Monday, August 15, 2022

Sirih Merah Tolak Amputasi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Susmiarto tak kuasa membayangkan hidup tanpa kedua kaki. Ia mesti duduk di atas kursi roda atau mengenakan kaki palsu. Tidak. Pria 35 tahun itu menolak vonis itu, meski ia tak yakin bakal sembuh. Musibah itu berawal dari sebuah noktah merah di atas permukaan kulit kaki. Beberapa hari berselang noktah itu bertambah. Jika kaki dipegang terasa nyeri bukan main. Itu terjadi pada Januari 2003.

Semula ia menduga alergi kulit. Namun, karena tak kunjung sembuh Susmiarto segera berobat ke dokter spesialis kulit. Diagnosis dokter, teknisi komputer itu menderita kerusakan pembuluh darah. Ketika obat habis dikonsumsi selama sebulan, kesembuhan tak kunjung datang. Ia kembali ke dokter spesialis kulit yang lain. Lagi-lagi obat pemberian dokter tak menunt a s k a n penyakitnya. Itulah sebabnya untuk ke- 3 kalinya, ia kembali ke dokter spesialis kulit.

Dokter spesialis kulit ketiga yang didatanginya memvonis sama: kerusakan pembuluh darah. Toh, kesembuhan yang diharapkan seperti menjauh. Lukanya kian parah. “Tulang kaki sampai kelihatan,” ujar Susmiarto mengenang. Ketika hawa dingin menerpa—terutama saat malam—sakitnya kian terasa. Begitu juga saat bangun tidur. Ia mesti berjuang ektrakeras agar dapat bangun dari pembaringan. “Kaki sulit digerakkan. Kaku,” ujarnya.

Diabetes?

Susmiarto tetap bekerja meski dalam kondisi payah. Memang ia mesti membawa beberapa celana panjang sebagai ganti. Harap mafh um, nanah di luka itu terus membasahi celana panjangnya. Itulah sebabnya ia mesti berganti celana. Karena luka kian parah, sedangkan dokter gagal menyembuhkan, Susmiarto berobat ke sinshe. Ramuan beragam tanaman obat yang dikonsumsinya ternyata bukan jalan penyembuhan.

Dua belas purnama berlalu. Beragam pengobatan ditempuh, tetapi kesembuhan bagai jauh api dari panggang. Percaya dirinya untuk sembuh kian terkikis. “Saya mulai putus asa,” ujarnya mengenang. Tubuh pria setinggi 165 cm itu kurus kering. Tulang belulang menonjol. Bobotnya anjlok, cuma 45 kg dari sebelumnya 53 kg.

Di tengah rasa putus asa, tibatiba ia ingat B amb a n g S u d e w o , produsen obat tradisional di Yogyakarta. Dua tahun sebelumnya Susmiarto yang membuka bengkel reparasi pernah memperbaiki televisi Bambang Sudewo. Ke rumah Sudewo-lah ia datang membawa sebongkah harapan yang semula berserakan. Mas Dewo—demikian Bambang Sudewo biasa disapa—menduga sulung 4 bersaudara mengidap diabetes mellitus.

Luka menahun

Kencing manis—sebutan untuk diabetes mellitus—penyakit kelainan metabolisme akibat kurangnya hormon insulin. Dampaknya kadar glukosa dalam darah lebih tinggi. Seseorang yang berusia 30—40 tahun divonis menderita diabetes mellitus bila kadar glukosa darah 195 mg/ ml. Sudewo menduga Susmiarto mengidap kencing manis berdasarkan gejala-gejala seperti pandangan kabur, lemas, sering haus, pingsang, dan gusi rapuh.

Susmiarto mudah lelah lantaran glukosa darah tak dapat diserap dan tak mengalami metabolisme dalam sel sehingga penderita kekurangan energi. Jika sering haus karena sifat glukosa yang menarik air, sehingga penderita sering berurine dan kehilangan banyak cairan. Efeknya penderita kencing manis selalu merasa dahaga dan mulut terasa kering. Sayang, saat itu Susmiarto tak pernah sekalipun mengecek kadar gula darahnya.

