Tuesday, August 9, 2022

Setek Kentang Jadi Bibit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Cara cepat perbanyakan kentang dengan setek. Memangkas waktu perbanyakan bibit 3—4 kali lebih cepat dan hasil panen tetap tinggi.

Trubus — Petani di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Bunyan Ismail, memanen 20—30 ton kentang per hektare per musim tanam. Hasil itu lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata panen kentang nasional 18,7 ton per hektare. Uniknya pengelola Hikmah Farm itu menanam kentang bukan menggunakan benih asal umbi. Namun, ia menggunakan bibit setek berakar. Kebutuhan bibit stek berakar mencapai 40.000 bibit per hektare.

Di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Slamet Rahman pun berhasil panen kentang tinggi menggunakan setek berakar. Hasil panen mencapai 20 ton per hektare. Populasi 40.000 tanaman per hektare. Petani lain yang mengadopsi cara serupa ada di Kecamatan Kayuaro, Kabupaten Kerinci, Jambi, Monadi. Ia memperoleh 20 ton kentang dari populasi 40.000 tanaman berasal dari setek berakar.

Lebih cepat

Ketersediaan benih bermutu tepat waktu dan tepat jumlah sering kali menjadi kendala dalam budidaya kentang, terutama di luar pulau Jawa. Industri perbenihan juga masih terpusat di sentra produksi kentang di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat. Pada umumnya petani menggunakan benih sebar berupa umbi G-2.

Permasalahan penggunaan benih berupa umbi antara lain memerlukan waktu yang lama dalam produksi benih. Urutan pembenihan kentang bermula dari benih penjenis atau plantlet – benih dasar (umbi G-0) – benih pokok (umbi G-1) – benih sebar (umbi G-2). Sejak plantlet hingga benih sebar memerlukan waktu minimal 19 bulan. Selain itu sifat benih sebar juga bulky—jumlah besar dan memerlukan tempat luas.

Itu menyulitkan pengiriman jarak jauh dan penyimpanannya, serta biaya pengiriman mahal. Kini sudah berkembang penggunaan benih setek berakar. Tujuannya menekan biaya produksi dan mempercepat ketersediaan benih. Penggunaan benih berupa setek berakar dapat memotong siklus benih sehingga mempercepat ketersediaan benih. Waktu perbanyakan hanya 3—5 bulan. Artinya waktu perbanyakan 4—6 kali lebih cepat dibandingkan perbanyakan benih berupa umbi.

Selain itu pengemasan dan transportasi benih setek berakar dari lokasi produksi ke lokasi penanaman dapat dilakukan dengan lebih ringkas. Pengangkutan jarak dekat dapat dilakukan langsung dengan nampan atau tray persemaiannya. Petani dapat menumpuk nampan benih menggunakan pembatas untuk menghindari kerusakan tanaman. Sementara distribusi jarak jauh, dapat dilakukan dengan mencabut setek berakar dari nampan.

Kemudian petani membungkus benih menggunakan koran bekas dan memasukkan ke dalam kotak. Jaga kelembapan kotak penyimpanan dengan membasahi kertas koran atau menyemprot dinding bagian dalam kotak penyimpanan untuk menjaga kesegaran benih.

Ekonomis

Tanaman kentang hasil perbanyakan setek.

Benih setek berakar juga mampu menghasilkan tanaman dengan vigor bagus, pertumbuhan normal, dan produksi umbi tinggi. Budidaya kentang medians menggunakan benih berupa setek berakar di Lembang pada 2018 menghasilkan 15,6 ton per hektare. Sementara budidya dari benih umbi menghasilkan 16,4 ton per hektare. Hasil itu tidak terlalu berbeda jauh.

Produktivitas tanaman yang berasal dari setek berakar dapat dijaga bila pada awal tanam air tersedia cukup. Pada prinsipnya, penanaman setek berakar sama dengan penanaman bibit tanaman sayuran lainnya seperti cabai atau tomat, yang periode kritisnya memang setelah tanam. Bibit harus disiapkan lebih untuk keperluan penyulaman tanaman yang mati. Adapun pemeliharaan selanjutnya, sama dengan tanaman yang berasal dari benih umbi.

Keuntungan lain menggunakan setek akar lebih ekonomis. Harga per bibit setek berakar Rp1.000. Bandingkan dengan harga umbi G-0 atau benih dasar lebih mahal yakni Rp1.500—Rp3.500 per knol. Kebutuhan antara setek berakar dan umbi sama, yakni 40.000 benih per hektare. Para petani di beberapa sentra produksi, seperti di Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banjarnegara di Jawa Tengah, menerapkan penanaman benih setek berakar.

Mereka menanam benih setek berakar dengan populasi antara 40.000—60.000 tanaman per hektare. Pada prinsipnya, budidaya dan pemeliharaan tanaman kentang yang berasal dari benih setek berakar sama dengan tanaman yang berasal dari benih umbi. Selain itu, produksi umbi yang dihasilkan juga setara dengan yang dihasilkan oleh tanaman yang berasal dari benih umbi. (Juniarti Prihartiny Sahat, S.P. M.P., Tri Handayani, S.P. M.Sc., dan Kusmana S.P., Peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img