Wednesday, January 28, 2026

Saudagar Kopi Kintamani

Rekomendasi
- Advertisement -

Berbisnis kopi sekaligus memberdayakan masyarakat pedesaan.

Trubus — I Komang Sukarsana, S.Pd. Komang mendambakan pegawai negeri sipil setelah lulus kuliah demi membanggakan orang tua. Oleh karena itu, Komang rela menjadi guru honorer di sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, pada 2007—2011. Honor mengajar tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk membeli bensin sekali pun. “Saya pun mulai belajar dan mencari peluang bisnis di Ubud,” kata alumnus Pendidikan Biologi, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Kabupaten Bulelelng, Bali, itu.

I Komang Sukarsana, S.Pd. berbisnis kopi kintamani dan memberdayakan masyarakat pedesaan sejak 2014.

Komang akhirnya terlibat dalam industri kopi setelah menjabat sebagai petugas kontrol kualitas (quality control) di perusahaan pengolah kopi asal Australia, Five Senses Coffee Company, sejak 2010. Berbekal pengalaman itulah ia mendirikan perusahaan produsen kopi kintamani, Bali Arabica. Jabatan manajer pemasaran di koperasi kopi pada 2012—2014 makin menguatkan Komang berbisnis kopi. Kini pencinta kopi mengenal pria berumur 35 tahun itu sebagai produsen kopi berkualitas premium. Penjualan kopi kreasi Komang cenderung meningkat saban tahun.

Berkembang

Ia menjual 8 ton kopi beras (green bean) grade 1 pada 2017 (setara 666 kg/bulan) dan 11 ton kopi sejenis pada 2018 (setara 916 kg/bulan). “Saya menargetkan penjualan 15 ton kopi beras grade 1 pada 2019,” kata peraih Agro Inovator Teladan Kementerian Pertanian 2017 itu. Omzet perniagaan kopi puluhan juta rupiah/bulan dan Komang mengutip laba 10—15%. Konsumen Komang meliputi toko kopi, restoran, hotel, dan pemanggang (roaster) di beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Warga Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, itu melibatkan 4 kelompok tani di Desa Belantih, Desa Ulian, Desa Wanagiri, dan Desa Plaga. Keempat desa termasuk Kecamatan Kintamani. Komang mengajari petani cara membudidayakan dan mengolah kopi dengan baik dan benar. “Budidaya kopi di kebun menentukan 60% kualitas cita rasa kopi,” kata finalis 4 besar Wirausaha Binaan Bank Indonesia (WUBI) Provinsi Bali 2014 itu.

Selain budidaya, proses penting lainnya untuk menghasilkan kopi bermutu prima yakni pascapanen. Komang mengolah kopi dengan 3 cara yaitu natural process, honey process, dan fully wash process. Pemilihan keempat desa itu terutama Belantih karena tempat munculnya ikon kopi bali. Lokasi Desa Belantih di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (m dpl) pun sangat ideal untuk pertumbuhan Coffea arabica. Komang mengembangkan konsep bisnis yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat (community development) dan perdagangan adil (fair trade).

Intinya ia membangun pola bisnis yang memberikan keuntungan kepada para petani kopi, pembeli, dan kelestarian lingkungan. Petani mendapatkan pengetahuan mengolah kopi berkat pendampingan kontinu. Komang juga mengajak petani memperhatikan betul pentingnya kualitas kopi. Bukan sekadar berfokus pada kuantitas. Kedua konsep itu juga memberikan jaminan kepada petani tentang harga jual kopi yang layak. Bahkan harga kopi petani binaan berharga lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasaran.

Selain itu ia membangun pola kerja sama berbagi keuntungan kepada petani rekanan. Dengan cara itu diharapkan kesejahteraan petani kopi meningkat. Harap mafhum tengkulak mengendalikan penjualan kopi di Kintamani sebelum Komang datang. Agar hubungan baik dengan para konsumen terjalin baik, Komang selalu mengundang mereka berkunjung ke kebun kopi (coffee trip). Tujuannya berbagi pengetahuan seputar budidaya serta pengolahan panen dan pascapanen.

Pariwisata

Komang menuturkan, “Keterbukaan informasi sangat penting dalam membangun hubungan bisnis kepada para petani dan pembeli.” Inovasi diperlukan untuk pengembangan usaha. Oleh karena itu, Komang berinovasi membikin kopi drip, kopi saring berbobot 10 g untuk kebutuhan hotel dan vila. Produk anyar itu kali pertama dikenalkan ke publik pada acara Festival Coffee Nusantara di Jakarta pada September 2019.

I Komang Sukarsana mengembangkan bisnis kopi ke aspek pariwisata yang melibatkan wisatawan mancanegara.

Komang juga fokus ke kegiatan tur kopi pada 2019. Ia mengembangkan bisnis kopi ke arah pariwisata dengan merek dagang Journey of Bali Coffee. Sasarannya wisatawan asing yang berkunjung ke Pulau Dewata. Komang mengenalkan cara berkebun kopi ala Bali, tradisi lokal, serta budaya dan kehidupan para petani di kawasan Kintamani. Ia bekerja sama dengan platform e-commerce ternama. Menurut Komang pariwisata kopi memiliki peluang pasar bagus di masa depan.

Anggota Spesialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) itu berhasil menjual paket tur Journey of Bali Coffee senilai puluhan juta rupiah pada 2018. Lebih lanjut ia menuturkan semua keberhasilan itu berkat bantuan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali terutama untuk pemasaran dan promosi. Bukti teranyar KPwBI Bali memberangkatkan Komang ke Rusia untuk mengikuti acara Festival Indonesia pada Juni 2018. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img