Sunday, June 7, 2026

Teknologi AWS Bantu Petani Prediksi Cuaca Secara Presisi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Petani kerap menghadapi ketidakpastian cuaca saat menanam padi. Pagi hari cuaca tampak cerah, tetapi beberapa jam kemudian hujan turun deras. Kondisi itu membuat kegiatan tanam, pemupukan, hingga penjemuran hasil panen sering terkendala.

Kini petani padi di Dusun Kedungpoh Kidul, Desa Kedungpoh, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mampu membaca prakiraan cuaca secara lebih akurat. Mereka memperoleh hibah alat Automatic Weather Station (AWS), inovasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menghadirkan jaringan AWS berbasis komunitas.

Alat itu dipasang oleh mahasiswa yang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) di kawasan Lumbung Mataraman, Desa Kedungpoh. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, Dr. Idung Risdiyanto, S.Si., M.Sc., setiap unit AWS mampu mencatat parameter cuaca utama secara otomatis setiap lima menit.

Parameter yang tercatat meliputi suhu udara, curah hujan, kelembapan relatif, radiasi matahari, titik embun, tekanan udara, hingga kecepatan angin. Data tersebut selanjutnya tersimpan di server berbasis cloud dan dapat diakses secara daring melalui portal www.sinoptik.ipb.ac.id dan map.sinaubumi.org.

Menurut Idung, sistem itu memanfaatkan teknologi internet of things (IoT) sehingga memungkinkan pengiriman data secara real time dari berbagai wilayah di Indonesia tanpa intervensi manual. Data yang terkumpul bukan hanya untuk pemantauan cuaca, tetapi juga menjadi dasar pembangunan model prediksi cuaca spesifik lokasi berbasis machine learning dan IoT.

“Sistem ini mampu menghasilkan prakiraan cuaca jangka pendek yang sangat berguna bagi petani,” ujar Idung.

Analisis cuaca tersebut membantu petani menentukan jadwal tanam, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen secara lebih tepat. Sistem itu juga mendukung peringatan dini terhadap ancaman penyakit tanaman dan serangan organisme pengganggu tanaman.

Keberadaan data cuaca real time membuat petani lebih adaptif menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Hingga kini teknologi AWS komunitas telah diterapkan di sekitar 100 wilayah di Indonesia yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, dan Bali.

Selain AWS, IPB juga mengembangkan teknologi pertanian modern lain seperti pemanfaatan dron untuk penyemprotan pupuk dan pestisida otomatis, pemetaan lahan presisi, hingga deteksi penyakit tanaman. Pengembangan itu dilakukan melalui kolaborasi Tani Nelayan Center (TNC), Fakultas Pertanian, serta pelatihan pilot dron profesional.

IPB juga menyediakan platform digital pertanian bernama Digitani. Aplikasi itu menjadi media komunikasi yang menghubungkan petani dengan para pakar IPB. Hingga kini Digitani telah menjangkau 33 provinsi dengan sekitar 15.000 petani yang terhubung secara digital untuk belajar dan berkonsultasi mengenai persoalan pertanian.


Artikel Terbaru

Cangkang Udang Jadi Sumber Astaxanthin Bernilai Tinggi

Cangkang udang yang selama ini terbuang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Melalui inovasi berbasis bioteknologi, limbah tersebut...

More Articles Like This