Trubus.id—Kabupaten Brebes sohor sebagai sentra bawang merah. Namun, penanaman bawang merah kian meluas ke daerah lain. Di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Muhamad Mulya pun membudidayakan bawang merah. Ia menanam di lahan 1 ha. Dari luasan lahan itu ia memanen 10—12 ton bawang merah per ha.
Mulya menjual bawang kering siap konsumsi seharga Rp15.000 per kg. Omzet dari perniagan itu Rp150 juta— Rp180 juta per ha. Menurut Mulya, harga jual bawang itu sebetulnya bisa lebih tinggi lagi yakni mencapai Rp40.000 per kg. “Harga pada September—Oktober 2023 sebetulnya lagi murah,” kata Mulya. Harga Rp15.000 per kg pekebun masih bisa kembali modal.
Menurut Mulya pada akhir tahun di Bogor harga bawang relatif murah. Oleh sebab itu, pada musim tanam September—November 2023 ia mengurangi produksi. Penyebab turunnya harga karena bawang merah asal Jawa Tengah seperti Brebes membanjiri pasar Bogor dan Jakarta.
“Di Jawa Tengah, saat kemarau justru hasil produksi bagus sehingga bawang melimpah. Jadi saya tidak berani menanam dalam skala luas, hanya sekitar 1 hektare (ha),” kata Mulya.
Saat normal ia bisa menanam 2 ha lebih. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, Mulya mengurangi produksi agar harga bawang tidak anjlok lagi. Pada bulan Januari biasanya produksi bawang di sentra di Jawa Tengah seperti Brebes menurun karena musim hujan.
Hal itu dimanfaatkan oleh Mulya untuk menanam bawang. Selain karena musim hujan, pasar juga siap menyambut karena menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Lazimnya harga bawang pada Mei yang mencapai lebih dari Rp30.000 per kg. Bahkan pada Mei 2022 harga bawang mencapai Rp60.000 per kg.
Menurut Mulya hingga saat ini pekebun harus siap dengan fluktuasi harga. “Oleh sebab itu kita harus memiliki strategi agar terhindar dari kerugian yang besar dan bertahan saat harga murah,” katanya. Contohnya saat di daerah sentra banyak yang menanam, maka di daerah yang bukan sentra mengurangi produksi.
“Kita tetap menanam bawang pada saat harga murah, tetapi mengurangi produksi agar tetap bertahan dan pelanggan tidak sampai kabur,” kata Mulya.
Strategi yang tak kalah penting adalah jaringan informasi di daerah sentra. Mulya kebetulan punya saudara di Brebes sehingga bisa memberikan informasi di sana. Berdasarkan informasi di Brebes saat memasuki musim hujan menjadi kendala penanaman.
Hal itu dimanfaatkan oleh Mulya untuk menanam bawang meski saat hujan rentan terkena penyakit. Salah satu penyakit yang kerap muncul di masa pancaroba yaitu penyakit layu fusarium atau moler.
Pengurus Kelompok Tani Ragusta itu beruntung menggunakan mulsa ketika menanam bawang merah. Tanpa mulsa serangan cendawan fusarium menyebar lebih cepat karena serangan lebih dari satu titik.
Strategi selanjutnya adalah strategi pasar. Mulya tidak mau bergantung pada pasar induk yang harganya kerap tak menentu. Oleh sebab itu, ia sebisa mungkin mencari pasar seperti pengecer, penjual daring, dan tukang sayur.
“Kalau hanya menjual 1 ton cukup di rumah saja, tidak perlu ke pasar. Mereka datang sendiri. Saya tidak mau menjatuhkan harga di pasar induk,” kata Mulya. Kalau harga murah bawang tidak dijual, tetapi disimpan untuk stok dan kebutuhan benih.
