Trubus.id — Semula orangtua meragukan kemampuan Jainal Rabin Damanik, S.T., dalam pertanian. Terutama, ketika Jainal menanam kentang dari bibit kultur jaringan di kebun keluarga pada 2012. “Kamu siapa? Jurusannya juga bukan pertanian,” kata Jainal menirukan perkataan orangtua saat itu.
Jainal merupakan lulusan Departemen Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK), Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur.
Meski tidak percaya, sang orangtua meminta Jainal menanam kentang menggunakan 50% bibit kultur jaringan dan 50% bibit yang biasa dipakai mereka.
“Hasilnya terjadi peningkatan produksi signifikan mencapai hampir 60%,” kata pria asal Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, itu.
Setelah sukses menunjukkan peningkatan hasil panen, Jainal bermitra dengan para petani di semua kabupaten di sekitar Danau Toba seperti Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba, dan Kabupaten Dairi.
Berada di ketinggian 600–1.400 meter di atas permukaan laut, iklim di Kabupaten Karo, amat mendukung pertanaman Solanum tuberosum. Lokasi itu juga menjadi kerinduan Jainal untuk kembali dan bercita-cita menyejahterakan petani kentang. Ia mendambakan pertanian di kampung halaman setara dengan petani di Pulau Jawa.
“Kebetulan dahulu saya sering jalan ke Malang, Gunung Bromo, dan Dieng. Sepanjang jalan berpikir, petani di Pulau Jawa kok sejahtera, berbeda dengan di tempat kami (Sumatra). Padahal kondisi lahan lebih bagus, cost juga lebih murah,” tutur Jainal.
Kini, ia kembali ke kampung halaman, siap memajukan petani dan pertanian di sana. Saat ini, ia mengelola kebun kentang milik pribadi seluas 4 hektare dan lahan sewa (bermitra) seluas 20 hektare. Hasil panen kentang rata-rata 18–20 ton per hektare setara 0,8 kg per tanaman.
“Ketika semua faktor pertanaman mendukung, produksi melambung 25–30 ton per hektare,” kata pria berumur 29 tahun itu.
Harga jual kentang sekitar Rp7.000 per kg sehingga Jainal mendapatkan omzet Rp70 juta–Rp80 juta per hektare. Setelah dikurangi biaya produksi, ia mengantongi laba minimal Rp16 juta. Penjualan kentang Jainal mencapai 1.000–2.000 ton per tahun.
Konsumen berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Pontianak, Kalimantan Barat, Pulau Batam (Kepulauan Riau), Kota Pekanbaru (Riau), Kota Lampung (Lampung), Bangka (Kepulauan Bangka Belitung), dan Kota Surabaya (Jawa Timur).
