Saturday, August 13, 2022

Selamat TinggalInhalator

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Biasanya sekali sebulan, gadis kelahiran Malang, 27 Mei 1987, itu pasti diinhalasi untuk melegakan napas yang sesak. Berkat konsumsi 3 sendok makan per hari virgin coconut oil sejak akhir September, Agnes terbebas dari asma.

Hari-hari pada Agustus 2005 itu semula saat yang menyenangkan buat Agnes. Anak ke-3 dari 4 bersaudara itu tengah menikmati masa liburan panjang sebelum memulai aktivitas sebagai mahasiswa baru di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara. Waktu senggang, Agnes isi dengan ngeband bersama teman-teman semasa SMU. Gadis muda bertubuh mungil itu jadi vokalisnya.

Kalaupun tidak latihan, Agnes kerap berkumpul dengan teman-teman. “Paling nongkrong sambil ngobrol atau jalan-jalan ke mal. Saya orangnya senang main sih,” ujar gadis kenes itu. Rupanya keasyikan menikmati liburan membuat Agnes lupa menjaga kondisi. Pada suatu petang, putri dari pasangan Yacobus Sutrisno dan Andri Yulianti itu pulang dengan kondisi lelah.

Agnes kontan batuk-batuk berat sembari mengeluarkan dahak. Dada terasa berat dan napas sesak. Batuk-batuk dan sesak napas tak kunjung hilang meski Agnes menyemprotkan obat pereda melalui sebuah tabung kecil. Orangtua tercinta pun segera membawa Agnes dokter

langganan keluarga untuk diinhalasi. Setelah obat pelega pernapasan disalurkan dari nebulator melalui selang menuju alat seperti masker oksigen, Agnes pun pulih kembali.

Hiperreaktif

Berobat ke dokter sudah jadi rutinitas Agnes. “Setiap bulan pasti asma Agnes kambuh,” tutur mahasiswi tingkat satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara itu. Biasanya itu karena Agnes terlalu capai beraktivitas. Perubahan cuaca dari panas menjadi dingin pun memicu batuk-batuk dan sesak napas gadis berambut panjang itu. Penyakit “umum” seperti fl u jadi ancaman serius buat Agnes. Begitu fl u menyerang asma pun kambuh. Makanya bila ada teman atau kerabat yang sedang terserang flu Agnes langsung menghindar.

Agnes dilarang keras berolah raga berat. Berlarilari sebentar saja sudah membuat napas Agnes tersengal-senggal mengeluarkan bunyi ngik… ngik… Untuk menjaga kesegaran tubuh, paling ia melakukan senam ringan. Tertawa terbahak-bahak pun mesti dihindari. Agnes harus berpantang makanan, seperti rambutan, cokelat, dan es krim.

Pantas tubelator—botol kecil berisi obat asma yang bisa segera dihirup untuk melegakan napas—menjadi teman akrab. Ke mana pun gadis berkulit putih itu pergi, botol semprotan itu selalu menyertai. Bila ada serangan asma mendadak, obat dalam tubelator jadi penyelamat pertama. Beberapa kali Agnes mesti masuk Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Saiful Anwar, Malang. Itu lantaran asma kambuh di tengah malam saat dokter praktek sulit ditemukan.

Menurut dr Nastiti N Rahajoe, dokter spesialis anak sekaligus konsultan paru-paru anak, asma merupakan penyakit saluran pernapasan karena saluran itu bersifat hiperreaktif. Bila ada rangsangan, saluran menjadi menyempit sehingga penderita sulit bernapas dan mengalami batuk-batuk. “Rangsangan bisa berasal dari udara, misal debu, asap rokok, bulu binatang, atau infeksi virus,” papar alumnus Universitas Indonesia itu.

Faktor pencetus lain ialah makanan seperti cokelat, tomat, makanan mengandung mono sodium glutamat, MSG—misal snack, dan kacang tanah. Pun makanan mengandung pewarna dan pengawet. Olahraga berat seperti lari sprint dan pergantian musim secara mendadak juga ikut berperan memicu asma. Prevalensi asma pada anak-anak di Indonesia meningkat setiap tahun.

Nol kecil

Penyakit yang bisa dialami semua golongan umur itu diderita Agnes sejak belia. Sejak masih duduk di bangku TK nol kecil, Agnes kecil kerap bolos karena asma. Sebuah kartu berobat ketika ia berumur 12 tahun penuh terisi kasus-kasus asma kambuh. Lantaran kerap sakit-sakitan, bontot dalam keluarga itu jadi perhatian ayah dan ibu. Di ruang tamu, ada 3 foto terpasang di dinding. Foto Agnes diletakkan di antara kedua kakaknya. “Foto Agnes sengaja dipasang di tengah supaya selamat,” seloroh Andri Yulianti, sang ibunda.