Diagnosis Sudewo sama dengan pendapat dr Willie Japaries MARS yang dihubungi Trubus secara terpisah. “Ulkus kronis (borok menahun, red) akibat sirkulasi pembuluh darah kecil rusak atau mikroangiopati. Salah satu pemicunya adalah kencing manis,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Biasanya ulkus kronis terdapat pada organ tubuh yang jauh dari jantung. Akibat sirkulasi darah tak lancar akhirnya memicu luka menahun.

Menurut Susmiarto saban hari minimal ia menghabiskan 3 gelas teh manis. Belum lagi bila lembur di rumah ketika memperbaiki komputer atau televisi, konsumsi teh manisnya meningkat.

Sirih merah

Sudewo menyodorkan selembar daun sirih merah yang telah dicuci bersih. Saat itu juga Susmiarto mengunyah dan menelan daun kerabat merica. Rasanya pahit minta ampun. Konsumsi berikutnya bukan dalam bentuk segar, tetapi kapsul. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) itu membuat ektrak daun sirih merah dan mengkapsulkannya. Susmiarto menelannya 2 kapsul dengan frekuensi 2 kali sehari usai sarapan dan menjelang tidur.

Sepekan kemudian nanah mengalir deras disertai nyeri yang sangat dari luka kakinya. Sudewo menyarankan konsumsi kapsul sirih merah diteruskan. Pada pekan ke-3, luka-lukanya mulai mengecil dan menutup. Lalu pada pekan ke-4 luka-luka rapat dan kering. Bersamaan dengan itu nyeri yang dirasakan berangsur-angsur mereda.

Dua bulan setelah rutin mengkonsumsi Piper crocatum seluruh luka di kaki sembuh total. Ketika ditemui Trubus lukanya kering sama sekali. Hanya ada bekas luka membulat berwarna kehitaman. Kedua kaki itu masih utuh. Momok bernama amputasi akhirnya pergi. Berkat sirih merah. Kencing manis yang memilukan pun berakhir manis. (Sardi Duryatmo)

Dulu Hiasan Kini Obat

Sirih merah beralih fungsi. Pada penghujung 1991 ia kerap dipajang di berbagai ekshibisi. Permukaan atas hijau gelap berpadu dengan tulang daun merah keperakan amat kontras. Sedangkan permukaan bawah daun merah keunguan. Dipajang di sudut ruang atau teras Piper crocatum itu menambah semarak. Setelah satu dasawarsa ”menghilang”, kini anggota famili Piperaceae itu hadir kembali. Namun, bukan sebagai tanaman hias, tetapi tanaman obat.

Orang yang getol memperkenalkannya adalah Bambang Sudewo. Produsen tanaman obat di Blunyahrejo, Yogyakarta, itu acapkali memajang sirih merah di berbagai pameran. Memang ketika dipajang, fungsi sebagai tanaman hias tak sepenuhnya sirna. Sosok guan shang hu jiao—sebutannya di Cina—cukup menawan.

Sama dengan sirih?

Banyak bukti empiris orang sembuh beragam penyakit setelah mengkonsumsi sirih merah. Sebagian hanya konsumsi tunggal, sirih merah tanpa tambahan tanaman obat lain. Namun, ada pula yang menambahkan dengan bahan lain. Selain diabetes mellitus, penyakit yang disembuhkan dengan sirih merah antara lain hipertensi, leukimia, dan kanker payudara. Apa kandungannya?

Sejauh ini belum ada riset yang mengungkap kandungan sirih merah. Yang sudah diteliti baru sirih Piper betle. Namun, menurut Broto Sudibyo BSc, herbalis di Yogyakarta, kandungan sirih merah sama dengan sirih biasa. Sirih (tanpa embel-embel merah) antara lain mengandung hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allypyrokatekol, cyneole, caryophyllien, cadinene, estragol, terpennena, seskuiterpena, fenil propana, tanin, dan diastase.

