Friday, December 9, 2022

Tak Galau Merawat Sebangau

Rekomendasi

Taman Nasional Sebangau (TNS) melakukan upaya konservasi berbasis kemasyarakatan dalam menjaga zona pemanfaatan Sungai Sebangau. Zona pemanfaatan berada di wilayah penangkapan bertempat di induk dan anak sungai. Induk sungai bersifat terbuka dan anakan sungai bersifat tertutup. Itulah yang menciptakan adanya mekanisme lokal Sebangau.

Secara umum seluruh wilayah penangkapan sungai bersifat terbuka. Artinya semua masyarakat dapat menangkap ikan di wilayah itu. Mekanisme lokal yang ada tidak mengubah status sumber daya yang terkandung. Dengan kata lain, sumber daya tetap milik bersama. Anak Sungai Sebangau bersifat tertutup lantaran memiliki pengelola sungai atau disebut nelayan pemilik hak.

Kepemilikan hak didapatkan dari sebuah paklaring, yaitu surat yang dikeluarkan oleh kepala adat suku Dayak. Kepemilikan hak diteruskan secara turun-temurun kepada anggota keluarga yang berkontribusi besar terhadap dunia perikanan yakni melalui hubungan darah dan pernikahan. Nelayan pemilik hak merupakan masyarakat asli Kalimantan Tengah. Mereka memiliki kewenangan menjaga sungai dan memberikan izin berkegiatan untuk semua masyarakat.

Hal itu termasuk adat budaya Indonesia sehingga Balai TNS tidak memiliki banyak kewenangan melainkan tetap melakukan kontrol atas kegiatan yang berlangsung. Adat budaya seperti itu lebih dikenal dengan pengelolaan berbasis hak ulayat (wilayah). Beberapa perairan Indonesia yang terlibat kedalam adat budaya yaitu sasi laut di perairan timur Indonesia dan rumpon laut di perairan barat.

Tujuan pelaksanaan pengelolaan berbasis hak adalah melaksanakan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan berbasis hak sudah sangat familiar untuk perairan laut. Namun masih terbatas untuk perairan darat seperti sungai. “Sebangau sudah menjadi bagian hidup kami. Puluhan tahun kami berdiam menjaga sungai (anakan sungai) jauh sebelum TNS dikukuhkan. Besar harapan kami sebagai nelayan pemilik hak mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah,” kata nelayan setempat Bahran.

Bahran merupakan bagian dari nelayan pemilik hak untuk kawasan anak Sungai Bangah. Tujuannya pengelolaan berbasis hak ini tidak hilang tergerus zaman sehingga keturunan mereka masih dapat menikmati santapan ikan sungai. Melihat pengelolaan berbasis hak yang masih tergaja di anak Sungai Sebangau membuat keberadaan mekanisme lokal sebaiknya dipertahankan.

Harapannya prinsip keberlanjutan sumber daya ikan dan mata pencaharian masyarakat sungai terjaga. Sungai Sebangau memiliki karakteristik perairan hitam (black waters) di induk dan anak sungai yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini. Kondisi perairan hitam disebabkan oleh pengaruh langsung dari hutan rawa gambut sehingga Sungai Sebangau memiliki kadar keasaman yang cenderung rendah (pH < 7). Sejatinya sungai merupakan perairan tawar dengan tingkat keasaman (pH) netral berkisar antara 6,8— 7.

Kondisi fisik Sungai Sebangau sangat dipenuhi oleh tumbuhan rasau yang memberikan manfaat ekologi sebagai tempat perlindungan dan pemijahan ikan. Saat kemarau tiba, kondisi perairan menjadi lebih rendah sehingga keberadaan rasau menjadi faktor penghambat jalur transportasi. Terkadang terjadinya cuaca ekstrem mengakibatkan ledakan lumut yang menghambat baling-baling perahu motor. Saat itu kecerahan perairan pun menurun. (Sifa Nurseptiani, S.Pi., mahasiswi pascasarjana bidang pengelolaan sumber daya perairan di Institut Pertanian Bogor)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img