Friday, August 19, 2022

Firdaus Bagi Para Channa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Sungai Sebangau memiliki karakteristik perairan hitam (black waters) di induk dan anak sungai yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini.

 

Kehidupan Bahran mirip nelayan yang melaut. Bedanya warga Kecamatan Sebangaukuala, Kabupaten Pulangpisau, Provinsi Kalimantan Tengah, itu, tidak memerlukan waktu hingga berbulan-bulan mencari ikan. “Biasanya saya pulang sepekan sekali jika musim ikan. Kalau tidak musim ikan, saya bisa pulang 3—4 hari,” kata Bahran. Bukan laut sebagai tempat utama mencari ikan. Bahran mengandalkan Sungai Sebangau di Kalimantan Tengah sebagai “laut” tempat menangkap ikan.

Ikan anggota famili Channidae berbobot 1—2 kg menjadi primadona tangkapan nelayan.

Mang Bahran—sapaan akrab Barhan—merupakan nelayan tradisional di Sungai Sebangau. Sebutan amang/mang mengacu pada sebutan nelayan laki-laki di Sungai Sebangau. Adapun kaum perempuan disapa dengan panggilan acil. Disebut tradisional lantaran Bahran menggunakan alat tangkap pasif manual untuk mendapatkan ikan. Ada dua jenis alat tangkap yakni utama dan tambahan.

Alat tangkap utama nelayan Sebangau adalah tempirai yang berbentuk balok dan terbuat dari kawat. Alat tangkap itu tenggelam sehingga dibutuhkan pelampung untuk mengetahui keberadaannya. Tempirai digunakan sepanjang musim dan semua nelayan memiliki alat tangkap itu. Sementara alat tangkap tambahan terpopuler adalah rengge dan salambau yang tergolong mahal.

Harga salambau lebih mahal daripada rengge. Nelayan menggunakan salambau dengan membentangkan jaring seluas mungkin di sungai. Kemudian mereka menarik salambau dengan bantuan katrol ketika ikan berkumpul. Berbeda dengan alat tangkap utama, hanya beberapa nelayan yang mempunyai rengge atau salambau karena keterbatasan modal.

Pemakaian alat tambahan juga hanya pada musim tertentu. Sebagian besar tangkapan nelayan merupakan ikan konsumsi air tawar. Ikan tangkapan yang teridentifikasi antara lain berasal dari famili Anabantidae, Channidae, dan Siluridae. Ikan anggota famili Channidae bergenus Channa menjadi kelompok famili terbesar yang ditemui di Sungai Sebangau. Kelompok ikan itu populer dengan sebutan snakehead fishes karena bentuk kepala yang mirip ular.

Toman Channa micropeltes salah satu ikan anggota famili Channidae penghuni Sungai Sebangau.

Ikan karnivora itu mengandung albumin tinggi dan asam amino lengkap. Albumin merupakan protein yang salah satu manfaatnya untuk penyembuhan luka pascaoperasi. Sungai Sebangau diyakini masih menyimpan lengkap sebagian besar spesies ikan dari famili Channidae. Buktinya ada ada 5 spesies ikan Channa yang masih dapat ditemukan yaitu kerandang Channa pleurophtalma, mihau Channa bakanensis, toman Channa micropeltes, kihung Channa lusius, dan peyang Channa marulioides.

Adapun ikan gabus atau terkenal dengan nama lokal haruan Channa striata relatif sulit ditemukan di Sungai Sebangau. Spesies Channa sp. masih menjadi tangkapan primadona serta berharga jual tinggi baik dalam keadaan segar maupun kering (asin). Kerandang, mihau, dan toman merupakan ikan yang tidak mengenal musim atau tertangkap sepanjang tahun.

Tempirai yang berbentuk balok terbuat dari kawat merupakan alat tangkap utama nelayan.

“Jangan kaget ikan-ikan di sini bisa mencapai bobot lebih dari 1 kg per ekor. Bahkan, ikan-ikan berbobot lebih besar mudah tertangkap pada 5—8 tahun lalu,” tutur Mang Bahran yang menekuni pekerjaan mencari ikan sejak 1960-an. Bobot kerandang dan toman mencapai 1—2 kg per ekor dan berharga jual Rp 30.000—Rp 40.000 per kg. Channa sp. memili harga jual relatif stabil dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

Kondisi yang menguntungkan itu membuat para nelayan pendatang terutama kaum Banjar tergiur membudidayakan toman sebagai pekerjaan tambahan. Sayangnya, budidaya toman masih dilakukan dengan pengambilan benih dari alam. Selanjutnya nelayan memelihara benih itu di karamba apung. Tentu saja dari aspek konservasi kegitatan itu seharusnya dihindari dan tidak dianjurkan.

