Friday, December 9, 2022

Seri Walet 275: Bumi Tadulako Sentra Baru

Rekomendasi

Kota Palu, Sulawesi Tengah berkembang menjadi sentra anyar walet.

Gedung walet di atas toko ciri khas di Kota Palu, Sulawesi Tengah. (Dok. Trubus)

Trubus — Suara pemanggil walet menggema di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sumber suara berasal dari rumah walet yang tersebar di tengah kota hingga ke pelosok kota mengarah ke Kabupaten Sigi. Suara cericit memanggil liur emas itu terdengar hingga 24 jam. “Suara pemanggil walet selalu ramai setiap saat di Kota Palu. Apalagi di daerah pertokoan yang kerap menggunakan lantai 2 sebagai rumah walet,” kata warga setempat, Muhammad Izfaldi.

Harga sarang di tingkat petani di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rp13 juta per kilogram. (Dok. Trubus)

Gempa dan likuefaksi—hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa—yang melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala pada September 2018 ternyata tidak menggangu bisnis liur emas di Kota Palu. Menurut pemilik gedung walet di Kota Palu, Basir Tanase, produksi sarang tidak terganggu ketika gempa dan likuefaksi. “Gempa tidak berdampak pada populasi dan perilaku walet di Kota Palu,” kata pengusaha walet sejak 2009 itu.

Kebakaran hutan

Kebun kelapa salah satu tempat walet mencari pakan. (Dok. Trubus)

Menurut Basir pascagempa ada peningkatan populasi walet di gedungnya. Banyak juga gedung walet yang roboh karena gempa. Imbasnya, burung walet mencari tempat lain yang lebih nyaman. Salah satunya gedung milik Basir yang tidak terdampak gempa. Menurut Basir budidaya walet di Kota Palu baru naik daun pada 2009. Dahulu hanya orang tertentu yang membudidayakan burung walet sehingga masih terbatas.

Basir mengatakan, pemicu makin ramai masyarakat mendirikan gedung walet di Kota Palu karena adanya migrasi walet dari Pulau Kalimantan. “Saat itu kebakaran hutan di Kalimantan cukup sering, sehingga walet pindah ke Sulawesi,” kata pria yang juga aparatur sipil negara di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Kota Palu itu. Kebakaran hutan memicu berkurangnya pakan walet di suatu daerah. Akibatnya walet bermigrasi ke daerah anyar mencari pakan.

Gedung walet di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, rusak akibat gempa bumi pada September 2018. (Dok. Trubus)

Menurut penelitian mahasiswa Program Studi Biologi, Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Taufik Noor, jika populasi serangga di daerah perburuan terdekat menurun, walet berburu hingga 50 km. Taufik mengatakan, walet hanya mampu mencari pakan dengan cara terbang. Burung itu memiliki kaki relatif lemah dibandingkan dengan jenis burung lain.

Serangga yang menjadi target buruan walet hanya yang bersayap. Ukuran tubuh serangga yang diperoleh berukuran kecil dengan kisaran 0,2—1,5 mm dan panjang 0,4—3 mm. Serangga yang disukai walet pun beragam. Menurut Taufik serangga yang menjadi pakan walet pada musim pancaroba yaitu dari keluarga Cullicidae, Tachinidae, Hispidae, Formicidae, Hydrophillidae, Bostrichidae, dan Coccinellidae.

Menurut Basir walet cukup tenang mencari pakan di sekitar pohon kelapa. Kebun kelapa mudah dijumpai di sepanjang jalan utama dari Kota Palu menuju Kabupaten Sigi. Potensi lain sebagai sumber pakan di Bendung Irigasi Gumbasa menyediakan air cukup untuk sumber minum si liur emas. “Populasi walet banyak didukung alam membuat pengusaha dari Pulau Jawa berdatangan membuat gedung walet,” kata Basir.

Sejuk

Pembudidaya walet di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Basir Tanase. (Dok. Trubus)

Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya, pakan dan air sama penting agar produksi suatu gedung optimal. Menyediakan penyemprot atau pengabut bisa menjadi alternatif untuk menyediakan minum bagi si liur emas. Pemilik rumah walet dapat meletakkan penyemprot di ruang putar atau di luar area gedung. Harry menyarankan agar pemilik pada kemarau mengaktifkan penyemprot 4 kali sehari pada pukul 11.00, 15.00, 17.00, dan 18.00.

Durasi penyemprotan cukup 15 menit. Tujuannya memberi walet minum dan menurunkan suhu gedung. Basir pun kerap menggunakan penyemprot agar kelembapan optimal dan membuat walet betah. “Indikator gedung baik harus lebih sejuk dibandingkan dengan suhu di luar ruangan,” katanya. Ia mengetes kondisi itu dengan berdiam dalam gedung selama 5 menit. Jika tidak berkeringat maka suhu dan kelembapan sudah baik. Menurut Harry idelanya suhu dalam gedung lebih rendah 4̊C dibandingkan dengan di luar gedung.
Basir mengatakan, budidaya walet relatif mudah dilakukan di Kota Palu karena dukungan kondisi alam optimal. “Asalkan kelembapan, cahaya, dan sirkulasi udara mendungkung rumah berbahan kayu pun memungkinkan,” kata Basir. Oleh karena itu, Basir mengajak warga Kota Palu membudidayakan walet untuk menigkatkan taraf ekonomi. “Tidak perlu membangun gedung megah, rumah walet sederhana pun memungkinkan berhasil,” kata ayah 2 orang anak itu.

Apalagi sarang walet komoditas pertanian bernilai tinggi. Harga jual di tingkat petani Rp13 juta per kg. “Kelebihan lain pembeli datang sendiri menjemput sarang,” katanya. Basir rutin mempanen 2—4 kg sarang dari gedung walet berukuran 8 m x 12 m terdiri atas 3 lantai. Satu kilogram sarang terdiri atas 120 keping. Harga jual tinggi menjadi daya tarik bagi masyarakat Bumi Tadulako—julukan untuk Palu—mengembangkan walet. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img