan pendatang memungkinkan mereka hidup berdampingan tanpa harus saling bunuh. Punahnya spesies asli oleh pendatang pernah terjadi di Selandia Baru, yang saat itu dihuni spesies asli berupa burung terestrial yang tidak dapat terbang.

Penjajah Eropa memasuki pulau itu dan membawa kucing peliharaan mereka. Kucing jinak yang lucu menjadi pembantai bagi burung-burung itu, banyak yang punah sebelum sempat tercatat. Di Enggano reptil asli bisa hidup bersama dengan pendatang, membuktikan bahwa eksosistem di sana relatif baik. Masalahnya pulau kecil yang menjadi gerbang terluar sisi barat Nusantara itu juga menghadapi masalah konversi lahan, terutama untuk kebun masyarakat. Penyelesaian saling menguntungkan antara masyarakat dengan kehidupan liar harus segera ditemukan sebelum spesies endemik punah tergusur manusia. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Sensasi Rasa Pir pada Durian Kawe

Trubus.id—Indonesia memiliki ragam durian lokal yang tak kalah enak. Salah satunya durian kawe dari Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img