Tuesday, November 29, 2022

Senyaman di alam

Rekomendasi

Induk belibis berkualitas mampu bertelur setelah berumur 6 bulan dengan jumlah telur rata-rata 10 butirDi alam ia terbang mengembara menjelajah angkasa dan luasnya lahan basah.  Itulah biang keladi kegagalan penangkaran belibis Dendrocygna arcuata selama 10 tahun terakhir. “Saya pernah coba pelihara 2 pasang di kandang kecil, tapi mereka mogok makan lalu sakit dan mati,” kata Prof M Arief Soendjoto MSc, pengamat burung dari Fakultas Kehutanan, Uninversitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Padahal, Soendjoto menyediakan pakan kesukaan mereka seperti gabah dan wadah berisi air. Mereka tidak menyentuhnya sama sekali.

 

Anakan belibis menetas dari telur yang dierami selama 28 hari oleh induknyaUkuran telur belibis setara dengan telur ayam kampung. Pengalaman Faturahim dengan dierami induknya daya tetas mencapai 90%, sementara dengan mesin hanya 80%Faturahim selama 13 tahun sukses menangkarkan belibis dari alamPantas menurut Hafiz Muhardiansyah, dari bagian Konservasi Keanekaragaman Hayati di Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Kalimantan Selatan, memelihara belibis itu gampang-gampang susah. Disebut gampang karena kerap kali domestikasi induk—alias penjinakan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan sehari-hari manusia—berhasil. Namun, begitu hendak berkembang-biak gagal. Contohnya telur tidak dibuahi, telur gagal menetas, atau malah telur dimakan induk jantan.

Menurut Dr Danang Biyatmoko, ahli unggas dari Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, induk jantan memangsa telur sendiri karena merasa terancam kehidupannya alias stres. “Karena merasa terancam, nalurinya mendorong untuk memangsa telur sendiri sebagai sumber energi. Itu untuk cadangan energi menghasilkan keturunan yang baru,” kata Danang. Pada unggas lain—seperti ayam—kadang kala induk memangsa telur sendiri karena tubuhnya merasa kurang kalsium.

Faturahim di Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, sukses menyiasati segudang kendala menangkarkan belibis. Alih-alih menjinakkan induk belibis berumur di atas 3 bulan, ia malah memesan anakan belibis pada seorang pemburu pada 2000. “Pemburu tradisional memiliki kearifan lokal. Mereka hanya menjaring induk dan membiarkan anakan. Saya justru pesan anakan meski ditertawakan,” kata Faturahim. Ketika itu belum pernah ada yang mencoba menernakkan belibis.

Penangkar itu memperoleh 41 anakan dari seorang pemburu. Ia memelihara anakan belibis dan memberi pakan pelet hingga umur 3 pekan. Setelah itu ia ia mencampur pelet, gabah, dan eceng gondok hingga berumur 1,5 bulan. Selepas itu hingga dewasa belibis hanya menyantap gabah dan eceng gondok. “Saya pakai pengalaman beternak itik alabio untuk memelihara belibis,” kata lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Amuntai itu.

Pada umur 2 tahun kerabat bebek itu mulai belajar bertelur. Total jenderal 7 pasang belibis menelurkan 60 butir telur. Yang menggembirakan 90% telur menetas oleh induknya secara alami. Belakangan menunggu belibis bertelur tak perlu menunggu 2 tahun. “Sekarang umur 6 bulan pun sudah bisa bertelur,” kata Faturahim.

Menurut Soendjoto, kunci keberhasilan penangkaran Faturahim ialah kemampuannya membuat suasana kandang seperti miniatur alam. Sebut saja populasi yang dipelihara mencapai 41 ekor. Itu setara dengan jumlah minimal satu kawanan belibis di alam. “Kebanyakan orang coba memelihara hanya 1—2 pasang. Padahal naluri mereka di alam adalah burung yang berkelompok dan tidak henti berkomunikasi antar sesamanya. Makanya ia disebut burung bersiul karena kicauannya terus—menerus,” kata Soendjoto.

Faturahim membuat kandang besar berukuran 20 m x 20 m atau total seluas 400 m2. Lokasi kandang di sekeliling rumah kayu di atas air.  Luas rumah—di dalam kandang—102 m2. Dinding kandang berupa jaring dari kawat setinggi setara bangunan rumah. Di atas kandang Faturahim memasang jaring. Sementara bagian bawah rumah menjadi tempat persembunyian.

Bagian bawah kandang yang memang berair menjadi tempat nyaman bagi belibis untuk berenang. Faturahim memasang tiang-tiang kayu ulin sebagai penyangga papan yang dipasang memanjang. Di atas papan itulah belibis beristirahat, mengeringkan bulu, serta meminyaki bulu usai berenang dan menyelam di dalam air. Di dalam kandang belibis dapat melakukan semua aktivitas seperti di habitat asli: berenang, terbang, dan beristirahat.

“Dengan desain itu belibis yang gemar terbang mengembara dapat mengekspresikan naluri alaminya,” kata Soendjoto. Desain itu, menurut Soendjoto, jarang diterapkan mereka yang mencoba beternak belibis. Umumnya mereka membudidayakan belibis layaknya ayam atau itik di kandang baterai atau bangunan beratap. Dengan hanya memasang jaring di atas kandang dan membiarkannya terbuka, belibis mendapat cahaya matahari dan udara bebas.

Selain itu belibis juga dapat terbang layaknya di alam. Di kandang terbuka risiko belibis stres pun rendah.  Kini dengan prinsip sederhana itu Faturahim memiliki 100 pasang indukan berumur 2—12 tahun. Di luar musim kawin mereka hidup berkelompok. Namun, memasuki musim kawin—pada awal musim hujan—mereka kawin, bertelur, mengerami, menetaskan, dan membesarkan anaknya.

“Siklus itu terjadi pada musim hujan, pada akhir musim hujan anakan yang dihasilkan sudah dapat terbang,” kata Faturahim. Dari indukan itu setiap musim Faturahim panen minimal 1.000 anakan belibis yang dipasarkan ke Palangkaraya, Banjarmasin, hingga luar pulau. Itu dengan asumsi setiap pasang menghasilkan minimal 10 telur. “Padahal sering kali sepasang induk bertelur 3 kali per musim,” katanya.

Faturahim membanderol anakan belibis berumur 3—4 bulan siap potong Rp60.000 per ekor. Sementara untuk induk terseleksi harganya Rp500.000—Rp1.000.000 per ekor. Menurut Ir Arief Darmawan, penyuluh peternakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Kalimantan Selatan, upaya penangkaran seperti yang dilakukan Faturahim patut diacungi jempol.

Itu bentuk penyelamatan belibis dari kepunahan selain dengan menerapkan kuota perburuan belibis. Kelak, bila penangkaran kian meluas bukan tidak mungkin, menyantap belibis seperti layaknya menikmati itik bakar di seluruh penjuru tanahair. Para pemburu pun tak perlu memasang jaring di tepian rawa untuk memerangkap belibis. Biarlah mereka hidup tenteram di alam. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Previous articleSeri Dua Lebih Unggul
Next articleJual Suara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img