Tuesday, November 29, 2022

Seribu Bonsai Tanda Kasih dari Bali

Rekomendasi

Best ten kategori utama, santigi milik Lie Sek KianPantai Matahari Terbit di Sanur, Bali, jadi saksi adu elok seribu bonsai.

P ada 13 November 2011 itu Pulau Dewata dengan sukacita menyambut tamu istimewa yang mestinya bertandang 3 bulan lalu. Tamu itu bukan pelancong dari berbagai penjuru dunia, tokoh masyhur, atau selebritas. Tamu itu 1.000 pot bonsai dari berbagai penjuru Bali, Palu (Sulawesi Tengah), Bandung (Jawa Barat), serta Malang, Sidoarjo, Pamekasan, dan Surabaya (Jawa Timur).

 

Best ten kategori madya, asam jawa milik Hadi KristantoBest ten kategori regional, cemara udang milik Hasan AshadiSeribu bonsai itu hadir dalam rangka kontes gebyar 1.000 bonsai bertajuk Bali Go Green Bonsai 2011 yang diselenggarakan pada 12—23 November 2011. “Kontes itu perhelatan besar yang belum pernah diselenggarakan di tanahair bahkan dunia. Selama ini kontes bonsai paling banyak diikuti 700 peserta,” ujar I Made Kari, ketua panitia. Euforia peserta terlihat dari antusiasme mereka mengarak hampir separuh bonsai-bonsai cantik itu menuju tempat perhelatan dengan mengenakan pakaian pecatu diiringi alunan musik tradisional Bali.

Bali merajai
Meski peserta asal Pulau Dewata mendominasi, persaingan memperebutkan peringkat sepuluh besar pada masing-masing kategori kontes relatif ketat. “Peraih peringkat sepuluh besar terbaik wajib memenuhi empat kriteria penilaian meliputi penampilan, gerak dasar, keserasian dan kematangan,” ujar Deny Nayoan, salah satu anggota dewan juri.
Turun dengan kekuatan penuh, bonsai-bonsai asal Bali merajai kelas-kelas yang dipertandingkan. Di kelas utama, hanya santigi milik Lie Sek Kian (Surabaya), mustam milik Husny Bahasuan (Surabaya), dan sancang milik Jonny (Malang) yang mampu mengimbangi laju bonsai tuan rumah menembus peringkat sepuluh besar.
“Saya optimis santigi milik saya mampu menembus peringkat sepuluh besar,” ujar Lie Sek Kian yang menyebut santigi koleksinya dalam performa sangat baik sehingga mampu bersaing di kategori utama. Sebab santigi itu tampil dengan tingkat kematangan cukup baik, dimensinya timbul, dan serasi dengan pot.
Tuan rumah juga mendominasi di kategori madya dan regional. Pada kategori madya, asam jawa milik Hadi Kristanto (Pamekasan), cemara udang milik Aji Cahyono (Sidoarjo), dan sancang milik Haris (Bandung) menyodok ke dalam sepuluh besar. Sementara di kategori regional, hanya cemara udang dan santigi milik Hasan Ashadi (Pamekasan) serta santigi milik Combats (Situbondo) yang berhasil menembus barikade bonsai tuan rumah.

Rekor MURI
Menurut catatan panitia, peserta terbanyak turun di kategori regional dan madya. Masing-masing berjumlah            
457 dan 168 peserta. Kategori utama hanya diikuti  35 peserta. Sisanya mengisi kategori prospek dengan jumlah 441 peserta. Kelas ini ditujukan untuk bonsai yang belum pernah mengikuti kontes.  
“Jumlah peserta yang fantastis itu sebuah tanda kasih dari penggemar bonsai Bali untuk ikut semakin menyemarakkan dunia bonsai di tanahair,” ujar Winarto Selamat, ketua koordinator bonsai cabang Bali. Museum Rekor Indonesia (MURI) pun menabalkan kontes yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Koordinator Cabang Bali itu sebagai kontes bonsai dengan peserta terbanyak. Selain menciptakan rekor, kontes juga berhasil menjaring sekitar 200 penggemar baru. (Andari Titisari)

 

 

Kingkit Menggigit
Sepasang mata Frans A. Djaya berbinar saat mendapati sebatang bonsai jeruk kingkit di arena kontes gebyar 1.000 bonsai. Bonsai itu tak berhasil memikat juri karena penampilannya kurang sempurna. Akarnya tertutup lumut sehingga tidak terekspos. Padahal itu salah satu kekuatan bonsai. Toh Frans bergeming. “Meski penampilannya kurang menawan tapi struktur batang, cabang, dan rantingnya tersusun seimbang secara alami,” ujar Frans.
Bonsai jeruk kingkit jarang hadir dalam kontes sebab sulit mendapatkan perfoma sempurna seperti di alam. Kebanyakan jeruk kingkit yang ditemui memiliki cabang kurang sempurna. Cabang kecil sehingga mirip ranting yang menempel pada batang. Mestinya susunan akar, batang, cabang, dan ranting “mengalir” menyerupai bentuk tanaman asli di alam. Untuk mendapatkan bentuk sempurna itu butuh waktu lama. Pantas bila Frans jatuh hati pada kingkit yang kini ada dalam genggamannya itu. (Andari Titisari)

 

Previous articlePertarungan Dua Generasi
Next articleJemur Agave

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img