Sungai Sebangau yang dikelilingi hutan rawa gambut merupakan habitat favorit ikan kihung dan peyang. Saat air surut kedua ikan itu sangat sulit didapat. Alasannya nelayan sulit memasuki kawasan itu karena terhalang berbagai macam tumbuhan. Ikan peyang memiliki harga jual yang sangat tinggi ketimbang keempat spesies Channa sp. tangkapan nelayan.

Peyang tidak lagi dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi, tapi ikan hias. Harga jual peyang berbobot 1 kg Rp200.000—Rp300.000 per ekor. Kepopuleran peyang sebagai ikan hias berlangsung sejak 2017 lantaran keelokan tubuhnya. Pemerintah harus sigap melihat tren itu untuk menghindari perdagangan ilegal. Pendistribusian ikan konsumsi sebagian besar dilakukan dalam kondisi segar.

Nelayan mengolah dan menjual ikan asin ketika pasokan ikan melimpah.

Nelayan berperan sebagai produsen tingkat I yang menjual hasil tangkapan kepada konsumen tingkat I hingga III yang terdiri dari masyarakat konsumen serta pedagang dan penampung ikan. Penjualan ikan dilakukan di sekitar Kota Palangkaraya dan Kabupaten Pulangpisau, sedangkan para penampung ikan datang dari kawasan yang lebih jauh seperti Kabupaten Katingan.

Salambau ditarik dengan bantuan katrol ketika ikan berkumpul.

Saat ikan melimpah nelayan mengolah dan menjual ikan asin. Penangkapan ikan Channa sp. sepenuhnya masih mengandalkan stok dari alam sehingga keberadaannya harus terus diperhatikan. Pemanfaatan sumber daya ikan harus diiringi dengan pelestarian lingkungan. Kegiatan konservasi sangat mudah dilakukan jika melibatkan masyarakat lokal. Sungai Sebangau salah satu sungai yang melintasi Taman Nasional Sebangau (TNS).

Ekosistem sungai merupakan wadah penyimpan sumber daya akuatik seperti jenis ikan air tawar. Kelimpahan ikan di Sungai Sebangau dimanfaatkan secara tinggi melalui kegiatan perikanan tangkap oleh nelayan setempat seperti Mang Bahran. Nelayan berkegiatan di wilayah penangkapan yang masuk ke dalam zona pemanfaatan. Nelayan Sebangau mendiami tepi sungai jauh sebelum Sungai Sebangau masuk ke dalam kawasan konservasi TNS.

Mereka bertahan hidup dengan membangun rumah panggung secara temporer dan permanen. Perjalanan menuju pondok nelayan tidak semudah yang dibayangkan. Penulis dan tim harus memasuki kawasan hutan Sebangau untuk menuju hilir sungai. Perjalanan dilakukan melalui jalur darat dan air dengan bantuan tim lapangan World Wildlife Fund (WWF) Kalimantan Tengah.

Tumbuhan rasau bermanfaat secara ekologi sebagai tempat perlindungan dan pemijahan ikan.

Perjalanan diawali melalui jalur darat menggunakan mobil dari Kota Palangkaraya menuju dermaga Kereng Bengkira selama sekitar 45 menit. Selanjutnya penulis dan tim menyusuri sungai menggunakan perahu menuju kawasan hutan dengan waktu tempuh 1,5—2 jam. Jauhnya lokasi pondok nelayan dari wilayah perkotaan membuat kami harus menginap di camp WWF Kalimantan Tengah di tepi aliran sungai.

Ledakan lumut akibat cuaca ekstrem menghambat baling-baling perahu motor sehingga menyulitkan nelayan menangkap ikan.

Tujuannya memudahkan proses pengambilan informasi yang dilakukan selama 2 pekan sebanyak 2 kali. Semua perbekalan untuk bertahan hidup di sungai sudah dipersiapkan. Setelah sampai di markas kami melakukan adaptasi lingkungan untuk menyiapkan diri berkunjung ke pondok nelayan. Satu per satu pondokan kami datangi dengan bantuan perahu motor. Kami menemui 30 orang nelayan Sebangau.

Semuanya memilih profesi nelayan sebagai pekerjaan utama. Nelayan Sebangau didominasi oleh kaum laki-laki. Hanya 3 orang perempuan yang melakukan pekerjaan mencari ikan. Usia rata-rata nelayan 36—45 tahun. Faktor usia tentunya sangat memengaruhi kinerja kerja dan pendapatan harian. Profesi itu mengandalkan aktivitas fisik yang membutuhkan tenaga besar. Sebagian besar nelayan penduduk lokal atau penduduk yang berasal dari Kalimatan Tengah. Adapun penduduk pendatang didominasi oleh masyarakat Kalimantan Selatan. (Sifa Nurseptiani, S.Pi., mahasiswi pascasarjana bidang pengelolaan sumber daya perairan di Institut Pertanian Bogor)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img