Friday, August 12, 2022

Asep Jembar Mulyana : Laba Bisnis Barang Gosong

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pekerja perusahaan berasal dari masyarakat sekitar.

Memproduksi briket beromzet Rp21 miliar per bulan untuk memasok pasar Eropa dan Timur Tengah.

Trubus — Selama 19 tahun Asep Jembar Mulyana berbisnis barang gosong. Omzetnya tak tanggung-tanggung, hingga Rp21,84 miliar per bulan (dengan kurs Rp15.600). Produsen di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memproduksi 1.000 ton briket per bulan dengan beberapa bentuk dan ukuran. Bentuk kubus ada dua ukuran, bersisi 25 mm dan 26 mm. Adapun ukuran bentuk balok 25 mm x 25 mm dengan panjang 15 mm.

Bentuk briket lain, prisma segienam bersisi 23 mm sepanjang 48 mm dan tabung berdiameter 50 mm setinggi 27 mm. Briket kubus dan balok lazimnya untuk barbekyu, sementara yang berbentuk prisma biasanya untuk shisha. Asep mengirim produknya ke beberapa negara di Eropa dan Timur Tengah. Ia membanderol produknya US$1.400 per ton. Harga itu terbilang tinggi ketimbang harga dari produsen lain. Namun, pembeli di mancanegara enggan berpaling.

Asep Jembar Mulyana
19 tahun menekuni
bisnis briket.

Sertifikasi Jerman

Asep memproduksi briket dengan filosofi pisang goreng. Arti di balik filosofi itu, ia ingin semua orang yang mencoba produknya membeli lagi alih-alih merasakan keluhan. Tentu saja direktur utama PT Tom Cococha itu memastikan briket produksinya berkualitas prima. Pria 49 tahun itu mendatangkan bahan baku arang matang berbahan tempurung kelapa tua dari Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Medan (Sumatera Utara), Padang (Sumatera Barat), dan Tembilahan (Riau).

Sebanyak 400 karyawan terbagi dalam 3 sif menjalankan delapan deret mesin memproduksi 20 ton briket per sit. Produk itu seluruhnya untuk memenuhi permintaan ekspor. Setiap bulan total produksinya mencapai 1.000 ton. Jumlah itu masih menyisakan ceruk karena permintaan yang masuk sebenarnya lebih banyak. Asep tidak menggeber produksi untuk mempertahankan mutu. Sebagai gambaran untuk memenuhi permintaan 3.000 ton per musim dari pembeli di Jerman saja sudah menghabiskan kapasitas pabriknya.

Belum lagi salah satu penjual daring internasional yang ingin menjajakan produknya. “Saya angkat tangan,” kata Asep. Pengalaman 19 tahun menekuni industri itu membuatnya paham spesifikasi briket di pasar internasional. Ayah tiga anak itu memilih berbisnis tempurung lantaran bahan baku maupun tenaga kerja seluruhnya lokal. Sementara itu pasar briket seluruhnya ke mancanegara.

Persiapan pengiriman briket dalam kemasan.

Konsep itu membuatnya mantap menerjuni bidang itu pada 2001 setelah mengundurkan diri dari tempat kerjanya terdahulu di Kota Manado, Sulawesi Utara. Kebetulan, perusahaan tempat kerjanya itu mengurus perkebunan kelapa sehingga pembuatan briket tidak terlalu asing baginya. Briket Tom Coco produksinya mengantongi berbagai sertifikat dunia, antara lain Amfori BSCI (Jerman), ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001.

Tertipu miliaran

PT Tom Coco Indonesia memerlukan waktu setahun untuk memenuhi syarat sertifikasi BSCI itu. Namun, begitu sertifikat itu di tangan, Asep justru kewalahan melayani permintaan. Sebelum mencapai posisi saat ini, Asep mesti menjalani kehidupan penuh peluh. Krisis moneter pada 1998 membuat Asep yang berprofesi sebagai konsultan permesinan pun tersingkir. Seorang teman menawari bidang yang sama sekali baru, yaitu mengelola perkebunan kelapa di Sulawesi.

“Sampai di sana saya seperti bangun dari mimpi dan sadar bahwa saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan di bidang itu,” katanya. Ia berusaha mencari informasi dari dalam negeri, tapi nihil. Asep harus belajar pengolahan kelapa sampai Korea Selatan. Baru sedikit mencecap manisnya bisnis briket, Asep kembali menelan pil pahit. Pembeli ingkar membayar sehingga ia harus menelan kerugian Rp2 miliar. Lagi-lagi ia menolak untuk menyerah. Melalui “gerilya” di berbagai pameran, Asep berhasil menggaet pembeli baru.

Proses produksi briket di PT Tom Coco berkapasitas total 7,5 ton per sif.

Justru permintaan datang bagaikan bola salju sampai ia harus menolak karena tingginya permintaan. Asep menyadari berkembangnya perusahaan juga berkat karyawan. Ia juga menanggung biaya makan tenaga kerja melalui kerjasama dengan penyedia jasa katering. “Kami melihat tenaga kerja melalui perutnya. Kalau perutnya kenyang, kerjanya benar,” katanya.

Empat tahun terakhir, ia menyekolahkan karyawan yang menduduki jabatan manajer atau lebih tinggi ke tingkat sarjana. “Pendidikan sesuai jabatan meningkatkan kinerja,” kata anak ke-6 dari 12 bersaudara itu. Ia sadar pengaruh pendidikan terhadap kinerja sehingga mematok pendidikan minimal tingkat SMA bagi kepala produksi hingga penyelia. Manajer dan tingkatan di atasnya minimal sarjana.

“Tanpa mereka, tidak mungkin ratusan tenaga kerja bergerak bersama menjalankan mesin produksi,” katanya. Asep mengutamakan tenaga kerja dari warga lokal. Ia ingin kehadiran pabrik mendatangkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Konsep sama ia terapkan di pabrik lain yang terletak di Kabupaten Purwakarta (Jawa Barat) dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah).

Bermodal perhatian terhadap kesejahteraan karyawan itulah perusahaannya mampu menyabet BSCI, yang mensyaratkan sederet peraturan ketat dengan audit teratur tiap tahun. “Kami satu-satunya produsen briket di Indonesia yang memegang sertifikat BSCI,” kata Asep. Sinergi dengan karyawan itulah kunci kesinambungan produksi briket yang memanfaatkan barang gosong. Itu pula yang menyebabkan jembar atau luas rezeki Asep Jembar Mulyana. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img