Wednesday, August 17, 2022

Siasat Enak Konsumsi Herbal

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Herbal cair merupakan hasil ekstraksi dari bahan herbal.
Herbal cair merupakan hasil ekstraksi dari bahan herbal.

Praktis, enak, dan lebih cepat bereaksi. Itulah kelebihan herbal dalam bentuk cair

Generasi 1980 masih menyimpan kenangan mengonsumsi obat puyer atau tablet yang pahit. Pemilik biro perjalanan di Yogyakarta, Khaerodin, ingat persis setiap kali sakit kepala akibat kelelahan atau terlalu lama terpapar panas matahari. Ia mengandalkan puyer untuk mengurangi derita “Sudah sakit, obatnya pun pahit,” tuturnya mengenang. Lantaran manjur, ia menguatkan diri mencecap pahitnya obat demi mendapat kesembuhan.

Untuk mengurangi derita konsumen, produsen herbal membungkus serbuk dalam kapsul berbahan gelatin. Permukaan kapsul yang licin memudahkan penderita menelannya. Meskipun aman bagi kesehatan, kapsul gelatin memerlukan waktu lebih lama—sekitar 15 menit— sebelum ekstrak herbal terserap ke dalam tubuh. Bahan gelatin terurai oleh liur dan enzim pencernaan, barulah ekstrak herbal keluar.

Daun poko, meningkatkan rasa dan khasiat pada campuran herbal.
Daun poko, meningkatkan rasa dan khasiat pada campuran herbal.

Perisa
Produsen herbal kembali berinovasi dengan membuat herbal cair. Berdasarkan bentuknya, ada 3 jenis sediaan herbal, yaitu padat, kental, dan cair. Ekstrak cair mengandung air lebih dari 20%, ekstrak kental berkadar air 10—20%, sedangkan ekstrak kering berbentuk puyer seperti yang dikonsumsi Khaerodin. Masyarakat lebih gemar mengonsumsi herbal dalam bentuk cair.

Sebab, herbal cair mempunyai rasa yang beragam, tidak beraroma jamu, praktis, dan mudah ditelan tanpa harus makan atau minum makanan lain seperti kapsul atau serbuk. Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan menyari senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian sebagian atau semua pelarut diuapkan.

Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, peneliti herbal dari Universitas Indonesia.
Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, peneliti herbal dari Universitas Indonesia.

Serbuk yang tersisa itulah yang disebut ekstrak. Biasanya ekstrak mempunyai rasa berbeda dengan bahan bakunya. Herbalis dari Batu, Jawa Timur, Wahyu Suprapto mencontohkan rasa dan aroma ekstrak beras kencur yang lebih nikmat dibandingkan bahan bakunya. Untuk membuat herbal cair, serbuk ekstrak diberi bahan tambahan untuk menurunkan dosisnya lalu dilarutkan dalam pelarut air.

Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, farmakolog di Pusat Studi Obat Alam Universitas Indonesia, obat herbal cair biasanya diberi perisa sehingga rasanya bisa lebih diterima di lidah konsumen. Perisa ada 2 jenis, sekadar penambah rasa tanpa khasiat tambahan, lainnya mempunyai khasiat tambahan bagi obat herbal. Perisa berkhasiat antara lain daun poko Mintha piperita yang mempunyai efek melegakan hidung dan tenggorokan.

Herbalis dari Kota Malang, Jawa Timur, dr Zainal Gani, menyatakan, beberapa obat herbal diproduksi sejak awal untuk mempertahankan kandungan minyak asiri dari bahan bakunya. Proses pengeringan dengan panas untuk membuat serbuk dapat merusak kandungan itu Minyak asiri hanya akan berkhasiat dalam bentuk cair. “Bila dibuat bubuk dengan cara dikeringkan maka khasiatnya akan hilang,” kata Zainal.

Herbal cair berasal dari serbuk ekstrak dengan penambahan pelarut dan bahan lain.
Herbal cair berasal dari serbuk ekstrak dengan penambahan pelarut dan bahan lain.

Peneliti dari University of Gondar, Etiopia, Teferra Abula menyatakan bahwa menurut sifat fisio kimia obat, konsistensi fisik berbentuk cair lebih mudah atau lebih baik diserap oleh tubuh dibandingkan padatan. Ekstrak cair diserap 40% lebih baik bila dibandingkan kapsul atau tablet. Ekstrak cair bereaksi lebih cepat dalam tubuh dan mendukung kerja pencernaan serta mempercepat penyembuhan.

Kedaluwarsa
Selain rasanya lebih enak, bentuk cair mempermudah penyerapan lantaran tubuh tidak perlu memecah ekstrak sehingga khasiat herbal lebih cepat terserap. Jika mengonsumsi sediaan kapsul atau tablet, tubuh harus memecah herbal menjadi bentuk cair dalam perut. Riset Teferra, ekstrak cair memerlukan 1—4 menit untuk dicerna, sedangkan kapsul atau tablet membutuhkan waktu 20—30 menit untuk dipecah sebelum tubuh dapat mencernanya.

Minyak asiri merupakan salah satu bahan herbal cair.
Minyak asiri merupakan salah satu bahan herbal cair.

Dengan begitu ekstrak cair bereaksi lebih cepat dibanding kapsul atau tablet. Kelemahan sediaan cair adalah cepat mengalami kadaluwarsa akibat aktivitas mikrob dari udara. Sejatinya kelemahan itu bisa dikurangi dengan proses produksi yang higienis dengan menggunakan alat bagus dan berkualitas agar menghasilkan herbal berkualitas. Menurut Wahyu, kualitas produk herbal mempengaruhi masa kedaluwarsa herbal cair.

Produk berkualitas biasanya mempunyai masa kedaluwarsa lebih lama. Namun, “Waspada dengan produsen nakal yang mencampurkan bahan pengawet berbahaya pada herbal cair untuk memperpanjang masa kedaluwarsa,” kata Wahyu. Bahan pengawet itu dapat mengganggu kesehatan tubuh. Zaenal Gani berpendapat, beberapa produsen menambahkan gula sebagai pengawet. Selain berfungsi mengawetkan herbal cair, gula juga dapat berfungsi sebagai pengencer dahak.

Secara kasat mata, kedaluwarsa dapat dilihat dengan adanya perubahan warna dan bau. Menurut Prof Sumali, herbal tidak mempunyai efek samping kecuali bagi mereka yang mampunyai alergi pada suatu bahan tertentu. Bila mengalami alergi terhadap suatu bahan, hentikan pemakaian dan gunakan herbal lain berkhasiat sama. (Muhammad Awaluddin)

 

Previous articleKampiun Ujung Tahun
Next articleKhasiat Jempolan Jahe
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img