Sunday, August 14, 2022

Sentosa Karena Garut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pengunjung ekshibisi Organic Green and Healthy Expo itu menyendok emping seukuran koin limaratusan. Ia mengunyah penganan renyah itu dan berujar, “Lebih enak daripada emping melinjo.” Bukan hanya enak, emping garut itu juga aman bagi penderita asam urat. Garut? Itu bukan nama kabupaten di Provinsi Jawa Barat, tetapi tanaman berumbi anggota famili Arundinaceae. Umbi garut tak mengandung purin, senyawa pemicu asam urat. Pantas jika konsumsi emping garut relatif aman.

Purin dalam emping melinjo memicu asam urat berlebih. Menurut dr Danarto SpB SpU, dari Pusat Pelayanan Urologi Rumahsakit An-Nur Yogyakarta, purin berlebih meningkatkan asam urat dalam darah sebagai hasil akhir metabolisme.  Asam urat terbawa dalam darah dan menumpuk di jaringan lunak pada tubuh seperti jaringan sendi. Tumpukan asam urat menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan nyeri sendi seperti lutut, pergelangan tangan, tumit, dan siku.

Bebas gluten

Emping garut tanpa mengandung purin pilihan tepat bagi para penderita asam urat. Apalagi rasanya juga tak kalah enak. Emping garut hanya salah satu penganan hasil kreasi Christien Ismunarty. Mantan pegiat lembaga swadaya masyarakat itu tergerak mengolah umbi-umbian karena lebih sehat dan aman. Sebab, penganan berbahan baku garut-dan beragam umbi seperti ganyong, kimpul, singkong, ubi jalar-bebas gluten dan kasein.

Jika ia memanfaatkan terigu dan susu sapi sebagai bahan baku kue, kadar gluten serta kasein sangat tinggi. Menurut periset di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian di Malang, Jawa Timur, Ir Erliana Ginting MSc, gluten dan kasein mengganggu pencernaan, terutama bagi para penderita autisme. Mereka sebaiknya tidak mengonsumsi gluten dan kasein karena menyebabkan anak menjadi hiperaktif dan sulit tidur.

Sistem metabolisme penderita autisme tak mampu mengurai gluten dan kasein sehingga dapat terbawa ke aliran darah hingga ke otak. Dampaknya mirip konsumsi morfin, anak mengalami halusinasi, melayang, atau histeris. Oleh karena itu Christien memanfaatkan tepung beragam umbi seperti ganyong, garut, singkong, dan kimpul itu untuk memberikan nutrisi bagi buah hati, Kai Saidpurnama Ismunara Waluyo, yang mengidap autis.

Kai Saidpurnama alergi telur, susu, dan gandum karena mengandung protein gluten dan kasein. Sang anak ternyata menyukai kue bikinan Christien. Untuk menjaga pasokan, alumnus  Imperial College, London, Inggris, itu bermitra dengan para petani yang menanam umbi secara organik di Jawa Barat, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat. Bukan hanya biskuit, pilihan produk kini makin beragam. Sebut saja, emping garut, kerupuk ganyong, soun ganyong, dan kimpul taro.

Ia membuat semua penganan itu tanpa bahan pemutih, pengawet, dan  penguat rasa. Berbagai olahan umbi itu terasa sangat lezat. Menurut Erliana, umbi-umbian berpotensi besar, tetapi selama ini masyarakat hanya menikmati dengan cara mengukus atau menggoreng.

Langka

Garut Maranta arundinacea salah satu tanaman penghasil umbi yang kini banyak dilupakan orang. Begitu juga nasib ganyong Canna edulis, kimpul Xanthosoma violaceum, uwi Dioscorea alata, gembili Dioscorea esculenta, dan gembolo Dioscorea bulbifera. Padahal, umbi-umbian itu, enak dan tersedia di kebun-kebun.

Menurut Erliana Ginting umbi-umbian seperti ganyong, kimpul, dan garut sangat potensial sebagai bahan pangan, tetapi ketersediaan bahan baku belum stabil. “Masyarakat belum mengenal dan pembudidayanya juga jarang ditemui,” kata Erliana. Menurut Erliana, masyarakat dapat mengolah umbi-umbi itu menjadi pati, pasta, maupun tepung sebagai bahan baku beragam penganan.

Itulah sebabnya Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian memperkenalkan berbagai jenis tanaman umbi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Prinsipnya memanfaatkan pekarangan yang  untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.

Christien menyatakan hal serupa. “Bahan baku lebih mahal daripada umbi-umbian lainnya,” kata Christien. Namun, karena penganan itu sehat, permintaan hasil olahan berdatangan dari berbagai daerah seperti Jakarta, Pekanbaru, Medan, dan Surabaya. Selain melayani di tokonya, Christien juga melayani pesanan lewat internet.

Semula Christien mengkhususkan produknya bagi anak-anak autis. Ia pun bersedia menerima pesanan bahan sesuai kebutuhan pemesan, hampir seluruh produk berbahan umbi. Namun, berkat promosi dari mulut ke mulut, situs, dan jejaring sosial, kini peminat penganan berbahan umbi itu tak hanya yang memiliki kebutuhan khusus. Jaminan bebas dari pestisida, pengawet, pewarna, penguat rasa, dan tidak mengandung gluten, kasein, dan purin mengundang para pencinta makanan sehat untuk mengonsumsinya.

Menurut Dr Ir Nur Richana MS, periset di Balai Besar Pascapanen, Bogor, Jawa Barat, pemanfaatan umbi-umbian merupakan alternatif untuk memperoleh sumber pangan baru. “Sebagian besar umbi malah tidak pernah dilirik,” kata Nur. Itu artinya potensi umbi-umbian masih banyak yang belum tergali. (Susirani Kusumaputri)

 

  1. Tanaman ganyong yang berdaun panjang dan berwarna hijau merah cocok untuk ditanam di pekarangan rumah
  2. Belum banyak yang membudidayakan tanaman garut
  3. Berbagai jenis olahan umbi. Kiri, emping garut; atas, kerupuk ganyong; kanan, taro kimpul
  4. Soun ganyong, tanpa pewarna dan sangat nikmat disantap dengan emping garut
  5. Christien Ismuranty, mengolah umbi yang kurang dikenal menjadi berbagai penganan nikmat

 

Previous articleMasam Bukan Hambatan
Next articleGeliat Padi Ningrat
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img