Sunday, August 14, 2022

Satu Tahap Setelah Kontes

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pehobi tidak lagi sekadar mendengar kicauan. Beberapa pehobi kini menjadi penangkar.

Piyik lovebird berumur 2 bulan dan siap jualKesibukan mengikuti lomba sudah usai bagi Antony Tjiawi sejak kontes burung berkicau di Lapangan Banteng pada 2012 selesai. Itulah kiprah terakhir Antony sebagai pehobi burung berkicau. Nama Antony Tjiawi kini lebih mencorong sebagai penangkar muraibatu, cucakrawa, kenari, dan lovebird di Bogor, Jawa Barat. “Sekarang tantangannya adalah menghasilkan burung yang bagus,” kata alumnus jurusan Akuntansi Universitas HKBP Nommensen di Medan, Sumatera Utara.

Sebagai penangkar Antony merintis sejak 2010. Ia memulai dengan menangkar sepasang muraibatu. Burung yang hingga kini menjadi burung ocehan favorit pehobi itu dipilih karena memiliki harga jual tinggi. Sebagai gambaran harga piyik Copycus malabaricus jantan berumur 6 bulan mencapai Rp2-juta—Rp3,5-juta dan betina Rp1,5-juta—Rp2-juta per ekor. Bahkan sepasang induk mencapai Rp7,5-juta—Rp10-juta. “Harganya stabil, bahkan cenderung naik,” ujarnya.

Saat ini Antony menangkarkan 20 pasang induk anggota famili Turtidae itu. Setiap pasang induk dipelihara di kandang berukuran 150 cm x 75 cm x 200 cm. Beberapa pasang induk sudah berproduksi. “Seekor betina menelurkan 3—4 butir dengan keberhasilan tetas sekitar 80%,” ujar pemilik 25 pasang induk cucakrawa, 20 pasang induk lovebird, dan 12 pasang induk kenari itu.

Di Surabaya, Jawa Timur, sejak 2011 Ufuk Saputra Wibowo memilih menangkarkan lovebird kelas premium seperti lutino, blorok, dan pastel hijau. Alumnus sekolah manajemen bisnis di Amerika Serikat itu mengatakan dari 9 pasang induk lutino dan 4 pasang induk blorok bisa memproduksi rata-rata 12 piyik per bulan. “Rata-rata setiap pekan saya menjual 4—5 piyik,” ujar Ufuk yang menjual lovebird Rp2,5-juta per ekor itu.

 

Penangkar meloloh piyik muraibatuTren

Apakah penangkaran mulai tren? Penelusuran Trubus sepanjang Juli—Oktober 2013 memperlihatkan hal itu. Satu dari lima pehobi yang dihubungi menyampaikan niatnya untuk melakukan penangkaran. “Saya melihatnya sangat berprospek,” ujar Hamzah Ahmad, pehobi di Makassar, Sulawesi Selatan, yang tengah mempersiapkan sepasang induk muraibatu. Pun Kaji Supi, pehobi dan pedagang di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur yang menyiapkan penangkaran kacer dan cucakhijau.

Antony dan Ufuk Saputra adalah contoh pehobi yang serius memilih penangkaran sebagai fase berikut setelah kenyang mengikuti kontes. Pilihan itu bukan tanpa sebab. Budi Prawoto, praktikus burung di Klaten, Jawa Tengah, mengatakan penangkaran justru menguntungkan. “Pendapatan yang diperoleh dari penjualan jauh lebih besar daripada hadiah kontes,” ujarnya.

Itu sudah dialami Amiril Mukminin di Malang, Jawa Timur. Pria yang menangkarkan muraibatu sejak 2004 itu rutin menjual 2—4 piyik setiap bulan dari 6 pasang induk. Harga piyik mencapai Rp3,5-juta per ekor. Padahal saat rajin mengikuti kontes burung berkicau, alumnus Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) itu jarang sekali menang. “Persaingannya ketat. Hadiah juara pun tak sampai Rp3-juta,” ujarnya mengenang.

Demikian pula dengan Agung Santoso di Mojokerto, Jawa Timur. Bahkan Agung kini memiliki hingga 1.700 muraibatu dari semula 4 pasang pada 2005. Dari sana Agung setiap hari bisa memetik hingga 40 telur. “Saya fokus pada muraibatu karena peminatnya paling banyak,” ujar ayah 2 anak itu. Agung menjual piyik umur 1 bulan rata-rata Rp1,5-juta per ekor.

 

Kontes

Prof Dr Made Sriprana, praktikus burung di Bogor, Jawa Barat, menjelaskan penangkaran memang mutlak diperlukan. “Apalagi banyak burung kontes yang di alam sudah terancam hilang seperti cucakrawa,” kata Sriprana. Lebih jauh mantan ketua Pelestari Burung Indonesia periode 2008—2013 itu menjelaskan, upaya penangkaran sebetulnya sejak lama, tetapi sedikit yang mau melakukan. “Banyak yang beranggapan burung alam lebih bagus suaranya,” ujar doktor alumnus Birmingham University itu.

Hadiah kontes burung hasil penangkaran lebih besarKondisi itu yang mendorong BnR, penyelenggara kontes burung berkicau, mensyaratkan burung hasil penangkaran saat mengikuti kontes. Bahkan hadiah pemenang bagi burung tangkaran 2 kali lipat (bila memakai ring BnR). “Itu bentuk apresiasi kami terhadap pehobi yang mau berlomba dengan burung hasil penangkaran,” kata Kamaludin, ketua Yayasan BnR.

Menurut Supriyanto Akdiatmojo dari Megananda Bird and Orchird Farm (MBOF) di Bogor, Jawa Barat, jalan sukses menangkarkan tidak sebentar. “Bisa bertahun-tahun,” katanya. Yang paling sulit selain perlu modal besar untuk memperoleh induk berkualitas adalah sukses menjodohkan. “Ini yang membuat penangkar pemula jeri,” kata Supriyanto yang menyarankan penangkar pemula mencoba burung  “mudah” terlebih dahulu seperti kenari dan lovebird.

Itu pula yang diterapkan oleh Ufuk Saputra saat memutuskan memilih lovebird. “Kalaupun habis karena gagal tidak terlalu menyakitkan,” kata Ufuk yang mengeluarkan ongkos pakan Rp550.000 per bulan untuk total 40 lovebird. Terbukti general manajer Apartemen Gunawangsa di Surabaya Timur itu malah sukses. Itulah buah manis saat pehobi tidak lagi sekadar mendengar kicauan. (Dian Adijaya S/Peliput: Rizky Fadhilah & Lutfi Kurniawan)

Previous articleNomor Satu Kualitas
Next articleWajah Baru Salvia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img