Efek zat aktif yang dikandung seluruh bagian tanaman dapat merangsang saraf pusat, merangsang daya pikir, meningkatkan persitaltik, dan meredakan sifat mendengkur. Daun sirih juga memiliki efek mencegah ejakulasi prematur, mematikan cendawan, antikejang, analgesik, pereda kejang pada otot polos, penekan kendali gerak, mengurangi sekresi cairan pada liang vagina, penekan kekebalan tubuh, pelindung hati, dan antidiare.

I Ketut Adnyana PhD, dosen Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung, mengatakan sirih bersifat antiseptik. Ia mampu membersihkan zat-zat yang bersifat kontaminator pada kulit. “Tanaman ini mampu mengeliminasi pertumbuhan cendawan Candida albicans penyebab sariawan pada mulut dan gatalgatal pada alat kelamin,” katanya. (Sardi Duryatmo/Peliput: Nyuwan S.B)

Akar Naga

Pembangkit Gairah

Malam terasa begitu panjang bagi Ivan—sebut saja begitu. Pisau tajam bak menoreh hati setiap kali ia menolak sang istri meminta “jatah”. Kian hari gairah seksualnya pun makin menurun. Semua itu gara-gara penyakit gula darah yang dideritanya. Berbagai upaya penyembuhan yang ditempuh tak kunjung membuahkan hasil. Hanya ekstrak Polypodium feei yang mampu membebaskan penderitaannya.

Semua bermula pada awal 2002 ketika ia tiba-tiba cepat merasa pusing, lelah, dan lesu. Pria 60 tahun itu pun kerap tak sanggup menahan haus, lapar, dan berurine yang frekuensinya meningkat. Bahkan seringkali tibatiba tangannya kesemutan tanpa sebab. Hasil pemeriksaan dokter rumah sakit di Bandung, menunjukkan ia mengidap diabetes mellitus. Berita itu bagaikan guntur di siang bolong. Ivan serasa memikul beban ribuan ton di pundaknya.

Derita Ivan tak berhenti di situ. Penyakit kencing manis pun menggerogoti kehidupan seksualnya. Gairah seksualnya menurun drastis. “Jatah” istrinya tidak mampu dipenuhi. Puncaknya, keharmonisan pasangan suami-istri itu pun terganggu.

Untungnya, dewa penolong segera datang. Seorang rekannya dosen di sebuah universitas terkemuka di Bandung, menganjurkan untuk mengkonsumsi ekstrak akar naga Polypodium feei. Anjuran itu dilakonidengan sepenuh hati. Setiap hari Ivan merebus 3 gram akar dalam 5 gelas air. Rebusan dibiarkan mendidih hingga tersisa 2—3 gelas. Seduhan itu diminum 3 kali sehari sehabis makan.

Tak diduga hanya dalam waktu seminggu khasiatnya mulai terasa. Vitalitas dan gairah Ivan kembali membara. Bagaikan biji kaktus terkena percikan air hujan di gurun pasir yang panas dan kering, kemesraan suamiistri pun kembali bersemi.

Afrodisiak

Berdasarkan hasil penelitian penulis, Polypodium feei memiliki komposisi utama berupa senyawa bioaktif proantosianidin trimer dan fl avonoid. Senyawa-senyawa itu terbukti mempunyai bioaktivitas positif secara medis bagi kesehatan.

Gabungan kedua senyawa itu memberikan efek sinergis bagi tubuh. Hasilnya, ia terbukti ampuh meningkatkan aktivitas antioksidan, analgesik, antiinfl amasi, penurun kolesterol, rematik, dan antidiabetes.

Itu senada dengan penelitian H. Wagner. Farmakolog di Ludwig Maximilians University, Jerman, itu menyatakan ekstrak akar naga menuntaskan gejala rematik. Prosesnya, proantosianidin dan fl avonoid yang terkandung dalam akar naga mampu menghambat pembentukan enzim 5- siklooksigenase. Enzim ini berperan sebagai pemicu peningkatan produksi prostaglandin dalam tubuh. Jika kadar enzim ini menurun, potensi timbulnya gejala rematik makin berkurang. Alhasil, gejala rematik pun pupus sudah.

