Monday, August 8, 2022

Ketika Bos Hidup Komunal

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kandang komunal di Dusun Sekuping, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Kandang komunal membantu penanganan ternak sapi lebih mudah.

Trubus — Ahmad Mufid tahu persis kapan harus memberi pakan, jumlah pakan, dan hal lain yang berkaitan dengan sapi-sapinya. Padahal, semula peternak di Dusun Sekuping, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, itu tidak tahu-menahu soal peternakan sapi. Ia memperoleh pengetahuan peternakan sapi dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility PT Bhumi Jati Power (BJP).

Perusahaan memberikan seekor sapi jenis peranakan ongole (PO) kepada beberapa keluarga di Dusun Sekuping. Di desa seluas 1.141 hektare itu terdapat 650 kepala keluarga. Petugas pendamping pada program itu, Fakhidowi, mengatakan, hanya kepala keluarga yang rumahnya di pinggir jalan dan terdampak oleh aktivitas perusahaan yang memperoleh sapi. Mereka terdampak transportasi perusahaan berupa kendaraan dan alat berat, sehingga terasa getarannya ke rumah.

Fasilitas lengkap

BJP memberikan total 203 sapi Bos sp. kepada warga. Program pemberdayaan Comunal Cow Farm adalah program tanggung jawab sosial perusahaan Bhumi Jati Power, perusahaan pengembangan pembangkit listrik independen di Jepara. Pembangkit listrik tenaga uap ditargetkan menjadi pembangkit listrik terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Saat ini dalam proses pembangunan pembangkit baru yaitu unit 5 dan 6. PLTU itu disebut juga Tanjungjati B.

Injeksi vitamin secara rutin untuk menjaga stamina dan kesehatan sapi.

Fasilitasi masyarakat terdampak aktivitas dilakukan dengan menggandeng PT Bina Swadaya Konsultan sebagai fasilitator. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kapasitas teknis dalam peternakan sapi secara efektif dan efisien dan penguatan kelembagaan masyarakat melalui pendampingan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Ahmad Mufid menjadi ketua KSM.

Bukan hanya itu, program itu juga membangun sebuah kandang komunal berukuran 18 m x 7,26 m. Kandang itu menampung 20 sapi. Mereka bergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ternak Makmur Bhumi Jaya. Para peternak di Desa Tubanan membesarkan sapi-sapinya di kandang komunal itu. Warga meletakkan sapi-sapinya di kandang yang sama. Kandang komunal berjarak 800 meter dari area pemukiman sehingga memudahkan mereka mengurus ternaknya.

Menurut tenaga ahli peternakan pada program itu, Yuli Sasusanto, kandang komunal memberikan manfaat bagi para peternak. Mereka bergotong royong merawat sapi di kandang komunal. Bila seorang peternak berhalangan datang ke kandang, anggota kelompok yang lain berinisiatif menggantikannya. Selain kandang komunal, terdapat juga kandang karantina berukuran 5 m x 2 m untuk memisahkan sapi yang sakit.

Keruan saja ketika semua sapi sehat, maka kandang karantina kosong. Fasilitas lain berupa gudang pakan, rumah kompos untuk pembuatan pupuk, kantor, dan greenhouse untuk penanaman sayuran. Di lokasi itu juga terdapat instalasi sumur bor air untuk memenuhi kebutuhan ternak serta biodigester sebagai tempat pengolahan limbah peternakan menjadi biogas.

Peran pendamping

Adapun sumber pakan bagi satwa anggota famili Bovodae itu berupa hanya hijauan dari kebun dan hutan. Peternak juga memanfaatkan limbah pertanian padi (jerami), batang jagung, dan tonggol jagung. Menurut ahli peternakan dari Institut Pertanian Bogor, Dr. Iwan Prihantoro, kandang komunal lebih efisien dan lebih ramah lingkungan. Lazimnya peternak akan berkompetisi terkait hal-hal positif.

Perawatan sapi dilakukan setelah masyarakat mendapatkan pelatihan teori setiap akhir pekan.

