Trubus.id— Setiap tahun pasar modern di Indonesia menyerap 200.000 ton jeruk. Namun, hanya 10% yang berasal dari perkebunan jeruk lokal. Sebanyak 90% yang terpajang di etalase adalah buah impor. Padahal jeruk lokal berpeluang mendominasi pasar.
Menurut data Badan Pusat Statistik volume produksi jeruk lokal Indonesia mencapai 2,5 juta ton per tahun. Miris hanya 35% dari total produksi yang terserap pasar, sisanya terbuang. Jeruk lokal harus menghadapi gempuran jeruk impor.
Praktikus Pertanian dan Direktur Penjualan Darifarm, Zoilus Sitepu, S.P., mengatakan Indonesia membutuhkan strategi tertentu agar produksi jeruk yang melimpah bisa masuk ke pasar swalayan modern. Musababnya, jeruk menjadi harapan bagi dunia buah-buahan di tanah air.
“Jeruk menjadi buah impor primadona setelah apel dan anggur. Apel lokal tak mampu bersaing karena bukan buah meja. Begitu pula dengan anggur lokal lantaran memiliki ukuran beri yang relatif kecil,” ujar Zoilus.
Zoilus menilai prioritas terbesar untuk menyaingi buah impor ada pada jeruk lokal. Sebanyak 90% jeruk impor berasal dari Tiongkok. Jeruk dari Negeri Tirai Bambu itu merebut hati konsumen kelas menengah ke atas karena 7 alasan utama.
Pertama penampilan fisik buah menarik dengan kulit dan daging berwarna jingga cerah. Kedua, cita rasa buah yang konsisten berkat teknologi pascapanen yang mampu menyeragamkan rasa.
Ketiga, ukuran buah homogen pada setiap kelas berkat sistem grading size yang konsisten. Bagi konsumen menyajikan jeruk yang memenuhi ketiga kriteria itu menunjukkan gengsi sebagai masyarakat kelas atas.
Alasan keempat adalah pengemasan buah menarik sehingga mencuri perhatian tatkala dipajang pada rak penjualan. Kelima, pasokan buah kontinu sesuai permintaan pasar sehingga memudahkan perencanaan penjualan.
Keenam, daya simpan panjang sehingga penjualan tidak terburu-buru. Ketujuh jeruk impor dapat disimpan di pendingin tanpa mengubah kualitas rasa. Jeruk impor kian terlihat dominan karena dipajang secara mencolok di pasar swalayan dan pasar buah modern.
“Pemetaan jeruk-jeruk lokal dengan penampilan seronok sangat dibutuhkan agar mampu menembus pasar swalayan modern,” papar Zoilus.
