Friday, January 16, 2026

Teknologi Demi Pertanian Bergengsi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Kehadiran inovasi di sektor pertanian sangan membantu petani. Efisiensi waktu, biaya, dan tenaga pun bisa didapatkan petani. Itulah yang dirasakan oleh Kris Suprantan.

Semula Kris Suprantan membutuhkan waktu hingga 10 jam untuk menyemprot pestisida di lahan padi miliknya seluas 7.500 m². Biaya upah tenaga kerja untuk sekali penyemprotan itu Rp250.000. Dalam semusim ada 2—3 kali penyemprotan.

Total jenderal Kris Suprantan merogoh kocek Rp500.000—Rp750.000 untuk biaya penyemprotan.Namun, petani di Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu hanya mengeluarkan biaya tenaga kerja Rp175.000. Jika dalam sehektare Rp200.000— Rp250.000 untuk penyemprotan.

Waktu semprot pun singkat hanya 15—20 menit. Musababnya Kris Suprantan menggunakan drone penyemprotan—kendaraan udara tanpa awak. Hasil penyemprotan merata dan efisien.

Ia menyewa drone itu dari PT Bayer Indonesia. Kris Suprantan tinggal menunggu hasil penyemprotan pestisida karena ada operator berlisensi yang menerbangkan drone. Menggunakan drone juga menghemat penggunaan air.

Pasalnya hanya membutuhkan 30 liter air per ha untuk penyemprotan memakai drone. Bandingkan dengan penyemprotan manual yang menghabiskan 250—300 liter air per ha. Lebih dari 200 pengguna setara 1.000 ha lahan yang memanfaatkan drone komersial Bayer itu sejak peluncuran.

Transformasi pertanian dengan teknologi drone salah satu inovasi PT Bayer Indonesia. Inovasi teknologi yang revolusioner menjadi tonggak penting dalam ketahanan pangan.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud, mengatakan, kemajuan negara sangat bergantung pada pilar inovasi dan adaptabilitas.

Merangkul kemajuan teknologi di bidang pertanian tidak hanya mengamankan sumber pangan, tetapi juga membentuk masa depan Indonesia yang lebih makmur. PT Bayer Indonesia berperan meluncurkan inovasi di bidang pertanian.

Bayer mendirikan pusat riset dan pengembangan (research and development, R&D) seluas 9 hektare (ha) di Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Perusahaan global dengan kompetensi di bidang life science itu bekerja sama dengan petani setempat dengan komoditas padi dan hortikultura seperti cabai, jagung, dan terung. Bayer Juwiring Agriculture Research and Academy (Juara) memiliki visi untuk menjadi pusat inovasi solusi pertanian yang komprehensif.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img