Wednesday, August 10, 2022

Rumah Baru Gincu Merah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Hikmat Sumantri (kemeja biru paling kanan) dan warga Jembarwangi petik berkah off-season gedong gincuDesa Jembarwangi mampu hasilkan 260 ton gedong gincu setiap tahunPatung mangga gedong gincu setinggi 2,5 meter itu menyambut semua orang yang bertandang ke Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Arca itu mengingatkan pada patung bawang putih di pintu masuk Desa Sembalunbumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Di Sembalun, patung Allium sativum itu sebagai pertanda desa di kaki Gunung Rinjani pada ketinggian 1.500 m itu pernah sangat sohor sebagai sentra bawang putih tanahair dengan luas penanaman hingga 900 ha. Mestinya patung gedong gincu itu ada di Indramayu, Cirebon, atau Majalengka, sentra mangga berwarna jingga berona merah itu.

Namun, lihatlah di Jembarwangi. Di setiap halaman rumah penduduk desa berjarak 30 km dari Kota Sumedang itu terlihat 1-2 pohon gedong gincu menjulang. Menurut penyuluh lapang dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi Jawa Barat, Hikmat Sumantri SP, di desa seluas 460 ha itu terdapat 26.000 pohon gedong gincu beragam umur. “Yang tertua berumur 70 tahun,” tutur Hikmat.

Luar musim

Dengan asumsi setiap pohon berumur 25 tahun menghasilkan 100-150 kg buah, maka pada setiap musim berbuah pada Juni-Oktober dituai 260 ton gedong gincu dari Jembarwangi. Mangga-mangga itu lalu dikirim ke pengepul di Kabupaten Majalengka atau Kabupaten Cirebon dengan harga jual Rp26.000/kg buah kualitas A. Sebagian dijajakan di pinggir jalan raya Cirebon-Bandung di Sumedang. Harap maklum gedong gincu di sana berbuah di luar musim raya seperti di sentra Indramayu atau Cirebon yang berlangsung setiap Oktober-Desember. Pantas harga diterima pekebun lebih mahal 3-5 kali lipat dibanding saat panen raya.

Masa berbuah di luar musim itu berkat perlakuan perawatan secara intensif (baca Empat Kali Lipat di Luar Musim, Trubus Februari 2011). Cara yang diperkenalkan oleh Hikmat pada 2008 itu mendongkrak pendapatan pemilik pohon sebanyak 400%. Handi Erik ingat benar, sebelum menerapkan teknik pembuahan di luar musim dari 38 pohon gedong gincu ia hanya mengantongi pendapatan Rp20-juta setiap panen. Setelah berinovasi, dompetnya menebal menjadi Rp96-juta dari jumlah pohon sama.

Pantas bila kemudian para pemilik pohon mangga bergincu merah itu getol merawat tanaman. Setiap awal musim hujan setiap pohon mendapatkan asupan 40-80 kg pupuk kandang tergantung umur tanaman. Pada pupuk kandang ditambahkan cendawan Trichoderma sp sebanyak 100 g per 40 kg pupuk kandang untuk mempercepat penyerapan nutrisi. Nutrisi lain berupa pemberian 1-2 kg kalium nitrat (KNO3) dan 4-8 kg NPK 15-15-16 pascapemangkasan dan penyiangan pada November-Desember.

Supaya tanaman berbunga serempak setiap pohon disemprot 15-20 cc paklobutrazol yang diencerkan dalam 20 liter air. Untuk mencegah bunga rontok pekebun mengaplikasikan 4 sendok makan monokalium fosfat (KH2PO4) dan 17 liter air yang dicampur 10 cc fungisida berbahan aktif pyraclostrobin, 2 sendok makan fungisida berbahan aktif karbendazin, 20 cc fungisida berbahan aktif difenokonazol, serta 2 tutup botol cairan perekat.

Sambung pucuk

Sebelum 2008 pohon-pohon itu dibiarkan tumbuh seadanya tanpa perawatan. “Memelihara mangga dianggap tidak ekonomis karena harganya saat panen raya Oktober-Desember sangat murah, Rp10.000 per kg,” kata Handi. Dengan produktivitas per pohon umur 20-an tahun, 70-80 kg, pemilik pohon hanya mengantongi Rp700.000-Rp800.000. Semakin tidak menjanjikan secara ekonomis, semakin malas pekebun merawat. Kian turun pula produktivitas tanaman.

Penduduk Jembarwangi pun lebih memilih menggantungkan hidup pada pekerjaan bertani atau sektor informal lain di perkotaan. Itulah yang kemudian mendorong Hikmat untuk memperkenalkan cara perawatan intensif pada pekebun mangga di Jembarwangi. “Pasar gedong gincu sebetulnya besar, tapi perlu strategi sehingga keuntungan yang lebih besar bisa ditangguk,” tutur Hikmat.

Kini banyak pemilik pohon menebang mangga selain gincu dan menyambung dengan pucuk si rona merah itu. Contohnya Keme yang memangkas 20 batang pohon mangga bapang. Pada tunas yang baru muncul ia menempel entres gedong gincu. Tiga hingga empat tahun ke depan Keme berharap menuai gedong gincu dari hasil sambung itu.

Dengan total produksi 260 ton per musim buah, Jembarwangi, menurut Hikmat, menjadi produsen gedong gincu terbesar di Sumedang. Di Kota Tahu itu gedong gincu juga tercatat terdapat di Desa Cintajaya, Kecamatan Jatigede dengan populasi 20.000 pohon. Produksi Jembarwangi sejajar dengan beberapa sentra di Indramayu, Majalengka, atau Cirebon yang lebih dulu dikenal sebagai pemasok gedong gincu. Maka kini jika bertandang ke Sumedang jangan cuma bawa pulang tahu, tapi juga gedong gincu. (Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img