Monday, January 26, 2026

Syarat Pasok Pasar Dunia

Rekomendasi
- Advertisement -

Budidaya tanpa bahan kimia sintetis untuk memasokpasar ekspor.

Buah naga merah organik yang menjadi standar buah naga ekspor.( Dok. Asroful Uswatun)

Trubus — Dari Kabupaten Jember, Jawa Timur, buah naga-buah naga itu terbang ke Singapura dan beberapa negara di Benua Eropa. Pasar eropa mensyaratkan buah berbobot 250—390 g, sedangkan Singapura memiliki batasan bobot 300—500 g per buah. Mereka menolak buah terlalu besar, bobot 1 kg misalnya, karena kemungkinan penggunaan hormon pemacu pertumbuhan.

Asroful Uswatun pekebun dan pengekspor buah naga sejak 2008.( Dok. Asroful Uswatun)

Syarat lain, jumbai buah atau sirip buah tidak boleh menguning atau tetap hijau ketika sampai di negara tujuan. Buah naga juga harus lulus uji residu di bandara nasional. Kondisi buah tidak boleh cacat, harus segar. Itulah sebabnya Uswatun ketat menerapkan budidaya buah naga secara organik. Syarat utama buah yang lolos ekspor memiliki sertifikat organik dan tersertifikasi standar sistem pertanian yang baik atau good agricultural practices (GAP).

Tanpa pestisida

Uswatun mengatakan, kunci utamanya budidaya buah naga organik tidak menyemprotkan bahan kimia sintetis. Perempuan kelahiran 9 September 1968 itu tidak mau terjadi residu yang memengaruhi tanaman, tanah, air, dan lingungan. “Budidaya organik bukan berarti membiarkan tanaman dan kebun telantar. Kami mengaplikasikan bahan-bahan alami untuk mendukung pertumbuhan tanaman serta menjaga kesehatan lingkungan,” kata Uswatun.

Pohon buah naga diberikan pupuk organik setiap 3 bulan sekali.( Dok. Asroful Uswatun)

Ia mengelola penanaman buah naga di lahan sendiri seluas 3 hektare berketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Populasi mencapai 4.800 tanaman per hektare. Selain itu, ia juga bermitra dengan bebrapa petani di lahan total 30 hektare. Mereka membudidayakan buah naga merah Hylocereus polyrhizus. Setiap 1—2 pekan sekali Uswatun menuai setidaknya 5 ton buah naga per hektare.

Harap mafhum, perempuan 52 tahun itu merawat intensif sehingga tanaman berbuah susul-menyusul. Sejak mekar bunga hingga menjadi buah siap panen memerlukan 50 hari. Ketika panen raya pada November—April produksi menjulang tajam hingga 20 ton per hektare. Kini tanaman di lahan Uswatun berumur 15 tahun.

Hasil yang “manis” itu karena Uswatun memupuk organik setiap 3 bulan. Ia memberikan 20 kg pupuk racikannya pada setiap tiang yang terdiri atas 4 tanaman. Pupuk organik ala Uswatun terdiri atas campuran cocopeat atau serbuk sabut kelapa, abu sekam, dan kotoran hewan dengan perbandingan 1:1:1. Campuran itu bertugas untuk memberi nutrisi. Kemudian ia menambahkan dolomit 0,5% dan 9 macam bakteri yang telah terfermentasi selama 2 pekan.

Minim nitrogen

Menurut Uswatun kunci lain menghasilkan buah yang sesuai kehendak pasar ekspor adalah hindari pemberian nitrogen terlalu tinggi dan hindari pemberian hormon pembesar. Kedua hal itu mengakibatkan cita rasa buah naga kurang manis dan tidak segar, serta bobot buah yang terlalu besar. Ketika proses pemetikan buah dilakukan pastikan alat pemotong benar-benar tajam, sehingga tangkai tidak menjadi memar dan tidak melukai batang lain.

Pencabutan gulma rutin dilakukan untuk menjaga kebersihan kebun.( Dok. Asroful Uswatun)

Ketua Asosiasi Buah Naga Indonesia (ABNI), Gunung Soetopo, mengatakan, kebun buah naga yang tersertifikasi GAP menunjukkan kredibilitas kebun dan kualitas buah naga yang dihasilkan. Pasar mancanegara lebih tertarik menjalin kerja sama dengan kebun yang juga resmi terdaftar di pemerintah Indonesia. Menurut Gunung Soetopo pembeli dari luar negeri tidak hanya mengincar buah, tetapi memperhatikan rekam jejak produsen buah naga.

Uswatun membersihkan buah naga satu per satu menggunakan kuas untuk menghindari serangga atau kotoran kecil yang kerap menempel di kulit buah. Ia memiliki boks dengan banyak lubang untuk sirkulasi udara untuk mencegah kelembapan tinggi. Pekebun sejak 2008 itu menyusun rapi buah di keranjang secara perlahan. Satu keranjang terdiri atas 40 buah naga setara 15 kg.

Ia lantas menumpuk keranjang-keranjang terisi buah naga agar rapi, maksimal tiga tumpukan. Tujuannya agar tidak memberi tekanan terlalu besar pada keranjang paling bawah. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img