Monday, August 8, 2022

Supaya Khasiat Jangan Pergi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Wahyu Suprapto “Cemaran logam berat bisa menyebabkan kanker karena bersifat karsinogenik”
Wahyu Suprapto “Cemaran logam berat
bisa menyebabkan kanker karena bersifat
karsinogenik”

Penggunaan pestisida dan zat kimia justru menghilangkan khasiat herbal. Bahkan membahayakan kesehatan.

Kebun di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu pantas digelari apotek hidup. Lima ratus tanaman berkhasiat obat tumbuh di lahan seluas 2 ha. Kepala kebun Pusat Pengembangan Tanaman Obat Karyasari, Mudakir Sanjaya, mengatakan bahwa untuk menghasilkan herbal berkhasiat dan bermutu antara lain menggunakan pupuk dan pestisida organik.  “Kami tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia,” kata Mudakir.

Begitu juga PT Karya Pak Oles Tokcer yang mengelola kebun tanaman obat di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Apoteker penanggung jawab teknis PT Karya Pak Oles Tokcer, Endah Widyowati, SSi, Apt, menuturkan, bahan baku herbal di antaranya seperti daun murbei,  daun avokad, dan rimpang jahe merah hasil budidaya organik di Kecamatan Busungbiu, Kecamatan Sawan, dan Kecamatan Sukasada, semua di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. “Semua bahan baku kami tanpa pestisida maupun pupuk kimia. Untuk pupuk, kami menggunakan pupuk hayati yang mengandung bakteri baik penyubur tanah,” kata Endah.

 

Terlarang

Menanam tanaman obat memang tak sepi dari serangan hama atau penyakit. Daun avokad Persea americana yang berkhasiat memperbaiki fungsi ginjal, misalnya, acap terserang ulat. Untuk mengatasinya  PT Pak Oles menggunakan pestisida ramuan sendiri berbahan tanaman obat lain seperti rimpang lengkuas, biji intaran atau nimba, dan batang sereh. Sementara itu, produsen di Cijantung, Jakarta Timur, CV Permana Putra Mandiri, mengandalkan tanaman yang tumbuh di tepian hutan seperti di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Subang, dan Kecamatan Cikembar, Sukabumi—keduanya di Provinsi Jawa Barat.

Yusuf Prianto dari CV Permana Putra Mandiri mengatakan,  jika terpaksa mengolah tanaman hasil budidaya, maka selektif dengan mempertimbangkan latar belakang pemilik pohon. “Yang terpenting, pada akhirnya kita cek di laboratorium,” kata Yusuf.

Produsen herbal memang harus memproduksi obat-obatan tradisional secara berkualitas dan aman. Berkualitas mengacu pada proses budidaya, panen,  hingga produksi  sehingga khasiat tanaman terjaga. Sementara aman berarti tanpa zat-zat yang membahayakan, seperti boraks, tawas, dan campuran bahan kimia obat. Yusuf Prianto menuturkan penggunaan bahan kimia yang berbahaya maupun pestisida tidak diperkenankan dalam membuat produk herbal.

“Pestisida bisa membuat alergi bahkan bisa keracunan apabila tidak terkendali,” tuturnya. Begitu juga dengan bahan kimia berbahaya menimbulkan reaksi kimia dan membahayakan kesehatan. Sekadar contoh, penggunaan tawas yang berfungsi untuk penjernih air secara berlebihan bisa menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Produsen menggunakan tawas berharap produknya berpenampilan bersih sehingga menarik minat konsumen.

Sebagai gantinya Yusuf menggunakan buah jarak pagar Jathropa curcas yang dibakar hingga menjadi arang dan berfungsi sebagai penjernih air pengganti tawas. “Selain aman, air yang dihasilkan juga lebih jernih,” kata Yusuf. Direktur Obat Asli Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), Dr Sherly MSi, Apt, mengatakan penggunaaan bahan bahan kimia berbahaya dalam produksi herbal terlarang. “Meski angka cemaran itu masih dibawah 10%, tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan.”

 

Budidaya organik membuat khasiat herbal tetap terjaga
Budidaya organik membuat khasiat herbal tetap terjaga

Izin

Herbalis di Batu, Jawa Timur,  Wahyu Suprapto, berpendapat serupa. Wahyu kerap menemukan produsen herbal  nakal yang mencampur obat tradisional dengan obat-obatan kimia. “Biasanya produsen herbal skala rumah tangga yang tidak memiliki izin dari dinas terkait,” kata Wahyu yang juga dosen di Universitas Airlangga. Salah satu herbal yang kerap menjadi sasaran produsen nakal itu adalah ramuan herbal untuk  pegal linu, lantaran herbal itu sering dikonsumsi masyarakat.

Wahyu Suprapto mencontohkan,  jamu pegal linu yang seharusnya hanya mengandung bahan tanaman seperti rimpang jahe atau kunyit, tetapi  produsen mencampur dengan obat-obatan kimia seperti antalgin dan dexamethasone. Antalgin bersifat sebagai antinyeri sementara dexamethasone obat antiinflamasi dan antialergi yang sangat kuat. Menurut Wahyu, dalam waktu singkat konsumen memang bisa langsung terasa bugar, tetapi terjadi peningkatan dosis yang tidak terkontrol karena jumlah campuran juga tidak diketahui.

Padahal menurut Wahyu, obat kimia itu dilarang dikonsumsi selama 3—4 hari berturut-turut. “Bisa menyebabkan gagal ginjal dan penyakit jantung,” kata Wahyu. Oleh karena itu, dosen program studi Pengobatan Tradisional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu menyarankan konsumen herbal untuk membeli produk herbal yang jelas dan berizin dari dinas terkait.

Dr Sherly MSi, Apt menyarankan, agar konsumen membeli produk obat tradisional yang sudah memiliki nomor registrasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). “Itu menunjukkan bahwa herbal tersebut sudah kami uji secara laboratorium sehingga aman dikonsumsi,” kata alumnus Universitas Indonesia itu. Produk herbal yang mendapat izin Badan POM telah memiliki nomor registrasi yang tertera pada kemasan. Cara lain berkonsultasi terlebih dahulu pada herbalis yang berpengalaman. Pasalnya, hingga saat ini cemaran bahan kimia maupun logam berat tidak bisa diketahui secara kasat mata. “Harus uji di laboratorium,” kata Wahyu.

Menurut direktur Standardisasi Obat Tradisional Kosmetik dan Produk Komplementer, Badan POM Drs Harry Wahyu, Apt untuk meminimalisir terjadinya pencemaran maupun kesalahan dalam memproduksi herbal, produsen harus mengikuti standardisasi yang dikeluarkan Badan POM. Standar itu terdapat pada Peraturan Kepala Badan Pom RI nomor HK.03.1.23.06.11.5629 Tahun 2011 tentang teknis cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB).

Di dalam CPOTB ada 11 aspek yang menjadi acuan yaitu, sistem manajemen mutu, personalia, bangunan—fasilitas dan peralatan, sanitasi dan higienitas, dokumentasi, produksi, pengawasan mutu, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, cara penyimpanan dan pengiriman yang baik, penanganan terhadap hasil pengamatan produk jadi di peredaran, dan inspeksi diri. “Peraturan itu bermanfaat untuk semua pihak, baik produsen, konsumen maupun pemerintah,” kata Drs Harry.  (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img