Wednesday, August 10, 2022

Sentosa di Lantai Lima

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di lantai lima rumah toko di kawasan Sunter, Jakarta Utara, yang terik itu kantong semar asal pegunungan hidup nyaman.

Ruko lima lantai itu terlihat sepi. Di lantai pertama hanya terlihat potongan kayu teronggok di salah satu sudut dekat tangga. Trubus menapaki tangga berlantai keramik putih hingga ke lantai lima. Blasss… udara panas pun langsung menerpa pada pukul 10.00 di awal November 2011 itu begitu pintu ke arah luar dibuka. “Di sini saya merawat nepenthes koleksi,” kata Wiewie, si empunya ruko itu.

Pengusaha pakaian untuk ekspor itu lalu mengajak kami melangkah ke sudut lain di balik atap asbes yang dibatasi sebuah pintu lain. Olala…! Betapa sejuknya suasana di sudut itu. Meski sinar matahari masih bisa menerobos masuk melalui lembaran plastik ultraviolet (UV) yang menjadi atap, tapi kami bagai berada di kawasan Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang berudara sejuk. Di pojok itulah minimal 200 jenis nepenthes hidup nyaman.

“Hutan” buatan

Deretan pot berisi kantong semar digantung bersusun-susun berdampingan dengan sarracenia, drosera, dionaea, tillandsia, sarang semut, paku sarang burung, dan paku simbar menjangan. Berada di tengah-tengahnya ibarat di hutan tanaman pemangsa.

N. mirabilis, salah satu kantong semar yang paling luas penyebarannya ada di sana. Kita mudah menemukannya di habitat entuyut di lantai hutan yang lembap dan penuh serasah hingga tepian air gambut. Sosok kantongnya sederhana, bulat tapi langsing dan memanjang seperti botol air minum kemasan. Namun, mirabilis di “hutan” Wiewie terlihat cantik dengan sulur yang bersayap sehingga kantong seperti terhubung langsung dengan daun.

Kantong N. sibuyanensis x ventricosa atraktif dengan bentuknya yang seperti gentong bulat. Jenis-jenis hasil silangan biasanya lebih adaptif ditanam di berbagai ketinggian tempat dan lokasi. Koleksi Wiewie terdiri dari jenis dataran rendah, hibrida, hingga yang asal dataran tinggi. “Bahkan ada nepenthes asal dataran tinggi ekstrem,” kata penggemar olahraga menyelam itu.

Entuyut dataran tinggi yang Wiewie miliki di antaranya N. burkei, N. glabrata, N. inermis, dan N. ventricosa. Burkei dan ventricosa sejatinya hidup di daerah berketinggian di atas 1.200 – 1.800 meter di atas permukaan laut (m dpl) di Filipina.  Glabrata asal dataran tinggi di Sulawesi berketinggian 1.600 – 2.000 m dpl. Sementara inermis yang kantongnya berbentuk seperti pispot itu biasa tumbuh di daerah pegunungan berketinggian 1.500 – 2.000 m dpl di Sumatera.

Air dingin

Meski hidup di lantai lima ruko di Jakarta ketakung asal gunung itu hidup nyaman. Maklum saja Wiewie menyulap iklim ruangan itu menjadi sejuk seperti di daerah pengunungan. Sebab sebanyak 50 titik nozel mengeluarkan air berupa kabut secara berkala. Wiewie mengatur nozel berukuran 1 mikron itu menyala selama dua menit dan mati tiga menit. Timer mengatur pengabutan berlangsung mulai pukul 09.00 – 17.00 setiap hari.

Itu ditambah dengan semburan air serupa gerimis dari empat titik nozel berukuran 10 mikron yang menyala selama 30 menit setiap 5 menit 20 detik. “Lamanya waktu pengabutan benar-benar saya perhitungkan dengan detail agar kondisi lingkungan sesuai dengan kebutuhan nepenthes,” kata Wiewie.

Air penyiraman berasal dari air PAM yang diolah dengan teknologi RO (reverse osmosis) dan didinginkan sehingga bersifat masam, rendah mineral, dan bersuhu bak air pegunungan. Di sudut “hutan” ia juga meletakkan air mancur buatan yang mengalirkan air terus-menerus. Itu masih ditambah penyiraman manual sebanyak dua kali sehari. Total jenderal Wiewie menghabiskan 64 liter air per hari untuk penyiraman.

Hasilnya suhu di lantai lima itu pada pagi hari “hanya” 19oC, pada siang antara 28 – 35oC. Suhu pagi hari mirip suhu harian di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, antara 17 – 27 oC. Toh pria yang menghabiskan masa kuliahnya di Australia itu juga menyiapkan tiga ekshause dan kipas angin. Dengan begitu butir-butir air yang berjatuhan di daun dan kantong nepenthes dalam hitungan detik menguap sehingga tidak memicu busuk.

Pot bolong

Supaya ketakung terlindung dari guyuran hujan langsung, Wiewie membentangkan lembaran plastik ultra violet. Ketika mendung ia mengaktifkan lampu LED (light emitting diode). Paparan sinar berwarna paduan merah dan biru dari lampu LED membuat tanaman tumbuh lebih subur.

Pria yang hobi membuat akuarium air tawar itu menanam ketakung di atas campuran media tanam sekam bakar, cocopeat, cocochip atau pakis. Porsi terbesar sekam bakar sebanyak 50 – 70%, sementara cocopeat hanya 5%. Campuran media itu bersifat porous tapi lembap seperti yang diinginkan terompet gunung itu. Di bagian atas media ditanami spaghnum dan hemiantus cuba agar media tetap lembap.

Media dimasukkan ke dalam pot yang sisi-sisinya dilubangi kecil-kecil menggunakan bor. Tujuannya supaya air tidak menggenang di dalam pot dan menyebabkan akar busuk. Sebagai sumber hara ia menyemprotkan pupuk racikan sendiri. Dan ketakung pun hidup sentosa di lantai lima. (Evy Syariefa)

 

N. sibuyanesis x N. ventricosa

N. mirabilis dengan sayap di sulur

N. burkei, asal dataran tinggi

N. sumatrana

Wiewie di antara hutan tanaman pemangsa

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img