Tuesday, February 3, 2026

Setulus Aliran Sungai

Rekomendasi
- Advertisement -

Kota-kota, desa-desa, pabrik, dan jembatan bermunculan karena sungai. Begitu juga pertanian, peternakan, perkebunan, dan semua produksi agribisnis serta agro-industri. Karena itu, berbahagialah orang yang cinta kepada sungai dan mampu membelanya dari hulu ke hilir.

Dapatkah kita membayangkan Jawa Timur tanpa Sungai Brantas? Tidak mungkin. Sungai sepanjang 320 km itu telah menciptakan sejarah lebih dari seribu tahun dan menghidupi berjuta-juta jiwa manusia. Sungai Brantas telah melahirkan berbagai produk, dari jamur sampai ikan. Dari berbagai tumbuhan sampai madu, telur puyuh, kangkung, dan bahan bangunan (kayu, bambu, batu), serta air minum, bahkan strum listrik yang menggerakkan bermacam pabrik untuk kebutuhan hidup modern.

Belum lagi kalau kita tengok peternakan dan perkebunan. Semua ternak: sapi, babi, kelinci, domba, bebek, kodok, belut, bermacam burung berkicau, dan ulat sutera. Hulu sungai Brantas di lereng Gunung Arjuno menghasilkan sayur mayur: kol, wortel, dan aneka buah termasuk apel, kopi, kakao, stroberi, teh. Di hilir ada perkebunan tebu, pesawahan, bahkan kayu manis, kelapa, talas, mahkota dewa, dan mengkudu!

Itulah sebabnya, kita bicara agribisnis dan agro-forestry tidak cukup terpaku pada satu dua komoditas. Hal yang perlu dibenahi pun bukan hanya sistim tanam dan perdagangan produk, tapi mikro klimat. Teristimewa pengelolaan lahan dan manajemen daerah aliran air. Itulah yang sedang dikembangkan oleh berbagai program baik dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat setempat, lembaga donor, dan badan-badan dunia, dengan anggaran besar-besaran.

Dialog hulu dan hilir

Tantangannya sekarang, membuat masyarakat hilir dan hulu sungai merasa saling perlu membantu. Adalah seorang cendekiawan dari LP3ES, Munawir, namanya, yang mencoba menggagas masyarakat perkotaan, teristimewa kalangan swasta, bisa ikut merawat, mengayomi, dan meningkatkan produktivitas saudaranya di hulu sungai, khususnya di kawasan mata air. Caranya dengan merancang programprogram dukungan dari kalangan industri, untuk melakukan konservasi di kawasan pegunungan. Dua tiga programnya mulai berhasil, yakni dengan membentuk dialog hulu-hilir, menjembatani penyumbang dan yang disumbang.

Penggunaan setiap jengkal tanah di hulu sungai terkait erat dengan hajat hidup banyak orang di setiap tempat yang mengarah ke muara. Kalau petani di hulu sungai menggunakan banyak pestisida, misalnya, sepanjang sungai akan merasakan racunnya. Namun, kalau setiap warga di hulu senang menanam pohon lindung, melaksanakan pertanian dan perkebunan organik, kualitas air yang mengalir. Makanya jangan heran kalau siswa-siswi SLTP di Jepang harus mampu menjawab: “Mengapa kalau kita banyak menanam pohon di gunung, rasa ikan laut pun menjadi lebih lezat?”

Jawabnya tentu terkait pada kualitas dan kuantitas air segar yang mengalir ke muara. Semakin banyak pohon di gunung, semakin banyak air hujan yang tertangkap dan tertabung di dalam tanah. Semakin jernih air membuat ikan semakin sehat, semakin banyak, besar-besar, dan semakin baik untuk kita konsumsi. Semoga anak-anak Indonesia yang masih punya “lubuk larangan”, “mata air keramat”, rumpon, serta ribuan keramba di telaga, sungai, teluk dan lautnya, lebih memahami hal ini.

Yang lebih penting lagi, tentu meyakinkan bahwa para pemakai air perlu memberi subsidi untuk para petani yang menjaga kawasan sumber. Mengapa? Karena melalui partisipasi warga daerah tangkapan air, penebangan kayu, dan kerusakan lahan bisa dihindari. Dengan dukungan biaya untuk menanam dan merawat tanaman yang cocok, mutu dan debit air dapat ditingkatkan.

Kegiatan semacam itulah yang dewasa ini banyak didorong dan dipromosikan sebagai “program jasa lingkungan”. Adanya mekanisme pembayaran, pemanfaatan dan pemantauan daerah konservasi, merupakan pertanda masyarakat Indonesia mulai pandai mencintai sungai-sungainya. Jadi, boleh diharapkan bahwa masalah lingkungan mulai dipecahkan dengan cara yang efektif, dan menuju ke arah yang tepat.

Para pemakai jasa listrik tenaga air (PLTA), air minum (PDAM), transportasi sungai dan danau, bahkan pengguna pelabuhan, mulai paham bahwa mereka dapat memperbaiki kualitas pelayanan yang diharapkannya. Kalau hulu sungai terpelihara, tanah longsor dan sedimentasi berkurang. Muara dan pelabuhan tidak perlu harus sering dikeruk dengan alat-alat berat dan biaya besar.

Pertanyaannya sekarang, maukah masing-masing kita, menambah sumbangan melalui rekening listrik dan tagihan air minum untuk konservasi daerah tangkapan air? Memang belum ada peraturan, apalagi lembaga yang mengelola. Namun, sekelumit keberhasilan telah memberi harapan dan dapat dicatat. Misalnya partisipasi kelompok masyarakat dan kerjasama industri di Banten, Lombok, dan Jawa Timur.