Toh dalam keluarga, perkara Agnes menderita asma bukan hal aneh. Kakak lelaki Agnes pun menderita penyakit serupa. Pun kakek dari pihak sang ibu. Menurut Nastiti, asma memang penyakit keturunan. Penyakit genetis itu biasanya berangsur hilang seiring bertambahnya umur si anak. Kakak lelaki Agnes bebas asma dengan sendirinya.

Yacobus Sutrisno dan Andri Yulianti bukan tak mengupayakan kesembuhan Agnes. Sejak dini Agnes diajari untuk berenang. Olahraga air itu dipercaya bisa meringankan penderitaan pasien

asma. “Memang iya sih, sewaktu rajin berenang asma Agnes jarang kambuh,” ujar

gadis yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di kampus itu. Namun, begitu Agnes malas berenang, asma gampang menyerang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jalan kesembuhan terbuka saat Agnes mulai rutin mengkonsumsi virgin coconut oil sejak akhir September 2005. Setiap hari 3 sendok makan minyak dara diteguk: pagi, siang, dan sore. Semula konsumsi VCO itu dicekoki ayah dan ibu sekadar untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Maklum gadis yang hobi menyanyi itu sakit-sakitan. Namun, ia justru lebih termotivasi meneguk VCO lantaran ingin menurunkan bobot badan. Dengan tinggi 155 cm dan bobot 49 kg, Agnes merasa terlalu gemuk. Dari informasi yang dibaca di sebuah media massa, minyak kelapa murni bisa menurunkan bobot badan.

Tidak langsung

Hanya dalam hitungan bulan, Agnes mulai merasakan faedah VCO. Tubuh jadi terasa lebih fi t. Tak hanya itu, sesak napas dan batuk-batuk berat karena asma kambuh tak pernah lagi dialami. “Paling batuk-batuk sedikit,” tuturnya. Bila setiap bulan Agnes menghabiskan 2 tabung obat, sebotol pun belum habis sejak September silam.

Saat Agnes mengikuti orientasi studi di kampusnya pada November, asma pun tidak datang menyerang. Padahal ia sibuk luar biasa. Setiap pagi Agnes keluar rumah sejak pukul 5 pagi dan baru kembali pukul 11 malam. Di kampus kegiatan fi sik seperti barisberbaris dan latihan mental dari para senior dijalani dengan mulus. Sang ibunda sudah khawatir putri bungsunya jatuh sakit. Ternyata Agnes segar-bugar.  Nastiti belum pernah mendengar kasus pengobatan asma dengan VCO. “Asma bukan penyakit akibat bakteri atau virus, kalau memang VCO bersifat sebagai antivirus dan bakteri,” ujar dosen di Fakultas Kedokteran UI itu. Untuk penderita asma, dokter biasanya menyarankan penderita untuk menghindari pencetus asma. Itu dikombinasikan dengan pemberian obat dengan kandungan bronkodilator serta a n t i i n f l a m a s i . Yang disebut terakhir berperan m e n g u r a n g I h i p e r e a k t i v i t a s saluran pernapasan. A n t i i n f l ama s I dipakai sebagai pelega dan pengontrol asma. Menurut dr Zaenal Gani, dokter senior di Malang, VCO mengatasi asma secara tidak langsung. “Setiap 1 g VCO mengandung 7 kalori. Kalori itu kan tenaga. Di dalam tubuh VCO diubah dengan cepat menjadi energi. Ini membuat kondisi fi sik seseorang menjadi lebih berenergi,” papar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu. Tubuh jadi lebih hangat sehingga lebih tahan menghadapi pencetus asma, seperti udara dingin.

Menurut kelahiran 10 November 1946 itu, VCO pun mempercepat pemulihan dari kondisi sesak menjadi lega pada penderita asma. Dalam sebuah situs di dunia maya, seorang perempuan asal  elbourne, Australia, bersaksi berkat mengkonsumsi minyak dara, asma tak lagi jadi derita. P ntaslah bila kini Agnes masuk ruma hsakit karena asma kambuh tinggal cerita. Olahraga berat memang belum boleh dilakukan. Paling hanya lari-lari kecil setiap pekan.  Namun yang pasti, “Sekarang Agnes tidak berpantang lagi. Mau makan rambutan sekresek pun ngga apaapa,” kata Agnes ceria sambil menutup percakapan.

(Evy Syariefa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img