Monday, January 26, 2026

Rupiah dari Ulat Hongkong

Rekomendasi
- Advertisement -

Mengawali bisnis ulat hongkong dari kandang terbengkalai. Produksi kini 2 ton per bulan dan beromzet Rp80 juta.

Koes Hendra Agus Setiawan, S.Pt.,
mendapatkan omzet puluhan juta rupiah dari penjualan ulat hongkong setiap bulan. (Dok. Trubus)

Trubus — Semula teman-teman meremehkan keputusan Koes Hendra Agus Setiawan, S.Pt., untuk membudidayakan ulat hongkong pada September 2016. Hanya dua teman—Benny Akbar Kurniawan, S.Pt., dan Ongky Pratama, S.Pt.—yang setia menemani perjuangan Koes mengembangkan larva kumbang Tenebrio molitor itu. Koes memanfaatkan modal Rp1 juta hasil patungan bertiga. Ia mengawali produksi di kandang ternak terbengkalai berukuran 4 m x 3 m milik kampus Institut Pertanian Bogor .

Produksi pertama yang berhasil baru 50—100 kg per bulan. Ketika produksi meningkat, mereka menggunakan ruangan lain 15 m x 10 m di lokasi sama. “Kami menjadi buah bibir semua orang setelah budidaya ulat hongkong membuahkan hasil,” kata pria berumur 23 tahun itu. Kini Koes dan rekan menjual sekitar 2 ton ulat hongkong segar, 300—400 kemasan ulat hongkong kering (masing-masing berbobot 50 g), 100 kemasan abon ulat hongkong (masing-masing berbobot 30 g), dan 15 ton konsentrat untuk ternak setiap bulan.

Lonjakan produksi

Menurut Koes abon ulat hongkong untuk konsumsi masyarakat yang kaya protein dan omega. Sejak 2019 ia mengolah sendiri abon ulat hongkong. Selain itu Koes juga menjual 100 kemasan ulat jerman Zophobas morio kering dan 100 kemasan jangkrik Gryllus mitratus kering. Kemasan ulat jerman dan jangkrik masing-masing berbobot 30 g. Koes mengatakan 1 kg kering ulat hongkong berasal dari 3 kg segar. Sementara ulat jerman dan jangkrik, 1 kg kering hasil penjemuran 4 kg segar.

Ulat hongkong pakan favorit beragam jenis klangenan termasuk sugar glider. (Dok. Sugeng Jaya Farm)

Produk ulat hongkong kering termasuk inovasi baru di Indonesia. Sebelumnya pasokan ulat hongkong kering di pasaran berasal dari Cina. Koes mendapatkan omzet sekitar Rp80 juta per bulan dari hasil perniagaan semua produk itu. Pemuda itu mengutip laba 35—40% dari omzet setara Rp28 juta—Rp32 juta saban bulan. Jumlah itu tergolong besar untuk Koes yang lulus kuliah pada Juni 2019. Angka itu pun jauh lebih tinggi daripada Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) Kabupaten Bogor yang mencapai sekitar Rp3,76 juta.

Omzet Koes dan rekan berpeluang meningkat pada pengujung 2019. Alasannya saat itu kapasitas produksi mencapai 15 ton ulat hongkong segar per bulan. Lonjakan produksi itu berkat kemitraan dengan beberapa orang terpercaya di Ciawi, Ciseeng, Ciampea, semuaya kecamatan di Kabupaten Bogor, dan Tangerang Selatan, Banten. Ia melibatkan 4 peternak mitra di berbagai daerah untuk meningkatkan produksi. Harap mafhum, permintaan larva serangga untuk pakan beragam klangenan seperti burung, ikan hias, dan tupai gula atau sugar glider itu terus meningkat.