Pisang berlian dan terong belanda

Dari perspektif agribisnis, sekali lagi perlu berfokus pada komoditas. Sekitar 20 keluarga di Desa Tulungrejo, Batu, misalnya, mulai menanam terung belanda dan membuat jus dalam botol. Masalahnya tentu, bagaimana warga di bagian hilir dapat ikut berpartisipasi dalam investasi itu. Bagaimana para pemodal dan konsumen di sepanjang sungai (Malang, Kediri, Kertosono, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya!) bisa ikut memikirkan dan membiayai pembenihannya, pengolahan, pengemasan, distribusi, serta pemasarannya.

Rata-rata produk seperti itu bersifat endemik dan berada di lingkungan terpencil. Perlu uluran tangan, perhatian, dan bantuan istimewa bagi para penanam dan pemrosesnya. Karena itu, tidak mudah mengembangkan industri jus terung belanda, markisa, nanas, dan semacamnya, sebagaimana dapat kita lihat di Sumatera Utara, Subang (Jawa Barat), Sulawesi Selatan, dan Batu (Jawa Timur).

Satu contoh lagi, masih di kawasan tangkapan air di Jawa Timur, ada pisang berlian yang buahnya kecil-kecil dan relatif kurang enak untuk dikonsumsi. Namun, melalui teknologi sederhana yang dikembangkan oleh Universitas Brawijaya, sekelompok pekebun bersama Yayasan Kaliandra Sejati, dapat mengolahnya menjadi kudapan lezat, yaitu keripik pisang berlian. Seperti itu pula di Wonosobo (Jawa Tengah) dengan manisan pepaya liar, carica. Buah yang semula masam dan tidak menarik menjadi lezat, dikemas dalam botol, dikirim ke berbagai kota.

Produk lainnya adalah jambu batu, yang semula tidak laku, jadi cukup mahal dan banyak dicari setelah dijadikan jus atau saribuah. Yayasan Telapak di Bogor, mencatat komoditas madu. Semakin terpelihara hulu sebuah sungai, semakin beragam dan bagus mutu madunya. Ada madu berbagai bunga, madu bunga lengkeng, madu bunga durian, madu jakaranda, madu albisia, dan madu trengguli. Semakin banyak tumbuhan berbunga, semakin bervariasi dan berkhasiat produk madunya. Di desadesa kita bisa membeli madu dengan harga bervariasi antara Rp35.000—Rp50.000 per botol.

Bila diproses dan dikemas lebih baik, tentu harganya menjadi lain. Hal serupa berlaku untuk produk lain: talas, petai, kolang-kaling, rebung bambu, dan berbagai komoditas andalan hulu sungai. Di luar negeri pun, daerah aliran sungai (DAS atau Watershed) identik dengan makanan dan minuman sehat. Termasuk ladangladang anggur yang menyediakan buahnya sepanjang tahun.

Akhirnya, tentu sampai pada pertanyaan, langkah apa yang harus dilakukan? Pentingnya daerah aliran sungai ini telah melahirkan berbagai organisasi penyayang sungai dan sumber. Berbagai hadiah untuk mengelola dan mengembangkan daerah tangkapan air ditawarkan oleh banyak lembaga internasional maupun badan-badan dunia. Sekadar contoh, pemerintah Amerika Serikat, melalui lembaga bantuannya, USAID, meluncurkan Environmental Services Program (ESP) yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat di sejumlah daerah tangkapan air.

Caranya dengan kegiatan antara lain mengelola hutan dan melindungi keragaman hayati di daerah hulu dan memperbaiki sanitasi, serta penyediaan jasa air di daerah hilir. Dengan mengerahkan tenaga ahli konservasi, pakar air, dan sanitasi, serta melibatkan dukungan fi nansial, programnya dirancang untuk lima tahun di tujuh provinsi. Jangan heran bila Anda suatu saat mendengar saran agar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota Anda perlu menjual saham untuk mengembangkan pelayanan. Lebih penting lagi, perlu memperhatikan tebing sungai dan terlibat pada pengembangan produkproduk DAS yang sehat.

Seperti yang dapat Anda lihat di Sumatera Barat. Anda akan lebih biasa lagi melihat Perusahaan Listrik Negara (PLN) ikut membina petani singkong, penghasil sanjai (keripik ubi kayu manis pedas) yang terkenal sebagai cendera mata dari Padang.

Mulai sekarang, tidak boleh tidak. Setiap orang Indonesia perlu ingat, punya dan mengenal, serta mencintai sungainya. Bukan hanya dalam wacana, tapi tahu bagaimana mengambil langkah nyata dan benar untuk merawatnya. Bukan hanya supaya tidak terjadi banjir tahunan, tetapi supaya memberikan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang dapat memperpanjang umur manusia. Bukankah semua sungai di dunia telah berusaha mencintai manusia sepanjang zaman dan setulus alirannya? Sayang banget kalau kita pura-pura tidak perduli pada sumber dan jalan kehidupan ini. *** *) Eka Budianta, seorang penyair, konsultan pembangunan, penerima hadiah Ashoka dan alumnus LEAD Indonesia.

 

Artikel Terbaru

Rahasia Panen Durian Berulang Berkat Nutrisi Organik

Durian identik dengan musim tertentu. Namun, pengalaman berbeda datang dari Kebun Durian Tamora di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img