Sunday, January 25, 2026

Seri Walet 268 Rantai Pasar Kian Pendek

Rekomendasi
- Advertisement -

Kreatif dan inovatif memasarkan sarang burung walet.

Hilirisasi produk sarang walet masih prospek untuk
dikembangkan.

Trubus — Saat harga sarang walet asal liur Collacalia fuciphaga anjlok, Harry Mranata dan anggota delegasi lain melawat ke Tiongkok. Negeri Tirai Bambu konsumen terbesar sarang walet asal Indonesia. Pada Agustus 2011 harga sarang hanya Rp4 juta–Rp5 juta per kg, semula hingga Rp12 juta. Harga anjlok karena isu kandungan nitrit di sarang walet. Delegasi berunding mengenai regulasi perdagangan sarang walet.

Menurut Harry itulah salah satu masa pahit perdagangan walet Indonesia. Setelah beberapa kali perundingan, barulah pada 2012 kedua negara sepakat memperbaiki regulasi. Ekspor sarang walet ke Tiongkok kembali pertama kali pada 2015. Hasil negosisasi panjang itu berbuah manis, harga sarang burung walet kembali terkerek dan bisnis walet di tanah air bergairah lagi. Itulah babak baru perniagaan walet resmi antara Indonesia dan Tiongkok.

Olahan sarang

Harry berperan sebagai kepala departemen perdagangan internasional di Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI). Organisasi itu wadah bagi para pelaku usaha walet di Indonesia. Menurut pria kelahiran 27 Oktober 1983 itu salah satu peran perkumpulan bisnis atau asosiasi memastikan perdagangan lancar dan baik bagi semua pelaku usaha sarang burung walet. Harap mafhum, sarang walet salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.

Pemuda 35 tahun itu tertarik membuat terobosan di industri sarang walet. “Sekarang pun masih sama, bisnis walet masih konservatif. Namun, dengan sudut pandang manajemen lebih modern,” papar pria kelahiran Hamburg, Jerman 35 tahun silam itu. Menurut Harry kini lebih banyak yang sudah tahu budidaya dan pascapanen walet. Rumah burung walet kian banyak di setiap daerah.

Harry Mranata (paling kiri) bersama pengurus PPSBI. (Dok. Trubus)

Pabrik pengolahan sarang burung kini lebih kompetitif. Berkompetisi mencari sarang burung walet mentah atau sarang walet yang belum dibersihkan. “Bahkan ada juga permintaan sarang mentah dari negara konsumen. Oleh karena itu, perlu regulasi dari pemerintah mengenai kriteria sarang walet yang layak ekspor,” kata alumnus Jurusan Bisnis, Institut Européen d’Administration des Affaires (INSEAD) itu.

Para pelaku usaha mengemas sarang burung yang sudah bersih agar layak ekspor. Jika sarang mentah diekspor mengundang banyaknya investor asing bergerak di hulu. Menurut Harry Indonesia jauh lebih unggul mengenai keilmuan budidaya hingga pascapanen sarang burung walet dibandingkan dengan negara lain. Itulah sebabnya kualitas produk sarang jauh lebih baik. Harry menuturkan, hilirisasi produk sebuah kemestian.

Tujuannya menambah nilai produk dan menyerap tenaga kerja. “Itu masih prospek dan layak dikembangkan. Apalagi dikelola oleh generasi muda yang kreatif dan inovatif,” kata Harry. Olahan seperti kosmetik atau aneka makanan sehat dari sarang walet bisa menjadi produk unggulan dalam negeri. Dengan demikian Indonesia tidak melulu hanya mengekspor barang hanya berupa sarang walet.

Manajemen

Pengusaha walet sejak 2008 sekaligus kepala departemen perdagangan internasional Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI).

Manajemen merupakan kunci bisnis, termasuk bisnis sarang walet. Menurut Harry dahulu industri sarang burung walet lebih tradisional, asalkan bisnis berjalan. Adanya globlisasi menuntut persaingan makin ketat. Oleh karena itu, dibutuhkan pendalaman spesialisasi dalam setiap bagian atau divisi, sehingga perbaikan bisa terjadi menyeluruh di tingkat mikro.

Menurut sarjana Bisnis alumnus Babson College, Massachusetts, Amerika Serikat itu tren sarang walet ke depan adalah konsolidasi, baik merger, kolaborasi, maupun akusisi. Tujuannya menggabungkan kekuatan baik vertikal atau horizontal, sehingga setiap pelaku usaha bisa langgeng. Sangat memungkinkan kelak pelaku industri sarang burung walet tidak terbagi sebanyak sekarang.

Sistem perniagan dahulu masih tertutup. Seolah ada sekat antara produsen, distributor, dan konsumen. Upaya penyatuan antara produksi dan distribusi tidak akan ada konflik kepentingan, karena keduanya ibarat satu tubuh. Kelebihan lain pesan berupa khasiat sarang walet berdasarkan penelitian terbaru bisa sampai ke konsumen. Akibatnya meningkatkan penjualan.

Dengan manajemen baik harapannya dari produksi bisa mengisi pasar ritel Tiongkok baik berupa sarang siap olah atau produk olahan sarang walet. Menurut Harry kini pemasaran lebih transparan. Terutama setelah makin gencarnya pemasaran daring atau online. Konsumen bisa mengecek harga di mana pun dan kapan pun. Bandingkan dengan cara lama, barang dari Indonesia transit terlebih dahulu ke Singapura, Hongkong, barulah sampai ke Tiongkok. Kini produsen dari Indonesia bisa langsung bertemu konsumen dari Tiongkok. Negosiasi bisa langsung terjadi tanpa perlu tata niaga panjang. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img