Menurut doktor Ilmu Nutrisi Pakan alumnus Institut Pertanian Bogor itu setiap anggota kelompok harus saling komitmen. Agar pengelolaan ternak terintegrasi dapat tercapai. Artinya pengelolaan ternak tidak hanya terpusat pada hewan ternak, tetapi juga pengelolaan limbah, dan pemanfaatannya. Tidak luput juga aspek sosial lingkungan yang kerap menimbulkan perselisihan.

Selain pelatihan beternak sapi, Mufid juga merasakan manfaat dari pelatihan kelembagaan. Harap mafhum, pria 43 tahun itu memimpin kurang lebih 20 anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). “Semenjak ada kelompok, kami bisa saling bertukar informasi. Karena meskipun sudah ada pelatihan, kadang-kadang ada yang punya prinsip masing-masing yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam mengelola sapi,” kata Mufid.

Terdapat 5 pelatihan teknis peternakan sapi yang akan diberikan kepada warga secara berkala, yakni satu pekan sekali dan berlangsung pada Ahad. Para peternak berlatih membuat pakan fermentasi, kesehatan hewan, sanitasi kandang, pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair, serta pengelolaan biogas. Menurut Mufid pelatihan yang telah berjalan adalah pembuatan biogas dan pupuk organik.

Biogas

Pengolahan pakan secara mandiri menjamin
ketersediaan pakan sapi.

Pengolahan biogas dan pupuk organik merupakan komponen aktivitas tambahan yang diharapkan meningkatkan optimalisasi manfaat dari program. Itu agar keberlanjutan dari program bisa terjamin dan model bisnis yang diterapkan bisa menjadi percontohan untuk dusun lainnya. Model bisnis itu hasil rumusan yang sesuai kondisi sosial ekonomi di masyarakat.

“Kemarin kami sudah mulai melakukan penanaman kangkung. Jadi, untuk memanfaatkan pupuk yang sudah dibuat dari kotoran sapi,” kata Mufid. Ia merasa banyak mendapatkan informasi baru, apalagi terkait kesehatan sapi. Kini ia mengerti bahwa sapi harus dibuat senyaman mungkin agar tidak stres. Sapi yang sakit menunjukkan gejala seperti kurangnya nafsu makan.

Satwa ruminansia itu kerap lesu dan di bagian mata tampak sayu bahkan berair. Sapi sehat tidak akan mengeluarkan lendir berlebihan dari mulutnya. Bila itu terjadi, kemungkinan sapi dalam kondisi sakit. Peternak segera mengobati untuk menanggulangi kondisi itu. Mereka dapat memberikan obat melalui oral atau mulut, drenching  atau dicekok, serta injeksi atau penyuntikan.

Namun, sebaiknya peternak mencegah serangan penyakit dengan sanitasi kandang, sanitasi ternak, pemberian vitamin B kompleks secara rutin untuk membantu meningkatkan penyerapan nutrisi di dalam tubuh ternak. Serupa halnya dengan pemberian obat cacing. Pemberian obat cacing harus sesuai dosis, yakni 10 ml per 10 kg bobot tubuh sapi. Artinya, bila bobot seekor sapi 80 kg, dosis obat cacing 80 ml.  Sapi betina bunting dilarang minum obat cacing.

Fasilitator pelatihan itu adalah PT Bina Swadaya Konsultan yang berpengalaman mendampingi masyarakat selama 40 tahun terakhir. Perusahaan itu menempatkan empat orang sebagai petugas lapangan. Perannya menjembatani antara PT Bhumi Jati Power dan para peternak. Merekalah yang mendampingi para peternak ketika mempraktikkan teori pelatihan.Tujuannya mampu memperbaiki kekeliruan sehingga dan mencegah kesalahan yang berlarut-larut.

Menurut fasilitator pelatihan dari PT Bina Swadaya Konsultan, Rosyadi, diharapkan masyarakat lebih mandiri dengan pelatihan dan pendampingan. Dampaknya peningkatan perekonomian daerah setempat terwujud karena masyarakat itu sendiri. Ia berharap Dusun Sekuping dapat berpembang menjadi peternakan sapi percontohan dengan sistem modern dan terintegrasi. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img