Riset Bandingkan Tiga Sistem Budidaya Nila, Mana Lebih Menguntungkan?

Rekomendasi

Trubus.id — Pemilihan sistem budidaya berpengaruh terhadap produktivitas dan keuntungan usaha ikan nila. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membandingkan tiga sistem budidaya, yakni kolam intensif, bioflok, dan keramba jaring apung (KJA). Hasilnya, setiap sistem memiliki keunggulan berbeda, mulai dari produktivitas biomassa hingga efisiensi pakan.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Estu Nugroho, memaparkan hasil kajian tersebut dalam webinar AquaTalk#12 pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Penelitian itu menggunakan data unit produksi komersial di Jawa Barat selama 2024. Pengamatan mencakup 273 unit kolam intensif, 83 unit KJA, dan 18 unit bioflok. Pengambilan data dilakukan selama tiga siklus produksi hingga ikan mencapai ukuran pasar di atas 200 gram per ekor.

Analisis meliputi tingkat kelangsungan hidup ikan, efisiensi pakan, pertumbuhan harian, produktivitas biomassa, serta indikator ekonomi usaha.

Bioflok Unggul dalam Efisiensi Pakan

Hasil kajian menunjukkan sistem bioflok mencatat efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 84,03%. Sistem ini juga memiliki harga pokok produksi (HPP) terendah dibandingkan dua sistem lainnya.

Dengan asumsi harga jual ikan nila seragam sebesar Rp30.000 per kilogram, HPP budidaya bioflok mencapai Rp14.715 per kilogram. Sebagai perbandingan, HPP kolam intensif sebesar Rp19.370 per kilogram, sedangkan KJA Rp18.428 per kilogram.

Bioflok juga mencatat rasio penerimaan terhadap biaya (R/C ratio) sebesar 1,57 dan tingkat pengembalian investasi (ROI) 38,55%. Adapun kolam intensif memiliki R/C ratio 1,45 dan ROI 35,18%. Sementara itu, KJA mencatat R/C ratio 1,34 dan ROI 19,09%.

Nilai R/C ratio di atas satu menunjukkan penerimaan usaha lebih besar daripada biaya yang diperhitungkan dalam analisis. Adapun ROI menggambarkan tingkat pengembalian investasi berdasarkan perhitungan penelitian.

Menurut Estu, hasil tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tinggi tidak selalu sejalan dengan efisiensi ekonomi. Bioflok menawarkan kombinasi efisiensi pakan dan indikator keuntungan yang lebih baik dalam kajian tersebut.

Kolam Intensif Menghasilkan Biomassa Tertinggi

Dari sisi produktivitas biomassa, kolam intensif mencatat hasil tertinggi, yakni 24,55 kilogram per meter kubik. Bioflok menyusul dengan produktivitas 23,95 kilogram per meter kubik, sedangkan KJA menghasilkan 2,27 kilogram per meter kubik.

Sementara itu, KJA mencatat pertumbuhan harian rata-rata tertinggi secara numerik, yaitu 3,11 gram per hari. Meski demikian, pertumbuhan harian rata-rata ikan pada ketiga sistem relatif serupa.

Tingkat kelangsungan hidup ikan pada kolam intensif dan bioflok juga lebih tinggi dibandingkan KJA dalam kajian tersebut.

Berdasarkan hasil itu, kolam intensif berpotensi menjadi pilihan bagi pembudidaya yang mengejar produksi biomassa tinggi, terutama untuk usaha berskala besar. Adapun bioflok dapat dipertimbangkan oleh pembudidaya yang mengutamakan efisiensi pakan dan kinerja ekonomi.

Sementara itu, KJA memiliki karakteristik operasional berbeda karena memanfaatkan perairan terbuka. Namun, produktivitas biomassa dan indikator profitabilitasnya lebih rendah dibandingkan dua sistem lainnya dalam penelitian ini.

Kualitas Air Menentukan Keberhasilan Budidaya

Selain produktivitas dan biaya produksi, kualitas air menjadi faktor penting dalam budidaya nila. Kajian BRIN mencatat kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) pada kolam intensif berkisar 2,6–6,9 ppm. Pada KJA, kadar DO mencapai 3,0–8,0 ppm, sedangkan bioflok 1,5–6,4 ppm.

Sistem kolam intensif dan bioflok membutuhkan pengelolaan oksigen serta limbah secara cermat untuk mendukung produktivitas tinggi. Adapun KJA lebih bergantung pada kondisi perairan dan daya dukung lingkungan.

Estu menekankan bahwa pemilihan sistem budidaya tidak dapat hanya mengacu pada satu indikator. Pembudidaya perlu mempertimbangkan target produksi, kebutuhan modal, biaya operasional, kemampuan pengelolaan, dan kondisi lingkungan.

Kajian berbasis data produksi komersial ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan budidaya nila tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan yang dipanen. Efisiensi pakan, biaya produksi, serta pengelolaan lingkungan turut menentukan keberlanjutan usaha.

Sumber: https://www.brin.go.id/news/130906/budidaya-nila-lebih-efisien-riset-brin-bandingkan-bioflok-kolam-intensif-dan-keramba

Artikel Terbaru

Ampas Kacang Tanah Diolah Menjadi Snack Bar Bernilai Tambah

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Zahrah Nabila Ariq, mengolah ampas kacang tanah menjadi snack bar. Inovasi tersebut memanfaatkan hasil samping...

More Articles Like This