Koes Hendra Agus Setiawan, S.Pt. (tengah), beserta dua teman seperjuangan Benny Akbar Kurniawan, S.Pt, (kanan) dan Ongky Pratama, S.Pt. (Dok. Sugeng Jaya Farm)

Sebetulnya Koes tidak menyangka menjadi peternak ulat hongkong. Ia merintis budidaya mealworm—sebutan lain ulat hongkong—untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di perantauan. Pria kelahiran Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu berusaha tidak merepotkan orang tua ketika menempuh pendidikan di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Jadilah ia menekuni segala macam bisnis seperti berjualan donat dan mi instan serta menjadi agen bus. “Tujuan saya kuliah di IPB karena ingin menjadi wirausaha,” kata Koes yang mendirikan PT Sugeng Jaya Grup itu. Koes menyadari memerlukan bisnis yang tidak bergantung kepada orang lain. Pilihan jatuh pada budidaya serangga atas saran seorang dosen. Selain itu potensi pasar serangga seperti jangkrik dan ulat hongkong relatif bagus.

Perawatan serangga pun tidak boros waktu. Semula Koes memelihara semut penghasil kroto lantaran tergiur harga tinggi. Ternyata ia kurang cocok dengan budidaya semut dan beralih ke ulat hongkong pada September 2016. Meski demikian bukan berarti mengusahakan ulat hongkong tanpa aral. Koes jatuh-bangun membesarkan serangga anggota famili Tenebrionidae itu (baca boks: Sekamar Bersama Ulat)

Budidaya ulat hongkong hemat lahan karena kotak budidaya bisa ditumpuk.

Pelan tapi pasti perjuangan Koes dan rekan membuahkan hasil dan diapresiasi banyak pihak. Contohnya mereka meraih juara ke-1 Kompetisi Bisnis KategoriProduksi/Budidaya Expo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) pada 2017 dan 2018. Dana pembinaan dari acara itu untuk mengembangkan peternakan ulat hongkong. Koes dan rekan juga mendapatkan dana lebih dari Rp300 juta dari program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT).

Penyelenggara program itu Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Koes memanfaatkannya untuk pengembangan inovasi ulat hongkong kering. Sejak 2017 ia mengeringkan larva itu hingga berkadar air 2,88%. Oleh karena itu, ulat hongkong pun lebih awet karena mampu bertahan selama 8 bulan. Menurut Koes budidaya ulat hongkong di Jawa Barat serta Jakarta dan Tangerang, prospektif.

Kebutuhan ulat hongkong segar di wilayah Bogor mencapai 8 ton per bulan. Yang baru terpenuhi 5 ton per bulan sehingga ceruk pasar 3 ton per bulan. Sementara Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) memerlukan 80 ton ulat hongkong segar per bulan. Dari jumlah itu baru terpenuhi sekitar 50%. Koes menyarankan peternak pemula mengetahui potensi pasar di daerah masing-masing sebelum memulai budidaya ulat hongkong.

Sekamar Bersama Ulat

Memelihara ulat hongkong penuh perjuangan. Kali pertama membudidayakan ulat hongkong pada September 2016 Koes Hendra Agus Setiawan S.Pt., dan kedua rekan memanfaatkan kandang ternak tidak terpakai milik kampus berukuran 3 m x 4 m. Mereka tinggal bersama kumbang dan ulat hongkong selama 3 tahun. Tujuannnya bukan sekadar menghemat biaya produksi, tetapi juga mempelajari cara budidaya yang baik dan benar.

Kumbang Tenebrio molitor kerap berkeliaran di tubuh Koes Hendra Agus Setiawan ketika tidur.

Harap mafhum saat itu Institut Pertanian Bogor (IPB) belum memiliki tenaga pengajar dengan keahlian budidaya ulat hongkong. “Kumbang berjalan di tubuh ketika kami tidur pun sudah biasa,” kata penjual aneka hewan peliharaan pada 2008—2012 itu mengenang. Tantangan lain Koes memelihara ulat hongkong yaitu kerugian materi. Salah satunya karena peternak ulat hongkong senior tidak menjadikan Koes dan rekan sebagai mitra sebagaimana perjanjian yang disepakati.

Akibatnya tidak ada aktivitas pembesaran ulat hongkong sehingga Koes Hendra Agus Setiawan rugi Rp30 juta. Kerugian lainnya bernilai Rp3,5 juta karena konsumen tidak membayar pesanan 150 kg ulat hongkong. Selain itu Koes juga rugi Rp15 juta akibat pengadaan kotak budidaya tidak sesuai ketentuan. Kotak kayu yang dikirim rusak karena menggunakan tripleks bekas. Beragam hambatan itu menjadi pelajaran bagi Koes. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img