Disinyalir, zat-zat itu mampu menurunkan kadar gula darah. Selain itu, ekstrak akar naga pun terbukti memiliki sifat afrodisiak lantaran kandungan antioksidan yang tinggi. Dengan mengkonsumsi ekstrak akar naga, gairah seksual yang lama terkubur dapat dihidupkan kembali. Pantas, pakis tangkur—si akar naga itu—disebut sebagai obat tradisional multikhasiat.

Multikhasiat

Selain berkhasiat afrodisiak, akar tanaman ini digunakan secara tradisional untuk penyakit rematik dan tekanan darah tinggi, serta memperlancar buang air kecil. Berbagai jenis penyakit degeneratif seperti jantung koroner, kanker, diabetes, dan rematik dapat diminimalisir.

Menurut penulis hipertensi disebabkan oleh terjadinya penyempitan saluran pembuluh darah. Jika diameter saluran pembuluh darah menyempit, arus darah yang mengalir lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini menyebabkan beban jantung dalam memompa kian bertambah berat. Inilah yang menyebabkan tekanan darah terus meningkat.

Disinyalir, ekstrak akar naga berperan sebagai antihipertensi. Kandungan antioksidannya mampu menghambat produksi angiotensin converting enzyme (ACE), biang terjadinya vasokonstriksi—penyempitan pembuluh darah. Dengan mengkonsumsi ekstrak akar naga, penyempitan pembuluh darah dapat ditekan seminimal mungkin. Alhasil, pengidap hipertensi kini dapat bernapas lega. Tekanan darah yang semula tinggi mampu distabilkan.

Tanpa efek samping

Antioksidannya mampu mengurangi pembentukan radikal bebas pada tubuh. Secara tidak langsung, ekstrak akar naga merupakan salah satu obat awet muda. Selain itu, proantosianidin dan fl avonoidnya berperan sebagai hepatoprotektor. Zat ini mampu menurunkan kadar enzim SGOT dan SGPT pada tubuh. Makanya akar naga baik dikonsumsi bagi penderita hepatitis.

Biasanya, obat bersifat analgesikantiinfl amasi ibarat pedang bermata dua. Satu sisi, khasiatnya mengurangi rasa nyeri akibat peradangan. Namun, sisi lain, sifatnya yang “keras” berefek samping pada lambung. Obat ini mampu meningkatkan kandungan asam lambung. Inilah penyebab terjadinya ulkus peptikum—iritasi (luka) pada dinding lambung.

Itu tidak terjadi pada mereka yang meminum ekstrak akar naga. Hasil penelitian penulis menunjukkan senyawa antioksidan proantosianidin dan fl avonoid akar naga terbukti ampuh menghambat sekresi asam dalam lambung. Selain itu, senyawa utama tanaman gunung itu pun meningkatkan produksi mucus—lapisan lendir lambung. Lendir itu melapisi dinding lambung sehingga tidak terjadi iritasi.

Tumbuh dekat kawah

Predikat “naga” disandangnya lantaran akarnya bersisik. Itu diidentikan dengan sisik naga. Daunnya berwarna hijau tua, berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing dan bergerigi. Panjang daun bervariasi, antara 3—30 cm. Tangkainya berwarna cokelat dengan panjang berkisar 6—50 cm.

Daun muda tumbuh melingkar seperti tanaman paku-pakuan. Sori—kumpulan spora terletak pada bagian bawah daun yang fertil. Letaknya sejajar di antara urat daun, berbentuk garis, dan berwarna cokelat. Tanaman asli Indonesia itu tumbuh menjalar di dalam dan permukaan tanah dengan diameter tidak melebihi jari tangan.

Ia tumbuh liar di sekitar hutan dekat kawah gunung berapi. Tumbuhan ini hidup di lereng gunung pada ketinggian 1.300—3.000 m dpl. Sayang hingga kini potensi besar si akar naga belum termanfaatkan maksimal. Penduduk di daerah-daerah sebaran baru memanfaatkannya sebagai tanaman hias. (Dr Anas Subarnas, MSc, dosen Farmasi Universitas Padjadjaran Bandung)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img